Blog of Basyral Hamidy Harahap
Jump to navigation
18 October
KORBAN PERANG PADRI MINTA PELURUSAN SEJARAH
Kamis, 16 Oktober 2008
20:21 WIB
Pengantar dari saya terhadap berita ini, sbb.:
Tulisan ini diangkat oleh Redaksi KOMPAS Edisi Sumbagut dari artikel yang saya kirimkan 16 Oktober 2008, berjudul Perang Paderi Bukan Perang Agama dan mereka menyiarkannya dalam Kompas.Com di bawah judul Korban Perang Padri Minta Pelurusan Sejarah yang diluncurkan hari Kamis, 16 Oktober 2008, pukul 20.21 WIB. Teks lengkap artikel itu saya luncurkan di Blog saya pada 18 Oktober 2008. Sayangnya, 18 Oktober 2008, KOMPAS Cetak Edisi Sumbagut mengubah artikel itu menjadi Padri: Korban Perang Minta Pelurusan Sejarah dengan menghilangkan kata “gegabah” dalam kritik saya terhadap pendapat pemakalah di Unimed itu yang memandang Perang Paderi sebagai gerakan yang positif dan mengganti kata "memperlihatkan" dengan kata "mengatakan" dua naskah kuno Mandailing kepada Dr. Herman Neubronner van der Tuuk oleh Asisten Residen Mandailing Angkola, Alexander Philippus Godon. Artikel itu adalah hasil riset, liputan tentang peristiwa yang spektakuler dalam sejarah Indonesia. Hal ini perlu saya tegaskan, agar artikel itu jangan dipandang merupakan reaksi pribadi sebagai korban Perang Paderi.*** Basyral Hamidy Harahap.
MEDAN, KAMIS - Polemik soal Perang Padri mendapat tanggapan sejarawan sekaligus mereka yang menjadi korban. Mereka meminta pelurusan sejarah sehingga bisa dipahami secara arif generasi berikutnya. Ada hal-hal dalam Perang Padri yang menyimpan luka mendalam bagi korban perang .
Hal ini disampaikan sejarawan melalui surat elektroniknya yang diterima Kompas, Kamis (16/10) di Medan. Gerakan radikal Padri tidak bisa dipandang sebagai suatu yang positif. Apalagi gerakan radikal Padri dipandang mampu mengisi dan mendinamisasi perubahan sosial saat itu, kata pemerhati sejarah Basyral Hamidi Harahap.
Basyral membantah kesimpulan tersebut. Penilaian terhadap Perang Padri seperti itu dia anggap gegabah. Tragedi kemanusiaan yang luar biasa tidak bisa dinafikan. Bukan saja di wilayah budaya Minangkabau, tetapi juga di Tapanuli, kata penulis buku Greget Tuanku Rao ini.
Menurut dia Perang Padri adalah perang paling lama (1803-1838) dan paling kejam dalam sejarah Indonesia abad ke-19. Mereka bukan saja berupaya menguasai sumber daya ekonomi di luar Minangkabau, tetapi juga menghancurkan memori kolektif dan karya sastra serta perbendaharaan kearifan lokal dengan membakarnya dan membunuh orang-orang arif dan terhormat.
Dalam Perang Padri banyak sekali naskah sejarah yang hilang. Beberapa di antaranya berhasil diselamatkan oleh Asisten Residen Mandailing Angkola (1848-1857), Alexander Philippus Godon. Dia memperlihatkan naskah kuno Mandailing kepada Herman Neubronner van der Tuuk ketika berkunjung ke Panyabungan bulan Maret 1852. Buku berisi berbagai ilmu tentang pertanian, hukum, tradisi, dan pengobatan.
Motivasi
Sampai sekarang, kata mantan peneliti KITLV (pusat kebudayaan Belanda) ini, motivasi pemusnahan naskah kuno itu belum jelas. Basyral sendiri merupakan korban Perang Padri karena nenek moyangnya tewas dalam pertempuran di Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara. Dia sepakat bahwa Perang Padri merupakan perang dagang semata. Penyerbuan Padri ke Sumatera Utara juga terjadi lantaran habisnya logistik di Sumatera Barat.
Respons Basyral ini muncul setelah ada bedah buku berjudul Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri karya Christine Dobbin. Bedah buku ini digelar oleh Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan (Unimed), Selasa (14/10) lalu. Dalam diskusi itu hadir antropolog Unimed Usman Pelly dan Guru Besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumut Nur Ahmad Fadhil Lubis.
Kepala Pussis Unimed, Ichwan Azhari mengatakan perdebatan tentang Perang Padri penting dikembangkan secara akademis. Diskusi ini , katanya, justru semakin bagus untuk meletakkan wacana bahwa sejarah tidak bisa dipandang dari satu sisi saja. Selama ini Perang Padri banyak dilihat dari satu pihak. Belum banyak pendapat ilmiah dari sudut pandang korban perang, katanya.
Dalam persoalan ini, perlu muncul pandangan orang luar seperti pandangan Dobbin tentang Perang Padri. Dikursus tentang ini tidak harus dibatasi oleh masing-masing klaim kebenaran.
17 October
CAHAYA PERTAMA PENERANG SUMATERA
OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP
Judul : Sejarah Sumatra
Judul asli : The History of Sumatra
Penulis : William Marsden
Pengantar : John Bastin
Penerbit : Komunitas Bambu, 2008
Tebal : xxvi, 446 halaman
William Marsden telah melemparkan cahaya ke atas Pulau Sumatera dengan The History of Sumatra, sehingga semua tampak terang di pulau yang sangat penting itu. Itulah pernyataan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles pada 24 April 1813 ketika membuka diskursus dalam acara HUT XXV Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (The Society of Arts and Sciences in Batavia).
William Marsden (1754-1836) adalah seorang sejarawan Inggris terkenal, berdarah Irlandia kelahiran Dublin. Ia anak laki-laki keenam dan anak kesepuluh dari John Marsden, direktur Bank Nasional Irlandia (The National Bank of Ireland). Ia juga ahli bahasa, pakar numismatik dan pelopor ethnohistory Hindia Timur.
Marsden memang seorang yang fenomenal melalui bukunya The History of Sumatra. Edisi pertama buku itu terbit di London 1783, kedua 1784 dan ketiga 1811. Selain menulis The History of Sumatra, Marsden juga menulis dua buku penting lainnya, A Grammar of Malayan Language dan A Dictionary of the Malayan Language yang diterbitkan tahun 1812 di London. C.P.J. Elout –sebelum menjabat Residen dan Komandan Militer Riau kemudian Residen dan Komandan Militer Pantai Barat Sumatera– telah menerjemahkan kedua buku ini ke dalam bahasa Belanda, masing-masing diterbitkan tahun 1824 dan 1825 di Haarlem.
Karya Marsden yang lain adalah Catalogue of Dictionaries, Vocabularies, Grammars and Alphabets, terbit 1796, Numismata Orientalia, terbit di London 1823-1825, beberapa makalah yang dimuat dalam Philosophical Transactions, dan Archaelogia. Marsden juga menerjemahkan kisah perjalan Marco Polo di bawah judul Travels, terbit 1818.
Marsden kembali ke Inggris 1779. Ia menghadiahkan koleksi koin dari negeri timur kepada The British Museum dan koleksi buku-buku dan manuskrip dunia timur kepada King's College, London. Koleksi yang sangat berharga itu kini disimpan di perpustakaan School of Oriental and African Studies, University of London.
Walaupun banyak karya tentang Sumatera, namun karya klasik Marsden itu tetap istimewa. Nama Marsden melambung dan dikenang tak lain karena The History of Sumatra yang telah menjadi rujukan sejagat.
Karya Marsden itu begitu memukau. Sudah 225 tahun, –terhitung dari edisi pertama 1783– pembaca seantero dunia menikmati karya klasik yang monumental itu. Karya Marsden itu sudah teruji dan terbukti sebagai –sekali lagi meminjam Raffles– “cahaya … sehingga semua tampak terang di Pulau Sumatera”. Sebab itu pula Oxford University Press mencetak ulang The History of Sumatra pada 1966. Sejarawan kawakan Inggris, John Bastin dari School of Oriental and African Studies, bertindak sebagai editor sekaligus menulis pengantar. Sekarang orang ramai dapat menikmati terjemahan bahasa Indonesia buku ini.
Karya Ensiklopedik
Pada usia 16 tahun Marsden menjadi pegawai Kongsi Dagang Inggris, East India Company (EIC). Kemudian pada usia 17 tahun, 1771, ia mengikuti jejak abangnya, John Marsden (1746-1786) yang menjadi dokter di Lais, Bengkulu. William Marsden ditempatkan di Bengkulu sebagai sekretaris EIC. Abangnya, dokter John Marsden, adalah salah seorang nara sumbernya. Saat itulah ia mulai mengerjakan proyek ambisiusnya yang bersifat ensiklopedik mengenai Sumatera, pulau yang pada zamannya masih begitu pekat diliputi misteri.
Cara kerja Marsden tak ubahnya seorang wartawan yang melakukan liputan pandangan mata sekaligus membuat laporan investigasi yang terinci dan mendalam. Menurut Marsden, kebanyakan orang Sumatera tidak pernah melihat laut, sehingga mereka tidak menyadari bahwa tempat tinggalnya adalah pulau. Marsden sendiri menjelajah kawasan pantai dan pedalaman Sumatera. Ia menceritakan keadaan pulau-pulau kecil di pantai barat dan pantai timur Sumatera. Sebab itu, buku ini boleh disebut sebagai buku sejarah ilmu bumi sosial dan ekonomi yang akurat.
Marsden bercerita tentang karakter orang Sumatera, mulai dari Aceh di ujung utara sampai ke Lampung di selatan. Laporannya cukup terinci tentang berbagai tradisi dan hukum adat di pulau itu. Ia mencatat berbagai kearifan lokal, ekologi, cuaca, sistem angin, sungai, pelabuhan di muara sungai, dataran, bukit, gunung, flora beragam-ragam buah, tanaman obat dan aneka ragam bunga. Digambarkannya berbagai fauna, mulai dari serangga, kura-kura sampai pada burung walet dan sarangnya yang lezat serta berkhasiat. Selain itu ia memaparkan fakta sejarah, kehidupan masyarakat, arsitektur tradisional dan pakaian penduduk Sumatera.
Menurut Marsden, Sumatera memiliki potensi ekonomi sangat kuat, di antaranya komoditi perdagangan baik hasil hutan dan bahan mineral, maupun rempah-rempah yang sejak zaman purbakala menjadi komoditi andalan. Marsden juga mengulas cara-cara bercocok tanam, ekstensifikasi pertanian dan perkebunan penduduk, termasuk cara-cara menangkal dan mengusir hama tanaman. Marsden pun memberikan perhatian khusus pada tradisi, hukum, bahasa, aksara, kebudayaan, penduduk asli Pulau Sumatera dan berbagai masalah yang timbul dalam kontak dengan orang asing.
Marsden menyebutkan, emas berkualitas paling tinggi terdapat di Natal dan Mukomuko. Timah di Bangka diekspor ke Cina. Barang dagangan utama di pulau itu adalah tembaga, besi, belerang, salpater, tripang, lemak lebah, gading, dan telur ikan. Menarik sekali, harga sarang burung layang-layang yang putih bening diekspor ke Cina. Harganya setara dengan harga perak dengan berat yang sama.
Marsden menyebutkan, sumbangan besar saudagar Arab yang menyebarkan agama dan tamadun Islam di daerah ini di antaranya adalah memperkenalkan kalender yang menghitung hari dari peredaran bulan. Sedangkan penduduk asli hanya mengandalkan peredaran musim.
Begitu rincinya, Marsden menjabarkan ihwal setiap orang tua di Sumatera adalah tabib. Mereka melakukan terapi air dan terapi panas matahari. Terapi paling unik adalah pengobatan penyakit gila. Penderita diterapi dengan api. Pasien dibakar di pondok setinggi telinga, kalau pasien berhasil meloloskan diri, berarti ia akan segera sembuh.
Pembicara Ulung
Menurut catatan Marsden, di antara bahasa lokal Sumatera yang terkemuka adalah bahasa Batak, Rejang dan Lampung. Ada kemiripan antara aksara suku Batak dan Rejang. Satu pengecualian terjadi di Aceh, bahasanya sangat berbeda dengan bahasa Melayu. Aceh lebih banyak mengadopsi karakter Arab. Mereka menyadari hal itu. Mereka pun tidak banyak mengklaim originalitasnya.
Paparan tentang Aceh disuguhkan oleh Marsden sepanjang 44 halaman atau 10% dari seluruh halaman buku ini. Lantas 36 halaman tentang Minangkabau dan 26 halaman tentang Batak. Paparan yang terbanyak adalah tentang Bengkulu dan wilayah sekitarnya. Wajar, karena Marsden berdiam di Bengkulu, sehingga lebih banyak mendapat informasi tentang daerah itu.
Menurut Marsden, orang Sumatera umumnya adalah pembicara yang ulung. Kemampuan berorasi tampaknya adalah bawaan mereka. Pantas saja, tidak ada pengacara dalam proses peradilan. Kemampuan ini ditanamkan sejak remaja pada anak-anak mereka dengan cara membiasakan anak-anak mereka duduk mendengarkan perdebatan di lingkaran orang-orang dewasa. Anak-anak kecil ini memiliki hak berbicara yang bahkan sama dengan hak bicara kakeknya sendiri. Mereka berhak dan mampu memberikan pendapat di depan publik.
Beberapa wilayah terpenting di Tanah Batak menurut Marsden adalah Angkola yang dihuni lima suku, Mandailing dihuni tiga suku, Toba dihuni lima suku, Padang Bolak, Silindung dan Singkil. Contoh aksara Batak (baca: Mandailing) yang dicetak oleh Marsden, merupakan yang paling awal dalam sejarah aksara tersebut. Menarik untuk disimak, bahwa menurut Marsden penduduk Pasaman adalah orang Batak (baca: Mandailing) yang telah menganut agama Islam dan orang Melayu. Marsden juga melaporkan keadaan pelabuhan Natal, dan pelabuhan di muara sungai di pantai barat Mandailing itu, seperti Tabuyung dan Kunkun. Tidak terkecuali, disinggung juga cerita tentang kanibalisme di wilayah budaya Batak.
Marsden mulai memasuki Tapanuli pada 21 Juni 1772 dengan naik perahu ke muara Sungai Pinangsori, terus ke Lumut. Marsden dan rombongan disambut meriah dengan 30 kali tembakan salvo.
Pria bule yang belia, yang fasih berbahasa Melayu, tampan, berperawakan atletis, berkumis tipis dengan mengenakan Topi London itu, tiba di Hutaimbaru, pusat Angkola, pada 5 Juli 1772. Ia dijemput dan dielu-elukan oleh putera Kuria Hutaimbaru bersama 30-40 orang hulubalang bersenjata lembing dan senapan locok. Sepanjang jalan para penjemput itu memeriahkan suasana dengan memukul gong dan menembakkan bedil ke udara. Tiba di Hutaimbaru mereka disambut dengan upacara yang semarak. Marsden dengan senang hati menerima undangan Kuria Hutaimbaru untuk bermalam di kampung itu. Pada 7 Juli 1772, putera Kuria Hutaimbaru dengan pasukannya mengawal Marsden meneruskan perjalanan menuju Batang Onang di Barumun.
Melalui rute yang lain, Marsden tiba kembali di pantai barat pada 22 Juli 1772. Begitulah rata-rata sambutan orang Sumatera kepada Marsden. Rahasia sukses Marsden antara lain adalah penguasaan bahasa Melayu, pemahaman berbagai bahasa daerah dan etika di Pulau Sumatera, dan sudah barang tentu sikapnya yang simpatik tanpa pernah melanggar nilai-nilai kepatutan.
Terowongan Waktu
Bagi mereka yang berasal dari Sumatera, buku Sejarah Sumatra ini dapat menjadi rujukan sejarah kampung halamannya. Apalagi, Marsden suka menyebut nama orang yang barangkali adalah tokoh dalam daftar silsilah keluarga mereka. Sedangkan bagi mereka yang bukan orang Sumatera, tapi ingin mengetahui ihwal Sumatera secara cepat dan padat, maka buku ini adalah pilihan yang tepat. Laporan Marsden yang inspiratif sangat berguna bagi mahasiswa jurnalistik, pemerhati pembangunan pedesaan, antropolog, sosiolog, ahli hukum, sejarawan dan peminat laporan perjalanan.
Ada satu kekurangan buku ini, ialah penulisan kata Sumatra tanpa huruf “e” karena mengikuti buku aslinya. Namun, edisi bahasa Indonesia buku Marsden ini benar-benar telah ditangani sedemikian rupa. Sehingga, gaya jurnalistik, citra kesejarahan dalam laporan Marsden tampil sangat kuat. Pemilahan topik di bawah sub judul memudahkan pembaca mencerna penuturan Marsden. Bahkan menjadi semakin afdol, karena penerbit mengambil inisiatif memasukkan banyak gambar sezaman yang tidak ada di dalam buku aslinya sendiri. Ini bukan saja akan menguatkan imajinasi historis pembaca, tetapi lebih jauh lagi, buku ini mampu membawa pembaca memasuki terowongan waktu untuk berkelana di Pulau Sumatera dalam suasana abad ke-18.
(Basyral Hamidy Harahap,
pemerhati masalah sosial budaya Mandaling, penulis buku Greget Tuanku Rao, 2007)
PERANG PADERI BUKAN PERANG AGAMA
OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP
Apa dan Siapa Christine Dobbin
Buku Christine Dobbin (1941-), Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra 1784-1847 pertama kali diterbitkan oleh Curzon Press bekerjasama dengan Scandinavian Institute of Asian Studies, sebagai Monograph Series No. 47 pada tahun 1983. Lembaga ini kemudian berubah nama menjadi Nordic Institute of Asian Studies, disingkat menjadi NIAS. Edisi bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Indonesia Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS) tahun 1992, di bawah judul Kebangkita Islam Dalam Ekonomi Petani yang Sedang Berubah: Sumatra Tengah 1784-1847. Enam belas tahun kemudian, 2008, Penerbit Komunitas Bambu di Depok menerbitkan lagi edisi bahasa Indonesia buku ini di bawah judul Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847.
Judul karya Christine Dobbin tersebut, menegaskan bahwa Christine Dobbin adalah sarjana sejarah yang mengenal dan benar-benar memahami Islam. Saya telah membaca seluruh halaman buku Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847 termasuk kickers. Kalimat panjang 56 kata Prof.Dr. Taufik Abdullah pada halaman kulit IV itu, adalah kutipan dari kumpulan esai Prof.Dr. Taufik Abdullah Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia yang diterbitkan oleh LP3ES 1987.
Setelah membaca dengan tekun buku Christine Dobbin itu, saya berkesimpulan bahwa Perang Paderi sangat sarat dengan perilaku dagang semasa kepemimpinan Tuanku Imam Bonjol. Itu sebabnya judul resensi buku Christine Dobbin tersebut yang dimuat KOMPAS, 27 Juli 2008, menjadi Perang Dagang di Sumatera Barat.
Disertasi Christine Dobbin sendiri adalah tentang kepemimpinan di Kota Bombay, India Barat di bawah judul Urban Leadership in Western India: Politics and Community in Bombay City 1840-1885, diterbitkan di London oleh Oxford University Press, 1972. Sebelumnya, Christine Dobbin sudah menulis sejumlah buku, di antaranya Basic Documents in the Development of India and Pakistan di terbitkan di London oleh Van Nostrand, 1970. Asian Entrepreneurial Minorities: Conjoint Communities in the Making of the World Economy, 1570-1940 diterbitkan di London oleh Richmond, Surrey (Curzon Press Ltd.) yang juga diterbitkan dalam terbitan berseri Scandinavian Monograph Series No. 71, 1996.
Pada tahun-tahun terakhir, Christine Dobbin melakukan riset tentang sejarah gagasan-gagasan (history of ideas) di dunia Timur dan dunia Barat, dan juga tentang hubungan agama dan pembangunan ekonomi. Kini Christine Dobbin adalah salah seorang peneliti di Australian National University di Canberra dan menjadi penasihat Departemen Luar Negeri Australia dalam berbagai masalah yang berkaitan dengan pembangunan di Indonesia.
Sejumlah artikelnya yang lain adalah: Economic Change in Minangkabau as a Factor in the Rise of the Padri Movement 1784-1830 diterbitkan dalam majalah terkemuka tentang studi Indonesia, Indonesia (Cornell University), vol. xxiii (1970). The Exercise of Authority in Minangkabau in the late 18th Century yang dimuat dalam buku suntingan Anthony Reid dan Lance Castles, Pre-Colonial State Systems in Southeast Asia diterbitkan di Kuala Lumpur, 1975. Islamic Revivalism in Minangkabau at the Turn of the Nineteenth Century yang dimuat dalam Modern Asian Studies, vol. viii (1974) di London. Kemudian artikel Tuanku Imam Bonjol (1772-1864) yang dimuat dalam majalah Indonesia (Cornel University) vol. xiii (1972).
Bedah Buku di Unimed
Buku Christine Dobbin Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847 ini dibedah di Unimed pada 14 Oktober 2008. Ikut berbicara dalam seminar itu sebagai pemakalah pertama Prof. Usman Pelly, dan Prof. Nur Ahmad Fadhil Lubis sebagai pemakalah kedua. Sedangkan Prof. Antonius Bungaran Simanjuntak bertindak sebagai pembahas.
Harian KOMPAS Edisi Sumbagut, 15 Oktober 2008 memberitakan, bahwa Prof. Nur Ahmad Fadhil Lubis menyimpulkan bahwa Christine Dobbin kurang memahami Islam. Saya mendapat kesan, bahwa Prof. Nur Ahmad Fadhil Lubis belum membaca buku itu secara tuntas. Karena kesimpulan itu tidak akan muncul dari orang yang sungguh-sungguh membaca buku itu. Pasalnya, kata kunci Islam yang dimunculkan pada judul dan pembahasannya di dalam buku, adalah tentang sejarah masuknya Islam dan keberagamaan orang Minangkabau. Hal itu cukup membuktikan bahwa Christine Dobbin memahami Islam dengan baik.
Apakah dalam setiap pembicaraan tentang pergerakan Islam itu harus disertai keharusan menuliskannya dalam kisah-kisah heroik yang gegap gempita, dan jika tidak, penulisnya jadi kurang memahami Islam?
Sosiolog Prof. Usman Pelly lebih memandang gerakan radikal Padri sebagai suatu yang positif. Katanya, gerakan radikal Paderi tidak hanya mampu mengisi dan mendinamisasi perubahan sosial, tetapi juga memberikan perlindungan dan pengayoman kehidupan ekonomi baru yang mulai berkembang pada saat itu. Dan bahwa, kaum Padri merasa mendapat tugas sejarah untuk memulai sebuah perubahan radikal dari bawah.
Kesimpulan Prof. Usman Pelly ini bukan saja keliru tetapi juga sangat gegabah. Karena ia telah menafikan tragedi kemanusiaan yang luar biasa yang dilakukan oleh kaum Padri, bukan saja di wilayah budaya Minangkabau, tetapi juga di Tapanuli. Perang Padri adalah perang paling lama (1803-1838) dan paling kejam dalam sejarah Indonesia abad XIX. Mereka bukan saja berupaya menguasai sumber daya ekonomi di luar Minangkabau, tetapi juga menghancurkan memori kolektif dan karya sastra serta perbendaharaan kearifan lokal dengan membakarnya dan membunuh orang-orang arif dan terhormat.
Kalau begini cara berpikirnya, apakah kita harus memuji Daendels, penguasa yang telah membangun jalan ekonomi dari ujung ke ujung Pulau Jawa dari Anyer ke Panarukan, sementara proses pembangunannya sendiri menimbulkan tragedi kemanusiaan yang luar biasa?
Penghancuran Tamadun Batak
Asisten Residen Mandailing Angkola (1848-1857), Alexander Philippus Godon, memperlihatkan kepada Dr. Herman Neubronner van der Tuuk ―ketika berkunjung ke Panyabungan bulan Maret 1852―, dua buku besar naskah Mandailing. Buku itu berhasil diselamatkan orang Mandailing dari kebringasan kaum Paderi yang membakari buku-buku di wilayah Tabagsel. Padahal, buku-buku itu berisi berbagai ilmu tentang pertanian, hukum, tradisi, pengobatan dll.
Apa motivasi pemusnahan itu belum jelas, bisa saja disebabkan kebodohan kaum Paderi yang tidak mampu membaca aksara Mandailing, sehingga mereka ingin memusnahkannya. Ini merupakan bagian dari tragedi dan upaya penghapusan tamadun Mandailing. Maklumlah, sampai kini kita belum pernah membaca buku yang beraksara Minangkabau, karena mungkin mereka tak memiliki aksara sendiri.
Menarik penuturan Dr. Herman Neubronner van der Tuuk dalam Een Vorst Onder de Taalgeleerden: Herman Neubronner van der Tuuk Taalafgevaardigde voor Indië van het Nederlandsch Bijbelgenootschap 1847-1873: Een bronnenpublicatie bezorgd door Kees Groeneboer. . - Leiden: KITLV, 2002. - p. 123, bahwa dalam perjalanannya ke Panyabungan pertengahan Maret 1852 itu, ia beristirahat di warung kopi di Aek Sijorni di tepi Batang Angkola di dekat simpang ke kampung Bulu Gading. Van der Tuuk melihat seseorang membaca bagian dari satu buku beraksara Mandailing dalam bahasa Melayu berjudul Hikajat Toeankoe Orang Moeda. Halaman judul buku itu ditulis dengan aksara Arab gundul sedangkan isinya dengan aksara Mandailing berbahasa Melayu.
Beruntung, kecerdasan lokal ini tidak punah secara total, karena masih ada buku beraksara Mandailing yang selamat dari kezaliman kaum Paderi. Sehingga tradisi menulis buku dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan dan humaniora pada orang Mandailing masih berlanjut.
Perang Dagang
Saya sependapat dengan antropolog Prof. Bungaran Antonius Simanjuntak yang mengatakan, bahwa Perang Paderi bukanlah perang agama. Menurut penelitiannya, serbuan kaum Paderi ke Tapanuli Selatan adalah karena habisnya logistik di Sumatera Barat.
Kuatnya semangat dagang orang Minangkabau dan kaum Padri digambarkan oleh Christine Dobbin secara gamblang. Beberapa penjelasan tentang semangat dagang kaum Paderi antara lain ditulis oleh Christine Dobbin pada halaman 260, 261, 280, 281 sbb.:
Pada kira-kira tahun 1812, Bonjol mulai menarik penduduk dari tempat-tempat lain di Minangkabau. Mereka datang untuk mengkaji ajaran Padri maupun untuk ikut serta dalam perdagangan desa yang sedang berkembang. Sama seperti pemimpin utama Padri lainnya, Imam Bonjol ingin membuat kampung halamannya menjadi pusat dagang yang penting. Dalam memoarnya disebutkan bahwa segera setelah ia mendirikan tempat pemukiman itu, ia menanam padi dan pohon buah-buahan dan mendirikan tempat peternakan sapi dan kuda. Selanjutnya, ia berkata bahwa kira-kira pada tahun 1812, Bonjol “begitu makmur berkat meningkatnya industri dan perdagangan sehingga banyak orang datang ke situ karena tertarik pada murahnya harga bahan makanan sebab beras, ternak, dan kuda tersedia berlimpah”. Tambahan lagi, setelah benteng desa lebih disempurnakan dan penduduknya dipersenjatai dengan layak, “mereka memusatkan diri sepenuhnya pada perdagangan. Dengan menikmati keadaan damai dan bersatu, kemakmuran nagari Bonjol makin lama makin bertambah dan pedagang-pedagang dari tempat lain banyak yang datang ke sini” (hal. 260).
Walaupun sulit dibedakan antara yang suci dan yang duniawi, keadaan menjadi lebih mudah oleh kenyataan bahwa Imam Bonjol dengan cepat menjadi pemimpin perang dan perhatiannya tertuju pada hal lain. Kepada murid-muridnya yang berbondong-bondong datang ke Bonjol, ia memberikan latihan silat. Kemudian, ia membentuk pasukan khusus setelah kedudukannya di lembah cukup kuat untuk menyatakan jihad kepada daerah sekitarnya. Ia lalu mengembangkan pola serbuan tahunan ke daerah-daerah sekitarnya dan pasukan Bonjol selalu kembali dengan hasil rampasan yang cukup banyak. Setelah menang perang, mereka beristirahat untuk bercocok tanam selama satu tahun sebelum melakukan serbuan lain. Serbuan-serbuan ini biasanya dilakukan atas permintaan salah seorang pemimpin Padri. Pada diri mereka bercampur erat semangat agama dan keserakahan manusiawi. Diberitakan pada suatu penyerbuan di Agam, orang Bonjol tidak saja kembali dengan membawa ternak rampasan, melainkan juga piring, cangkir, kuali, dan alat keperluan rumah tangga lainnya (hal. 261).
Kebanyakan perdagangan produk Batak pun berada di tangan orang-orang Minangkabau. Oleh sebab itu, serbuan pasukan Padri ke Mandailing dan hulu Barumun hanya merupakan satu tahap lain dalam pembebasan yang terus menerus dari dunia Minangkabau ke dunia Batak yang telah berlangsung berabad-abad (hal. 280).
Tidak mengherankan jika Imam Bonjol memalingkan matanya ke utara, ke arah tetangganya yang kaya, setelah ia menetapkan kekuasaannya di Lembah Alahan Panjang. Lembah yang panjang dan sempit di sebelah lembahnya menampakkan kemakmuran yang cukup besar. Para pemimpin masyarakat Padri di Alahan Panjang menyadari bahwa kepemilikan atas tambang emas Rao pasti akan memberikan dimensi ekstra pada jaringan dagang yang hendak mereka ciptakan. Selain itu, tenaga kerja dari lembah itu juga merupakan tambahan yang sangat diharapkan. Imam Bonjol memulai serbuannya ke Rao dengan mengawasi pembuatan jalan yang baik ke Lubuk Sikaping, desa utama di ujung selatan lembah (hal. 281).
Tuanku Imam Bonjol Ingin Bebas
Dua kalimat terakhir Christine Dobbin dalam buku ini pada halaman 379 edisi bahasa Indonesia dan halaman 244 teks aslinya, sbb.: “Lebih dari segalanya, sejarahnya telah mencerminkan keinginannya. Hal itu telah diungkapkan oleh Imam Bonjol sebelum ia ditangkap, yakni menjadi “seorang Melayu yang bebas” (hal. 379). [More than anything his history has reflected his wish, expressed by Imam Bonjol before his capture, to be “a free Malay”].
Wallahualam bis sawwab (DanAllah Maha Tahu sesungguhnya).
(Basyral Hamidy Harahap, pemerhati sosial budaya Mandailing dan penulis buku Greget Tuanku Rao, 2007)
06 September
PERANG DAGANG DI SUMATERA BARAT
BASYRAL HAMIDY HARAHAP
KOMPAS, Minggu 27 Juli 2008
Artikel Rosihan Anwar, ”Perang Padri yang Tak Anda Ketahui”, yang dimuat oleh ”Kompas”, 6 Februari 2006, menyoroti sisi gelap Perang Paderi. Tulisan Rosihan itu bersumber pada buku yang disusun oleh sejarawan militer Belanda, G Teitler, berjudul ”Het Einde van de Paderieoorlog: Het beleg en de vermeestering van Bonjol, 1834-1837: Een bronnenpublicatie.”
Rosihan, dalam artikelnya itu, bercerita tentang kebiasaan kaum Paderi menculik kaum perempuan dalam serangan, kemudian mengangkut mereka untuk dijual sebagai budak (slaves).
Ada satu buku lagi yang mengupas dinamika perubahan yang luar biasa dalam kehidupan ekonomi dan gerakan purifikasi ajaran Islam di Minangkabau. Dalam proses perubahan itu timbul banyak konflik yang mengakibatkan terjadi tragedi kemanusiaan. Buku itu ditulis sejarawan Christine Dobbin, berjudul asli Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy, Central Sumatra 1784-1847 (Curzon Press, 1983).
Dobbin mengawali paparannya secara detail tentang ekologi sosial dan topografi Minangkabau, tentang tantangan dan anugerah alam dalam gerakan perdagangan masyarakat Minangkabau. Kita terkesima membaca buku ini. Ternyata masih banyak yang tidak kita ketahui tentang perubahan sosial yang spektakuler dan tentang gerakan Paderi di Minangkabau dan Tapanuli.
Kurang lebih 75 persen dari buku bercerita tentang dinamika perubahan orang Minangkabau dalam liku-liku perdagangan di pedalaman dan pantai barat dengan segala masalah yang ditimbulkannya, pertambangan emas dan besi, industri rumah, perbengkelan alat pertanian, senjata tajam dan bedil, pertukangan, pertenunan, perkebunan komoditi ekspor, persaingan dan perang dagang dengan Belanda. Hal itu terjadi sejak berabad sebelum timbul gerakan Paderi.
Menarik untuk disimak bahwa berabad sebelum lahirnya gerakan Paderi, agama Islam sudah lama berkembang di Natal, pantai barat Mandailing, Tapanuli Bagian Selatan. Hal ini terbukti dengan kehadiran Tuanku Lintau, seorang kaya, penduduk asli Lintau di Lembah Sinamar, yang datang ke Natal untuk belajar agama Islam. Kemudian Tuanku Lintau meneruskan pendidikannya ke Pasaman yang juga didiami orang Mandailing yang menganut sistem kekeluargaan patrilineal.
[Read More!]
28 January
IHWAL KELAHIRAN GREGET TUANKU RAO
KARYA BASYRAL HAMIDY HARAHAP TERBITAN KOMUNITAS BAMBU
(Catatan Kecil untuk Ahli Waris MOP)
Berangkat dari berita diskusi Perang Paderi di Arsip Nasional 22 Januari 2008, ahli waris MOP menanyakan soal pengakuan Basyral Hamidy Harahap penulis buku
Greget Tuanku Rao, komunitas Bambu, 2007, di forum diskusi itu ihwal
asbabul nuzul bukunya. Basyral Hamidy Harahap mengatakan bahwa bukunya berasal dari kata pengantar buku
Tuanku Rao karya MOP yang tidak jadi dipakai. Pasalnya, ahli waris menolak buku papinya diterbitkan ulang dengan pengantar. Maka pengantar itu pun kemudian diminta diluaskan oleh penerbit hingga menjadi buku.
Sebab itu disini, saya JJ Rizal, mewakili Komunitas Bambu, mencoba mendudukan persoalan itu agar menjadi lebih jembar dan tidak menimbulkan salah paham.
Pada 16 November 2006, dalam sebuah acara Pekan Sejarah I di FIB UI yang diselenggarakan Komunitas Bambu, Onghokham Institut dan FIB UI, seorang pembicara Adji Damais menyarankan kepada saya sebagai orang Komunitas Bambu untuk menerbitkan buku
Tuanku Rao karya MOP. Di depan peserta seminar ia katakan, “Itu buku cerita yang menarik juga kontroversi. Penerbitan ulang di jaman ilmu sejarah telah berkembang tentu akan memberikan nuansa lain”, katanya. Tetapi ia menggaris bawahi usulnya itu, supaya dalam penerbitan baru itu sebaiknya buku cerita itu diberi pengantar oleh seorang ahli mengenai Islam di daerah Batak.
Saat itu juga, saya langsung berdiri dan menyatakan: “Sudah disiapkan Pak, tinggal mencari ahli warisnya”. Kemudian Pak Adji menyatakan akan membantu juga mencarikan jalan untuk menemukan ahli waris MOP. Sayang ia tak berhasil membantu menemukan sang ahli waris MOP.
Meski demikian saya sangat setuju dengan saran Pak Adji. Kalau hendak menerbitkan ulang buku itu memang sebaiknya diberi pengantar oleh seorang ahli tentang Islam dan Batak. Saya sadar betul bahwa bagaimanapun harus pandai-pandai memainkan sisi idealis dan komersial. Dari segi komersial, tentu saja buku itu dengan kontroversi dan mitos pelarangannya, sudah mempunyai nilai jual yang tinggi kelak ketika masuk pasar. Bahkan, ia telah mempunya pasar yang telah berjaga dengan “mulut menganga siap mencaplok” begitu turun cetak.
[Read More!]
27 January
GREGET TUANKU RAO DILARANG ?
LAPORAN DARI SEMINAR SEJARAH PERANG PADERI
GAGASAN
Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Dr. Joko Utomo, dalam pidato pembukaan Seminar Sejarah Perang Paderi 1803-1838 di Gedung ANRI pada tanggal 22 Januari 2008, mengungkapkan bahwa Dr. Saafroedin Bahar adalah penggagas penyelenggaraan seminar ini. Gagasan itu dikemukakan oleh Dr. Saafroedin Bahar dalam pertemuannya dengan Dra. Mona Lohanda dan Dr. Joko Utomo sendiri. Pihak ANRI menerima baik gagasan ini, karena ANRI adalah lembaga yang menyimpan memori kolektif bangsa, penyimpan sumber-sumber sejarah yang otentik dan kredibel serta memberikan akses seluas-luasnya kepada peneliti, masyarakat untuk kepentingan pemerintahan, pembangunan, penelitian, ilmu pengetahuan, kemasyarakatan demi kemaslahatan bangsa.
Di bagian lain sambutannya, Dr. Joko Utomo mengemukakan bahwa sudah sejak lama ada perdebatan tentang Tuanku Rao. Pada bulan Juli 1969 diselenggarakan seminar di Padang yang menampilkan dua pembicara utama yang berdebat seru, ialah Hamka dan Mangaraja Onggang Parlindungan (MOP) berkaitan dengan buku yang ditulis oleh MOP berjudul
Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali Di Tanah Batak 1816-1833 yang diterbitkan oleh Penerbit Tandjung Pengharapan di Jakarta tahun 1964.
Sepuluh tahun kemudian Hamka menerbitkan buku sanggahannya terhadap buku yang ditulis oleh MOP itu berjudul
Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao: Bantahan terhadap tulisan-tulisan Ir. Mangaradja Onggang Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao, yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang di Jakarta pada tahun 1974.
Dr. Joko Utomo juga mengemukakan bahwa, G. Teitler menyusun buku
Het Einde van de Padrie-oorlog: Het beleg en de vermeestering van Bonjol 1834-1837: Een bronnenpublicatie yang diterbitkan oleh De Bataafsche Leeuw di Amsterdam pada tahun 2004.
Menurut Dr. Joko Utomo, hal itu mencuat kembali setelah buku
Tuanku Rao karya MOP diterbitkan oleh LKIS Bantul pada bulan Juni 2007, dan terbitnya karangan Basyral Hamidy Harahap berjudul
Greget Tuanku Rao yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu di Depok pada bulan September 2007.
Redaksi Majalah TEMPO menganggap masalah ini sangat serius, maka Majalah TEMPO nomor 34, 15-21 Oktober 2007 memuat tulisan berjudul “Kontroversi Kebrutalan Kaum Paderi”.
[Read More!]
07 January
BERITA BUKU
Ada buku-buku saya yang lain dengan harga termasuk ongkos kirim. Buku akan saya kirim setelah saya menerima melalui fax: 021-4891041 fotokopi bukti pembayaran ke rekening saya di Bank Mandiri Cabang Jakarta, Rawamangun, Pemuda No. 0060001282452 sbb.:
1984
Perjalanan : Kumpulan Puisi. – Jakarta : Puisi Indonesia. – 62 hal. Rp. 20.000,--
1987
Orientasi Nilai-Nilai Budaya Batak : Suatu Pendekatan Terhadap Perilaku Batak Toba dan Angkola Mandailing / Basyral Hamidy Harahap dan Hotman M. Siahaan. – Jakarta : Sanggar Willem Iskander. – xiv, 241 p. – ISBN 979-8067-00-9. Harga Rp. 50.000,--
2003a
Aceh di mata DR. Piekaar. – Jakarta : Hambali Swadaya Putra. – 44 hal. – (ISBN 979-97693-02. Harga Rp. 15.000,--
2003b
Pemerintah Kota Padangsidimpuan menghadapi tantangan zaman. - Padangsidimpuan : Pemerintah Kota Padangsidimpuan. - 241 hal. - (ISBN 979-98049-0-6). Harga Rp. 50.000,--
2004a
Madina Yang Madani: Pemerintah Kabupaten Madina membangun masyarakat yang madani: suatu studi perbandingan. – Cet. 1. – Panyabungan : Pemkab Madina. – 424 [62] hal. – (ISBN 979-98376-0-X). Harga Rp. 75.000,--
2004b
Siala Sampagul : nilai-nilai luhur budaya masyarakat Kota Padangsidimpuan. - Padangsidimpuan : Pemerintah Kota Padangsidimpuan. - xvi, 203 hal. - (ISBN 979-98049-1-4). Harga Rp. 50.000,--
2005a
Fakta dan angka: Statistik pendidikan Kabupaten Mandailing Natal 2005. – Panyabungan : Dinas Pendidikan Madina. – xii, 88 hal. – (ISBN 979-99704-0-7). Harga Rp. 35.000,--
2005b
Rakyat mendaulat Taman Nasional Batang Gadis. – Panyabungan : Pemkab Madina. – xvi [16], 132 hal. – (ISBN 979-98376-1-8). Harga Rp. 45.000,--
2002
Iskander, Willem
Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk / oleh Willem Iskander ; pengantar dan terjemahan oleh Basyral Hamidy Harahap. – Edisi ketiga Dwi Bahasa. – Jakarta : Sanggar Willem Iskander. – xi, 109 hal. – (ISBN 979-8067-01-0). Harga Rp. 20.000,--
25 December
MARTABE
MARTABE
OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP
Pengantar
Martabe adalah istilah yang populer di Sumatera Utara sejak tahun 1988. Kata itu merupakan singkatan dari kalimat dalam bahasa Angkola-Mandailing dan Batak Toba Marsipature Hutana Be, artinya membangun kampung masing-masing. Kata tersebut dipopulerkan oleh Gubernur Sumatera Utara, Raja Inal Siregar, pada tahun pertama masa baktinya yang pertama, 1988, dengan melembagakannya menjadi Gerakan Pembangunan Desa Terpadu Marsipature Hutana Be.
Martabe merupakan bagian dari proses demokratisasi masyarakat. Masyarakat mempunyai peluang mengamalkan nilai-nilai luhur budayanya dalam proses pembangunan. Dengan Martabe, kekuatan solidaritas didorong untuk bangkit. Serentak dengan bangkitnya kekuatan solidaritas itu, bangkit pula kesadaran kritis yang mampu mendorong sinergi gerak pembangunan di antara sesama anggota komunitas masyarakat dengan pemerintah sebagai tuan rumah pembangunan.
Asal muasal istilah Martabe, bermula dari suatu seminar kebudayaan Batak di Bandung pada bulan Desember 1986 yang disponsori oleh Panglima Divisi Siliwangi Mayjen. TNI Raja Inal Siregar. Saya adalah salah seorang peserta seminar itu. Usai seminar, dibentuklah satu tim beranggotakan 12 orang yang bertugas menilai kelayakan penerbitan semua makalah seminar itu. Saya termasuk di antara Tim 12 orang itu. Tim ini berkesimpulan bahwa semua makalah tidak layak diterbitkan. Maka, kepada anggota Tim 12 ditugaskan untuk menulis karangan sendiri yang kiranya layak diterbitkan.
Ternyata Tim 12 tidak berhasil menulis karangan masing-masing. Tim 12 bubar. Sebagai gantinya dibentuk Tim 4 beranggotakan empat orang yang sebelumnya adalah anggota Tim 12, ialah: saya sendiri, Basyral Hamidy Harahap, dari Perwakilan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) di Indonesia, Hotman M. Siahaan dari Universitas Airlangga, Usman Tampubolon dari Universitas Gajah Mada, dan Ponpon Harahap dari Universitas Padjadjaran. Tim 4 bekerja menulis masing-masing karangannya. Tim 4 beberapa kali bertemu di Jakarta dan Bandung untuk merembukkan dan menulis karangan masing-masing. Tetapi ternyata, hanya dua orang yang berhasil menulis naskah buku, ialah saya sendiri dan Hotman M. Siahaan.
[Read More!]
GREGET TUANKU RAO
PROLOG
Bercengkerama dengan Mangaraja Onggang Parlindungan (MOP) adalah pengalaman yang mengesankan. Saya pernah bertemu dengan MOP pada awal tahun 1970-an dalam perbualan di rumah abang saya Amir Husin Siregar di bilangan Tulodong Bawah, Jakarta Selatan. Hadir dalam perbualan itu Amir Husin Siregar, MOP dan Ir. Amru Baghwie.
Ir. Amru Baghwie lahir dan besar dalam kalangan intelektual Sipirok. Ayahnya, Dr. Abdul Rasyid dan pamannya Abdul Firman gelar Mangaraja Soangkupon, adalah anggota Volksraad (Dewan Rakyat) di Batavia. Soangkupon, seorang yang terkenal di zaman pergerakan sebagai anggota Dewan Rakyat mewakili Sumatera Timur (Noer, 1996:180-181). Soangkupon, adalah anggota Perhimpoenan Indonesia di Negeri Belanda (Poeze:1986:75, 78, 80, 88, 281, 303), dan teman seperjuangan anak Betawi, Muhammad Husni Thamrin, yang sangat gigih membela nasib kuli kontrak di Tanah Deli.
Saya pernah membawa Lance Castles ke alamat ini untuk bertemu dengan Ir. Amru Baghwie, 1970, salah seorang nara sumber Lance Castles ketika menyiapkan disertasinya The Political Life of a Sumatran Residency: Tapanuli 1915-1940.
Kelak Dr. Lance Castles meminta saya menulis Pengantar Edisi Indonesia disertasi yang dipertahankannya di Yale University pada tahun 1972 tersebut. Kepustakaan Populer Gramedia, menerbitkan Edisi Indonesia tahun 2001 di bawah judul Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera: Tapanuli 1915-1940.
[Read More!]
24 December
WILLLEM ISKANDER (1840-1876)
WILLEM ISKANDER (1840-1876):
PELOPOR PENDIDIKAN DARI SUMATERA UTARA
OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP
http://basyral-hamidy-harahap.com
Blog of Basyral Hamidy Harahap
basyralharahap@centrin.net.id
Sati Nasution gelar Sutan Iskandar
Baginda Mangaraja Enda, generasi III Dinasti Nasution, mempunyai tiga orang isteri yang melahirkan raja-raja Mandailing. Isteri pertama boru Lubis dari Roburan yang melahirkan putera mahkota Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar. Baginda Mangaraja Enda menobatkan Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar menjadi raja di Hutasiantar dengan kedudukan yang sama dengan dirinya.
Isteri kedua, boru Hasibuan dari Lumbanbalian yang melahirkan empat orang putera yang kelak menjadi raja. Mereka adalah Sutan Panjalinan raja di Lumbandolok, Mangaraja Lobi raja di Gunung Manaon, Mangaraja Porkas raja di Manyabar dan Mangaraja Upar atau Mangaraja Sojuangon raja di Panyabungan Jae.
Isteri ketiga, boru Pulungan dari Hutabargot yang melahirkan dua orang putera, ialah: Mangaraja Somorong raja di Panyabungan Julu dan Mangaraja Sian raja di Panyabungan Tonga.
Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar menobatkan tiga orang puteranya menjadi raja, masing-masing Baginda Soalohon raja di Pidoli Lombang, Batara Guru raja di Gunungtua, dan Mangaraja Mandailing raja di Pidoli Dolok.
Penobatan tiga putera Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar itu dilakukan menyusul pemberontakan yang dilancarkan raja-raja di tiga daerah tersebut terhadap Baginda Mangaraja Enda. Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar berhasil memadamkan pemberontakan terhadap ayahandanya itu. Sementara itu raja-raja yang berontak eksodus bersama sebagian rakyatnya ke daerah pantai dan pedalaman Pasaman.
Ada tiga tokoh penting dalam generasi XI Dinasti Nasution. Pertama, Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar, yang biasa disingkat menjadi Yang Dipertuan. Tokoh ini dikenal sebagai raja ulama yang namanya banyak disebutkan oleh Multatuli di dalam karyanya Max Havelaar. Belanda menjulukinya Primaat Mandailing. Yang Dipertuan membantu kompeni melawan pasukan Paderi. Tokoh inilah yang bekerjasama dengan Asisten Residen Mandailing Angkola, 1848-1857, Alexander Philippus Godon (1816-1899), merancang dan membangun mega proyek jalan ekonomi dari Panyabungan ke pelabuhan Natal sepanjang kl. 90 kilometer.
Kedua, Sutan Muhammad Natal, yang banyak disebut Multatuli di dalam Max Havelaar dengan nama Tuanku Natal, seorang raja Natal yang muda dan cerdas, sahabat karib Multuli ketika menjabat Kontrolir Natal (1842-1843).
[Read More!]
HOLONG MANGALAP HOLONG
HOLONG MANGALAP HOLONG:
DAKWAH ALA MANDAILING
OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP
http://basyral-hamidy-harahap.com
Blog of Basyral Hamidy Harahap
basyralharahap@centrin.net.id
Kilas Balik
Tujuh abad yang lalu, Majapahit sudah mengenal Mandailing sebagai salah satu daerah yang terpenting di wilayah kerajaan Melayu. Hal ini diungkapkan oleh Mpu Prapanca, sejarawan Majapahit, di dalam buku Negarakertagama, bertarikh 1365 Masehi. Buku ini telah diterjemahkan oleh Prof. Theodore G. Th. Pigeaud di bawah judul Java in the 14th Century: A Study in Cultural History the Negara-Kertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 A.D. (1960-1962). Mpu Prapanca menyebutkan pada syair ke-13, bahwa Mandailing adalah salah satu daerah utama dan terpenting dari sejumlah daerah di Nusantara. Hal itu disebutkannya dalam kalimat ksoni ri Malayu dan kalimat bhumi malayu satanah kapwamateh anut yang diterjemahkan oleh Prof. Pigeaud sebagai the principal ones are all those that belong to the country of Malayu dan the most important ones of those belonging to the country of Malayu. Ada tiga daerah di kawasan Tapanuli Bagian Selatan yang disebutkan sebagai daerah yang utama dan terpenting itu ialah Mandailing, Padang Lawas dan Pane.
Daerah-daerah yang disebutkan pada syair 13 stanza 1 adalah: Jambi, Palembang, Karitang, Teba, Kandis, Kawhas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar, Pane, Kampe, Haru, Mandailing, Tumihang, Pereulak dan Barat. Pada syair 13 stanza 2 terdapat daerah-daerah: Padang Lawas, Samudra, Lamuri, Batan, Lampung, Barus, Pulau Tanjung Nagara (Kalimantan?) ialah Kapuhas, Katingan, Sampit, Kuta Lingga, Kuta Waringin, Sambas dan Lawai.
Prof. Mr. Muhammad Yamin menyebutkan, bahwa seluruh tempat yang disebutkan oleh Mpu Prapanca di dalam Negarakertagama itu adalah Tumpah Darah Nusantara (Yamin, 1959, I:138).
[Read More!]
POLEMIK GREGET TUANKU RAO
POLEMIK GREGET TUANKU RAO
Pengantar
Saya membacakan makalah berjudul Holong Mangalap Holong pada Seminar Holong Mangalap Holong: Prinsip Dakwah Masyarakat Mandailing, Program Pasca Sarjana IAIN Sumatera Utara, Medan, 17 November 2007. Seminar ini juga merupakan bedah buku saya Greget Tuanku Rao.
Makalah saya telah mendapat tanggapan dari H. Kosky Zakaria, dosen pasca sarjana IAIN-SU, bidang studi komunikasi Islam, yang hadir pada seminar itu. H. Kosky Zakaria mengundang saya untuk berpolemik di Harian Waspada seperti tersurat dan tersirat di dalam artikelnya yang dimuat Harian Waspada 27 November 2007. Artikel tersebut telah saya tanggapi di harian yang sama pada tanggal 8 Desember 2007. Sebagai bahan pencerahan, kedua tulisan itu saya muat di dalam Blog ini.
Sekiranya ada lagi artikel lain yang masuk ke gelanggang polemik ini, saya dengan senang hati menanggapinya dan akan saya muat lagi di dalam Blog ini. Salah seorang yang sudah menyatakan akan memasuki kancah polemik ini adalah Suryadi. Walaupun ia memakai nama Jawa, tak diragukan bahwa ia adalah orang Minang asli. Suryadi seorang filolog, ahli syair, kaba dan tambo Minang, dosen di Universitas Leiden. Skripsi S1 di Unand 1991 berjudul Dendang Pauah dan tesis S2 di Universitas Leiden 2002 berjudul Syair Sunur. Suryadi memberitahukan kepada saya bahwa ia telah mengirimkan artikelnya kepada redaktur Harian Waspada. Tetapi saat artikel H. Kosky Zakaria dan artikel saya diluncurkan di Blog ini, artikel tersebut belum dimuat oleh Harian Waspada. Saya yakin, bahwa polemik ini besar manfaatnya untuk merentang benang merah kebenaran.
Basyral Hamidy Harahap
[Read More!]
26 November
BIARKANLAH SUMATERA UTARA TETAP UTUH
BIARKANLAH PROPINSI SUMATERA UTARA TETAP UTUH SEPERTI SEKARANG
Pengantar: Artikel ini dimuat dalam Jurnal Otonomi Daerah, vol. I, no. 6, Juni 2002, halaman 44
Pembentukan suatu propinsi bukanlah semata-mata berdasarkan sumber daya alam dan sumber daya manusia saja. Tetapi perlu ada pertimbangan-pertimbangan yang mendalam tentang sosio kultural, perilaku dan mentalitas masyarakatnya. Sehingga harus jelas dan terukur keterjaminan kehidupan masyarakatnya yang harmonis seraya tetap meningkatkan semangat kebangsaan, persatuan dan kesatuan. Demikian
Basyral Hamidy Harahap, Sekretaris Yayasan Adam Malik, pengamat dan penulis buku-buku nilai budaya Batak, mengemukakan dalam suratnya kepada Menteri Dalam Negeri belum lama ini, sehubungan dengan adanya gerakan-gerakan sekelompok kecil orang untuk pembentukan Propinsi Tapanuli dan Propinsi Sumatera Timur.
[Read More!]
25 November
WAWANCARA DENGAN SHIGETADA NISHIJIMA
SHIGETADA NISHIJIMA, SAKSI PERUMUSAN NASKAH PROKLAMASI
Basyral Hamidy Harahap
Pengantar dari penulis:
Artikel ini dimuat oleh Harian KOMPAS edisi 16 Agustus 2001, halaman 28 kolom 1 s.d. 9 yang disalin kembali seperti di bawah ini dengan koreksi nama Shigetada Nishijima yang di KOMPAS tertulis Sigetada Nishijima.
SAYA merasa beruntung mendapat peluang mewawancarai satu-satunya saksi hidup peristiwa bersejarah perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dia adalah Shigetada Nishijima (90), yang kini hidup bersama isterinya di suatu apartemen di Tokyo. Pertemuan kami berlangsung dalam suasana kekeluargaan yang kental. Ini merupakan wawancara saya yang kedua dengan Nishijima. Pertama, pada bulan November 1990 di kediaman Nu. Adam Malik di Jalan Diponegoro 29, Jakarta Pusat. Kedua, tanggal 10 Oktober 2000 di Meguro-ku, Tokyo.
[Read More!]
20 November
PROVINSI TAPANULI
Harian Umum Batak Pos, 11 November 2006, halaman 2 kolom 2, 3, 4.
Diskusi Pembentukan Provinsi Tapanuli
BERPOTENSI MEMECAH HARMONI
Dalam diskusi di Medan, muncul pendapat yang mengkhawatirkan Provinsi Tapanuli justru akan memecah hubungan antaretnik di Sumut yang sudah harmonis.
Medan, Batak Pos
Sesungguhnya Provinsi Sumatera Utara adalah miniature Indonesia. Di dalamnya terdapat beraneka suku, agama, tradisi, bahasa, arsitektur, kebudayaan, dan lainnya. Semua komponen itu hidup harmonis sampai kini. Namun ia bisa berantakan hanya gara-gara wacana pembentukan Provinsi Tapanuli.
Pendapat ini dikemukakan akademisi asal Jakarta Basyral Hamidy Harahap dalam Seminar Nasional tentang Provinsi Tapanuli yang digagas oleh sebuah surat kabar nasional di Hotel Danau Toba Medan, Jumat (10/11).
“Keharmonisan di Sumatera Utara sebagai daerah yang paling aman dari kerusuhan sara, bisa terusik. Sebab pembentukan Provinsi Tapanuli akhirnya akan menimbulkan persaingan tidak sehat di kalangan komunitas Batak, ” kata Hamidy.
[Read More!]