Blog of Basyral Hamidy Harahap

28 January

IHWAL KELAHIRAN GREGET TUANKU RAO

KARYA BASYRAL HAMIDY HARAHAP TERBITAN KOMUNITAS BAMBU

(Catatan Kecil untuk Ahli Waris MOP)




Berangkat dari berita diskusi Perang Paderi di Arsip Nasional 22 Januari 2008, ahli waris MOP menanyakan soal pengakuan Basyral Hamidy Harahap penulis buku Greget Tuanku Rao, komunitas Bambu, 2007, di forum diskusi itu ihwal asbabul nuzul bukunya. Basyral Hamidy Harahap mengatakan bahwa bukunya berasal dari kata pengantar buku Tuanku Rao karya MOP yang tidak jadi dipakai. Pasalnya, ahli waris menolak buku papinya diterbitkan ulang dengan pengantar. Maka pengantar itu pun kemudian diminta diluaskan oleh penerbit hingga menjadi buku.

Sebab itu disini, saya JJ Rizal, mewakili Komunitas Bambu, mencoba mendudukan persoalan itu agar menjadi lebih jembar dan tidak menimbulkan salah paham.

Pada 16 November 2006, dalam sebuah acara Pekan Sejarah I di FIB UI yang diselenggarakan Komunitas Bambu, Onghokham Institut dan FIB UI, seorang pembicara Adji Damais menyarankan kepada saya sebagai orang Komunitas Bambu untuk menerbitkan buku Tuanku Rao karya MOP. Di depan peserta seminar ia katakan, “Itu buku cerita yang menarik juga kontroversi. Penerbitan ulang di jaman ilmu sejarah telah berkembang tentu akan memberikan nuansa lain”, katanya. Tetapi ia menggaris bawahi usulnya itu, supaya dalam penerbitan baru itu sebaiknya buku cerita itu diberi pengantar oleh seorang ahli mengenai Islam di daerah Batak.

Saat itu juga, saya langsung berdiri dan menyatakan: “Sudah disiapkan Pak, tinggal mencari ahli warisnya”. Kemudian Pak Adji menyatakan akan membantu juga mencarikan jalan untuk menemukan ahli waris MOP. Sayang ia tak berhasil membantu menemukan sang ahli waris MOP.

Meski demikian saya sangat setuju dengan saran Pak Adji. Kalau hendak menerbitkan ulang buku itu memang sebaiknya diberi pengantar oleh seorang ahli tentang Islam dan Batak. Saya sadar betul bahwa bagaimanapun harus pandai-pandai memainkan sisi idealis dan komersial. Dari segi komersial, tentu saja buku itu dengan kontroversi dan mitos pelarangannya, sudah mempunyai nilai jual yang tinggi kelak ketika masuk pasar. Bahkan, ia telah mempunya pasar yang telah berjaga dengan “mulut menganga siap mencaplok” begitu turun cetak.
[Read More!]
19:45:27 - rajungan - No comments

27 January

GREGET TUANKU RAO DILARANG ?

LAPORAN DARI SEMINAR SEJARAH PERANG PADERI



GAGASAN

Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Dr. Joko Utomo, dalam pidato pembukaan Seminar Sejarah Perang Paderi 1803-1838 di Gedung ANRI pada tanggal 22 Januari 2008, mengungkapkan bahwa Dr. Saafroedin Bahar adalah penggagas penyelenggaraan seminar ini. Gagasan itu dikemukakan oleh Dr. Saafroedin Bahar dalam pertemuannya dengan Dra. Mona Lohanda dan Dr. Joko Utomo sendiri. Pihak ANRI menerima baik gagasan ini, karena ANRI adalah lembaga yang menyimpan memori kolektif bangsa, penyimpan sumber-sumber sejarah yang otentik dan kredibel serta memberikan akses seluas-luasnya kepada peneliti, masyarakat untuk kepentingan pemerintahan, pembangunan, penelitian, ilmu pengetahuan, kemasyarakatan demi kemaslahatan bangsa.

Di bagian lain sambutannya, Dr. Joko Utomo mengemukakan bahwa sudah sejak lama ada perdebatan tentang Tuanku Rao. Pada bulan Juli 1969 diselenggarakan seminar di Padang yang menampilkan dua pembicara utama yang berdebat seru, ialah Hamka dan Mangaraja Onggang Parlindungan (MOP) berkaitan dengan buku yang ditulis oleh MOP berjudul Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali Di Tanah Batak 1816-1833 yang diterbitkan oleh Penerbit Tandjung Pengharapan di Jakarta tahun 1964.

Sepuluh tahun kemudian Hamka menerbitkan buku sanggahannya terhadap buku yang ditulis oleh MOP itu berjudul Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao: Bantahan terhadap tulisan-tulisan Ir. Mangaradja Onggang Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao, yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang di Jakarta pada tahun 1974.

Dr. Joko Utomo juga mengemukakan bahwa, G. Teitler menyusun buku Het Einde van de Padrie-oorlog: Het beleg en de vermeestering van Bonjol 1834-1837: Een bronnenpublicatie yang diterbitkan oleh De Bataafsche Leeuw di Amsterdam pada tahun 2004.

Menurut Dr. Joko Utomo, hal itu mencuat kembali setelah buku Tuanku Rao karya MOP diterbitkan oleh LKIS Bantul pada bulan Juni 2007, dan terbitnya karangan Basyral Hamidy Harahap berjudul Greget Tuanku Rao yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu di Depok pada bulan September 2007.

Redaksi Majalah TEMPO menganggap masalah ini sangat serius, maka Majalah TEMPO nomor 34, 15-21 Oktober 2007 memuat tulisan berjudul “Kontroversi Kebrutalan Kaum Paderi”.
[Read More!]
05:30:59 - rajungan - No comments

07 January

BERITA BUKU

Ada buku-buku saya yang lain dengan harga termasuk ongkos kirim. Buku akan saya kirim setelah saya menerima melalui fax: 021-4891041 fotokopi bukti pembayaran ke rekening saya di Bank Mandiri Cabang Jakarta, Rawamangun, Pemuda No. 0060001282452 sbb.:

1984
Perjalanan : Kumpulan Puisi. – Jakarta : Puisi Indonesia. – 62 hal. Rp. 20.000,--

1987
Orientasi Nilai-Nilai Budaya Batak : Suatu Pendekatan Terhadap Perilaku Batak Toba dan Angkola Mandailing / Basyral Hamidy Harahap dan Hotman M. Siahaan. – Jakarta : Sanggar Willem Iskander. – xiv, 241 p. – ISBN 979-8067-00-9. Harga Rp. 50.000,--

2003a
Aceh di mata DR. Piekaar. – Jakarta : Hambali Swadaya Putra. – 44 hal. – (ISBN 979-97693-02. Harga Rp. 15.000,--

2003b
Pemerintah Kota Padangsidimpuan menghadapi tantangan zaman. - Padangsidimpuan : Pemerintah Kota Padangsidimpuan. - 241 hal. - (ISBN 979-98049-0-6). Harga Rp. 50.000,--

2004a
Madina Yang Madani: Pemerintah Kabupaten Madina membangun masyarakat yang madani: suatu studi perbandingan. – Cet. 1. – Panyabungan : Pemkab Madina. – 424 [62] hal. – (ISBN 979-98376-0-X). Harga Rp. 75.000,--

2004b
Siala Sampagul : nilai-nilai luhur budaya masyarakat Kota Padangsidimpuan. - Padangsidimpuan : Pemerintah Kota Padangsidimpuan. - xvi, 203 hal. - (ISBN 979-98049-1-4). Harga Rp. 50.000,--

2005a
Fakta dan angka: Statistik pendidikan Kabupaten Mandailing Natal 2005. – Panyabungan : Dinas Pendidikan Madina. – xii, 88 hal. – (ISBN 979-99704-0-7). Harga Rp. 35.000,--

2005b
Rakyat mendaulat Taman Nasional Batang Gadis. – Panyabungan : Pemkab Madina. – xvi [16], 132 hal. – (ISBN 979-98376-1-8). Harga Rp. 45.000,--

2002
Iskander, Willem
Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk / oleh Willem Iskander ; pengantar dan terjemahan oleh Basyral Hamidy Harahap. – Edisi ketiga Dwi Bahasa. – Jakarta : Sanggar Willem Iskander. – xi, 109 hal. – (ISBN 979-8067-01-0). Harga Rp. 20.000,--
19:43:01 - rajungan - No comments

25 December

MARTABE



MARTABE


OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP



Pengantar
Martabe adalah istilah yang populer di Sumatera Utara sejak tahun 1988. Kata itu merupakan singkatan dari kalimat dalam bahasa Angkola-Mandailing dan Batak Toba Marsipature Hutana Be, artinya membangun kampung masing-masing. Kata tersebut dipopulerkan oleh Gubernur Sumatera Utara, Raja Inal Siregar, pada tahun pertama masa baktinya yang pertama, 1988, dengan melembagakannya menjadi Gerakan Pembangunan Desa Terpadu Marsipature Hutana Be.

Martabe merupakan bagian dari proses demokratisasi masyarakat. Masyarakat mempunyai peluang mengamalkan nilai-nilai luhur budayanya dalam proses pembangunan. Dengan Martabe, kekuatan solidaritas didorong untuk bangkit. Serentak dengan bangkitnya kekuatan solidaritas itu, bangkit pula kesadaran kritis yang mampu mendorong sinergi gerak pembangunan di antara sesama anggota komunitas masyarakat dengan pemerintah sebagai tuan rumah pembangunan.

Asal muasal istilah Martabe, bermula dari suatu seminar kebudayaan Batak di Bandung pada bulan Desember 1986 yang disponsori oleh Panglima Divisi Siliwangi Mayjen. TNI Raja Inal Siregar. Saya adalah salah seorang peserta seminar itu. Usai seminar, dibentuklah satu tim beranggotakan 12 orang yang bertugas menilai kelayakan penerbitan semua makalah seminar itu. Saya termasuk di antara Tim 12 orang itu. Tim ini berkesimpulan bahwa semua makalah tidak layak diterbitkan. Maka, kepada anggota Tim 12 ditugaskan untuk menulis karangan sendiri yang kiranya layak diterbitkan.

Ternyata Tim 12 tidak berhasil menulis karangan masing-masing. Tim 12 bubar. Sebagai gantinya dibentuk Tim 4 beranggotakan empat orang yang sebelumnya adalah anggota Tim 12, ialah: saya sendiri, Basyral Hamidy Harahap, dari Perwakilan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) di Indonesia, Hotman M. Siahaan dari Universitas Airlangga, Usman Tampubolon dari Universitas Gajah Mada, dan Ponpon Harahap dari Universitas Padjadjaran. Tim 4 bekerja menulis masing-masing karangannya. Tim 4 beberapa kali bertemu di Jakarta dan Bandung untuk merembukkan dan menulis karangan masing-masing. Tetapi ternyata, hanya dua orang yang berhasil menulis naskah buku, ialah saya sendiri dan Hotman M. Siahaan.
[Read More!]
05:00:45 - rajungan - No comments

GREGET TUANKU RAO


PROLOG


Bercengkerama dengan Mangaraja Onggang Parlindungan (MOP) adalah pengalaman yang mengesankan. Saya pernah bertemu dengan MOP pada awal tahun 1970-an dalam perbualan di rumah abang saya Amir Husin Siregar di bilangan Tulodong Bawah, Jakarta Selatan. Hadir dalam perbualan itu Amir Husin Siregar, MOP dan Ir. Amru Baghwie.

Ir. Amru Baghwie lahir dan besar dalam kalangan intelektual Sipirok. Ayahnya, Dr. Abdul Rasyid dan pamannya Abdul Firman gelar Mangaraja Soangkupon, adalah anggota Volksraad (Dewan Rakyat) di Batavia. Soangkupon, seorang yang terkenal di zaman pergerakan sebagai anggota Dewan Rakyat mewakili Sumatera Timur (Noer, 1996:180-181). Soangkupon, adalah anggota Perhimpoenan Indonesia di Negeri Belanda (Poeze:1986:75, 78, 80, 88, 281, 303), dan teman seperjuangan anak Betawi, Muhammad Husni Thamrin, yang sangat gigih membela nasib kuli kontrak di Tanah Deli.

Saya pernah membawa Lance Castles ke alamat ini untuk bertemu dengan Ir. Amru Baghwie, 1970, salah seorang nara sumber Lance Castles ketika menyiapkan disertasinya The Political Life of a Sumatran Residency: Tapanuli 1915-1940.
Kelak Dr. Lance Castles meminta saya menulis Pengantar Edisi Indonesia disertasi yang dipertahankannya di Yale University pada tahun 1972 tersebut. Kepustakaan Populer Gramedia, menerbitkan Edisi Indonesia tahun 2001 di bawah judul Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera: Tapanuli 1915-1940.
[Read More!]
02:39:34 - rajungan - No comments

24 December

WILLLEM ISKANDER (1840-1876)


WILLEM ISKANDER (1840-1876):
PELOPOR PENDIDIKAN DARI SUMATERA UTARA



OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP
http://basyral-hamidy-harahap.com
Blog of Basyral Hamidy Harahap
basyralharahap@centrin.net.id



Sati Nasution gelar Sutan Iskandar

Baginda Mangaraja Enda, generasi III Dinasti Nasution, mempunyai tiga orang isteri yang melahirkan raja-raja Mandailing. Isteri pertama boru Lubis dari Roburan yang melahirkan putera mahkota Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar. Baginda Mangaraja Enda menobatkan Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar menjadi raja di Hutasiantar dengan kedudukan yang sama dengan dirinya.
Isteri kedua, boru Hasibuan dari Lumbanbalian yang melahirkan empat orang putera yang kelak menjadi raja. Mereka adalah Sutan Panjalinan raja di Lumbandolok, Mangaraja Lobi raja di Gunung Manaon, Mangaraja Porkas raja di Manyabar dan Mangaraja Upar atau Mangaraja Sojuangon raja di Panyabungan Jae.

Isteri ketiga, boru Pulungan dari Hutabargot yang melahirkan dua orang putera, ialah: Mangaraja Somorong raja di Panyabungan Julu dan Mangaraja Sian raja di Panyabungan Tonga.

Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar menobatkan tiga orang puteranya menjadi raja, masing-masing Baginda Soalohon raja di Pidoli Lombang, Batara Guru raja di Gunungtua, dan Mangaraja Mandailing raja di Pidoli Dolok.

Penobatan tiga putera Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar itu dilakukan menyusul pemberontakan yang dilancarkan raja-raja di tiga daerah tersebut terhadap Baginda Mangaraja Enda. Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar berhasil memadamkan pemberontakan terhadap ayahandanya itu. Sementara itu raja-raja yang berontak eksodus bersama sebagian rakyatnya ke daerah pantai dan pedalaman Pasaman.

Ada tiga tokoh penting dalam generasi XI Dinasti Nasution. Pertama, Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar, yang biasa disingkat menjadi Yang Dipertuan. Tokoh ini dikenal sebagai raja ulama yang namanya banyak disebutkan oleh Multatuli di dalam karyanya Max Havelaar. Belanda menjulukinya Primaat Mandailing. Yang Dipertuan membantu kompeni melawan pasukan Paderi. Tokoh inilah yang bekerjasama dengan Asisten Residen Mandailing Angkola, 1848-1857, Alexander Philippus Godon (1816-1899), merancang dan membangun mega proyek jalan ekonomi dari Panyabungan ke pelabuhan Natal sepanjang kl. 90 kilometer.

Kedua, Sutan Muhammad Natal, yang banyak disebut Multatuli di dalam Max Havelaar dengan nama Tuanku Natal, seorang raja Natal yang muda dan cerdas, sahabat karib Multuli ketika menjabat Kontrolir Natal (1842-1843).
[Read More!]
21:50:55 - rajungan - No comments

HOLONG MANGALAP HOLONG


HOLONG MANGALAP HOLONG:
DAKWAH ALA MANDAILING


OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP

http://basyral-hamidy-harahap.com
Blog of Basyral Hamidy Harahap
basyralharahap@centrin.net.id


Kilas Balik

Tujuh abad yang lalu, Majapahit sudah mengenal Mandailing sebagai salah satu daerah yang terpenting di wilayah kerajaan Melayu. Hal ini diungkapkan oleh Mpu Prapanca, sejarawan Majapahit, di dalam buku Negarakertagama, bertarikh 1365 Masehi. Buku ini telah diterjemahkan oleh Prof. Theodore G. Th. Pigeaud di bawah judul Java in the 14th Century: A Study in Cultural History the Negara-Kertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 A.D. (1960-1962). Mpu Prapanca menyebutkan pada syair ke-13, bahwa Mandailing adalah salah satu daerah utama dan terpenting dari sejumlah daerah di Nusantara. Hal itu disebutkannya dalam kalimat ksoni ri Malayu dan kalimat bhumi malayu satanah kapwamateh anut yang diterjemahkan oleh Prof. Pigeaud sebagai the principal ones are all those that belong to the country of Malayu dan the most important ones of those belonging to the country of Malayu. Ada tiga daerah di kawasan Tapanuli Bagian Selatan yang disebutkan sebagai daerah yang utama dan terpenting itu ialah Mandailing, Padang Lawas dan Pane.
Daerah-daerah yang disebutkan pada syair 13 stanza 1 adalah: Jambi, Palembang, Karitang, Teba, Kandis, Kawhas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar, Pane, Kampe, Haru, Mandailing, Tumihang, Pereulak dan Barat. Pada syair 13 stanza 2 terdapat daerah-daerah: Padang Lawas, Samudra, Lamuri, Batan, Lampung, Barus, Pulau Tanjung Nagara (Kalimantan?) ialah Kapuhas, Katingan, Sampit, Kuta Lingga, Kuta Waringin, Sambas dan Lawai.
Prof. Mr. Muhammad Yamin menyebutkan, bahwa seluruh tempat yang disebutkan oleh Mpu Prapanca di dalam Negarakertagama itu adalah Tumpah Darah Nusantara (Yamin, 1959, I:138).
[Read More!]
11:32:57 - rajungan - No comments

POLEMIK GREGET TUANKU RAO


POLEMIK GREGET TUANKU RAO

Pengantar
Saya membacakan makalah berjudul Holong Mangalap Holong pada Seminar Holong Mangalap Holong: Prinsip Dakwah Masyarakat Mandailing, Program Pasca Sarjana IAIN Sumatera Utara, Medan, 17 November 2007. Seminar ini juga merupakan bedah buku saya Greget Tuanku Rao.
Makalah saya telah mendapat tanggapan dari H. Kosky Zakaria, dosen pasca sarjana IAIN-SU, bidang studi komunikasi Islam, yang hadir pada seminar itu. H. Kosky Zakaria mengundang saya untuk berpolemik di Harian Waspada seperti tersurat dan tersirat di dalam artikelnya yang dimuat Harian Waspada 27 November 2007. Artikel tersebut telah saya tanggapi di harian yang sama pada tanggal 8 Desember 2007. Sebagai bahan pencerahan, kedua tulisan itu saya muat di dalam Blog ini.
Sekiranya ada lagi artikel lain yang masuk ke gelanggang polemik ini, saya dengan senang hati menanggapinya dan akan saya muat lagi di dalam Blog ini. Salah seorang yang sudah menyatakan akan memasuki kancah polemik ini adalah Suryadi. Walaupun ia memakai nama Jawa, tak diragukan bahwa ia adalah orang Minang asli. Suryadi seorang filolog, ahli syair, kaba dan tambo Minang, dosen di Universitas Leiden. Skripsi S1 di Unand 1991 berjudul Dendang Pauah dan tesis S2 di Universitas Leiden 2002 berjudul Syair Sunur. Suryadi memberitahukan kepada saya bahwa ia telah mengirimkan artikelnya kepada redaktur Harian Waspada. Tetapi saat artikel H. Kosky Zakaria dan artikel saya diluncurkan di Blog ini, artikel tersebut belum dimuat oleh Harian Waspada. Saya yakin, bahwa polemik ini besar manfaatnya untuk merentang benang merah kebenaran.

Basyral Hamidy Harahap
[Read More!]
10:45:45 - rajungan - No comments

26 November

BIARKANLAH SUMATERA UTARA TETAP UTUH


BIARKANLAH PROPINSI SUMATERA UTARA TETAP UTUH SEPERTI SEKARANG



Pengantar: Artikel ini dimuat dalam Jurnal Otonomi Daerah, vol. I, no. 6, Juni 2002, halaman 44


Pembentukan suatu propinsi bukanlah semata-mata berdasarkan sumber daya alam dan sumber daya manusia saja. Tetapi perlu ada pertimbangan-pertimbangan yang mendalam tentang sosio kultural, perilaku dan mentalitas masyarakatnya. Sehingga harus jelas dan terukur keterjaminan kehidupan masyarakatnya yang harmonis seraya tetap meningkatkan semangat kebangsaan, persatuan dan kesatuan. Demikian Basyral Hamidy Harahap, Sekretaris Yayasan Adam Malik, pengamat dan penulis buku-buku nilai budaya Batak, mengemukakan dalam suratnya kepada Menteri Dalam Negeri belum lama ini, sehubungan dengan adanya gerakan-gerakan sekelompok kecil orang untuk pembentukan Propinsi Tapanuli dan Propinsi Sumatera Timur.
[Read More!]
03:42:08 - rajungan - No comments

25 November

WAWANCARA DENGAN SHIGETADA NISHIJIMA

SHIGETADA NISHIJIMA, SAKSI PERUMUSAN NASKAH PROKLAMASI


Basyral Hamidy Harahap

Pengantar dari penulis:
Artikel ini dimuat oleh Harian KOMPAS edisi 16 Agustus 2001, halaman 28 kolom 1 s.d. 9 yang disalin kembali seperti di bawah ini dengan koreksi nama Shigetada Nishijima yang di KOMPAS tertulis Sigetada Nishijima.


SAYA merasa beruntung mendapat peluang mewawancarai satu-satunya saksi hidup peristiwa bersejarah perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dia adalah Shigetada Nishijima (90), yang kini hidup bersama isterinya di suatu apartemen di Tokyo. Pertemuan kami berlangsung dalam suasana kekeluargaan yang kental. Ini merupakan wawancara saya yang kedua dengan Nishijima. Pertama, pada bulan November 1990 di kediaman Nu. Adam Malik di Jalan Diponegoro 29, Jakarta Pusat. Kedua, tanggal 10 Oktober 2000 di Meguro-ku, Tokyo.



[Read More!]
22:31:37 - rajungan - No comments

20 November

PROVINSI TAPANULI

Harian Umum Batak Pos, 11 November 2006, halaman 2 kolom 2, 3, 4.


Diskusi Pembentukan Provinsi Tapanuli

BERPOTENSI MEMECAH HARMONI

Dalam diskusi di Medan, muncul pendapat yang mengkhawatirkan Provinsi Tapanuli justru akan memecah hubungan antaretnik di Sumut yang sudah harmonis.


Medan, Batak Pos
Sesungguhnya Provinsi Sumatera Utara adalah miniature Indonesia. Di dalamnya terdapat beraneka suku, agama, tradisi, bahasa, arsitektur, kebudayaan, dan lainnya. Semua komponen itu hidup harmonis sampai kini. Namun ia bisa berantakan hanya gara-gara wacana pembentukan Provinsi Tapanuli.

Pendapat ini dikemukakan akademisi asal Jakarta Basyral Hamidy Harahap dalam Seminar Nasional tentang Provinsi Tapanuli yang digagas oleh sebuah surat kabar nasional di Hotel Danau Toba Medan, Jumat (10/11).

“Keharmonisan di Sumatera Utara sebagai daerah yang paling aman dari kerusuhan sara, bisa terusik. Sebab pembentukan Provinsi Tapanuli akhirnya akan menimbulkan persaingan tidak sehat di kalangan komunitas Batak, ” kata Hamidy.

[Read More!]
23:40:51 - rajungan - No comments

19 November

DISKUSI PEMBENTUKAN PROVINSI TAPANULI

BEDAH BUKU DISERTASI DR. LANCE CASTLES:

KEHIDUPAN POLITIK SUATU KERESIDENAN DI SUMATRA: TAPANULI 1915-1940

Di Hotel Danau Toba, Medan, 10 November 2006

BASYRAL HAMIDY HARAHAP
http://basyral-hamidy-harahap.com



PENGANTAR

Pada tahun 2000 sudah terdengar gagasan pembentukan Provinsi Tapanuli. Sebelumnya gagasan seperti itu mulai timbul setelah Dr. Lance Castles mempertahankan disertasinya di Yale University pada tahun 1972 berjudul The Political Life of a Sumatran Residency: Tapanuli 1915-1940. Gagasan itu lahir dari pemikiran bahwa sudah ada beberapa keresidenan yang dimekarkan menjadi propinsi.

Pertengahan tahun 2001 Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dan DR. Lance Castles meminta saya menulis Kata Pengantar edisi Bahasa Indonesia terjemahan dari disertasi DR. Lance Castles berjudul asli The Political Life of a Sumatran Residency: Tapanuli 1915-1940. KPG menyerahkan naskah edisi Bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh Prof.Dr. Maurits Simatupang, di bawah judul <i>Kehidupan Politik Sebuah Keresiden: Tapanuli 1915-1940. DR. Lance Castles mengetahui bahwa saya memiliki teks asli disertasi ini, dan melalui telepon dari Yogyakarta DR. Lance Castles meminta saya untuk memberikan fotokopi halaman 269 yang tidak dimiliki oleh KPG.

Dalam surat saya kepada Bung Parakitri dari KPG ketika mengirimkan halaman 269 itu, saya minta agar judul edisi Bahasa Indonesia dikoreksi menjadi Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatra: Tapanuli 1915-1940.

Semula saya menolak menulis Pengantar itu, karena adalah lazim bahwa penulis Pengantar lebih jago dari penulis buku yang bersangkutan. Sedangkan saya pastilah tidak lebih jago dari DR. Lance Castles yang punya nama dalam jajaran ahli Indonesia. Tetapi DR. Lance Castles dan KPG tetap meminta saya menulis Pengantar itu. Hasilnya adalah seperti yang Anda baca sendiri. Pada halaman judul buku itu DR. Lance Castles menulis di atas tanda tangannya ketika buku ini diluncurkan di Jakarta pada tanggal 22 November 2001 sebagai berikut: Terima kasih Pak Basyral.

Rupanya disertasi DR. Lance Castles ini termasuk buku yang istimewa. Istimewa karena dibedah dua kali. Pertama 22 November 2001 usai peluncurannya di Hotel Grand Melia, Kuningan, Jakarta Selatan. Kemudian, sekarang, setelah enam tahun buku itu diluncurkan dan dibedah bersama DR. Lance Castles, penerjemah Prof.DR. Maurits Simatupang, saya sebagai penulis Pengantar untuk Edisi Indonesia dan Paraktri Tahi Simbolon dari Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) selaku penerbit, buku ini dibedah lagi pada hari ini 10 November 2006 di Hotel Danau Toba yang megah ini.


[Read More!]
20:44:19 - rajungan - No comments

16 February

PEMBENTUKAN PROVINSI TAPANULI TAK AKAN DIPROSES

Berita Utama

Mendagri:
Rencana Pembentukan Provinsi Tapanuli Tak akan Diproses


Medan, (Analisa)

Menteri Dalam Negeri RI, H Hari Sabarno menegaskan pemerintah tidak akan memproses semua usulan pemekaran daerah, termasuk rencana pembentukan Provinsi Tapanuli. Meskipun, pemekaran tersebut merupakan usulan dan aspirasi masyarakat.

“Saya tegaskan, selama tahun ini tidak akan ada pembahasan untuk pemekaran. Karena, waktu untuk itupun sudah tidak ada lagi. Apalagi, masa DPR-pun sudah akan berakhir,” ujar Mendagri kepada wartawan di Medan, Jumat (10/9).

Hal ini ditanyakan wartawan, sehubungan rencana pembentukan Provinsi Tapanuli sebagai pemekaran Provinsi Sumut yang mencuat belakangan ini, berdasarkan sebahagian aspirasi masyarakat.
[Read More!]
19:24:10 - rajungan - No comments

TRIBALISME: SISI GELAP OTONOMI DAERAH

BASYRAL HAMIDY HARAHAP


Mr. Dzulkarnain: Kita tidak pikir pada Tapanuli, sebab kita belum mengetahui bagaimana pendapatan Tapanuli.
Dr. H.J. van Mook: Saja maksud, bagaimana pikiran orang Batak?
Dr. Nainggolan: Djika Daerah Istimewa Sumatera Timur bediri sendiri, ini berarti kematian Batak.

Itulah petikan notulen dialog Dr. H.J. van Mook dengan tokoh-tokoh Melayu dalam merancang pembentukan Negara Sumatera Timur di Medan tanggal 2 Oktober 1947. Kalimat penuh makna itu patut dijadikan pelajaran dari sejarah, karena sejarah mencatat pertemuan itu merupakan bagian dari gerakan mencabik-cabik bangsa kita.

[Read More!]
08:26:58 - rajungan - No comments

15 February

JA ENDAR MUDA RAJA SURAT KABAR SUMATERA

Oleh Basyral Hamidy Harahap



Raja persuratkabaran Sumatera, Ja Endar Muda juga dikenal dengan nama Haji Muhammad Saleh, lahir di Padangsidimpuan tahun 1861, lulusan Kweekschool Padangsidimpuan tahun 1885. Dia memulai karier gurunya sebagai guru bantu di Air Bangis. Pada saat itulah Ja Endar Muda menjadi editor correspondence majalah bulanan pendidikan Soeloeh Pengadjar yang terbit di Probolinggo pada tahun 1887. Ja Endar Muda kemudian pindah ke Batahan dan Singkil. Dia naik Haji dari Singkil tahun 1892, kemudian sekembalinya dari tanah suci tahun 1893 dia putuskan untuk menetap di Padang.

Ja Endar Muda berpendapat, karier gurunya harus ditingkatkan ke bidang yang lebih luas dan lebih langgeng pengaruhnya. Maka dia pun berhenti dari pekerjaan guru untuk beralih ke bidang persuratkabaran. Dia menjadi editor surat khabar Pertja Barat yang pertama kali terbit tahun 1890 di Padang. Pada tahun 1900 dia menjadi editor dua surat khabar sekaligus. Pertama, Tapian Na Oeli yang diterbitkan di Sibolga sejak tanggal 20 Oktober 1900. Kedua, Insulinde yang diterbitkan di Padang dan beredar di Sumatera dan Jawa. Dia menulis dalam kolom editor tentang tujuan penerbitan berkala ini, yaitu meningkatkan peranan guru dan priyayi untuk mencapai kemajuan bangsa Indonesia.

[Read More!]
16:01:05 - rajungan - No comments