Blog of Basyral Hamidy Harahap

25 December

MARTABE



MARTABE


OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP



Pengantar
Martabe adalah istilah yang populer di Sumatera Utara sejak tahun 1988. Kata itu merupakan singkatan dari kalimat dalam bahasa Angkola-Mandailing dan Batak Toba Marsipature Hutana Be, artinya membangun kampung masing-masing. Kata tersebut dipopulerkan oleh Gubernur Sumatera Utara, Raja Inal Siregar, pada tahun pertama masa baktinya yang pertama, 1988, dengan melembagakannya menjadi Gerakan Pembangunan Desa Terpadu Marsipature Hutana Be.

Martabe merupakan bagian dari proses demokratisasi masyarakat. Masyarakat mempunyai peluang mengamalkan nilai-nilai luhur budayanya dalam proses pembangunan. Dengan Martabe, kekuatan solidaritas didorong untuk bangkit. Serentak dengan bangkitnya kekuatan solidaritas itu, bangkit pula kesadaran kritis yang mampu mendorong sinergi gerak pembangunan di antara sesama anggota komunitas masyarakat dengan pemerintah sebagai tuan rumah pembangunan.

Asal muasal istilah Martabe, bermula dari suatu seminar kebudayaan Batak di Bandung pada bulan Desember 1986 yang disponsori oleh Panglima Divisi Siliwangi Mayjen. TNI Raja Inal Siregar. Saya adalah salah seorang peserta seminar itu. Usai seminar, dibentuklah satu tim beranggotakan 12 orang yang bertugas menilai kelayakan penerbitan semua makalah seminar itu. Saya termasuk di antara Tim 12 orang itu. Tim ini berkesimpulan bahwa semua makalah tidak layak diterbitkan. Maka, kepada anggota Tim 12 ditugaskan untuk menulis karangan sendiri yang kiranya layak diterbitkan.

Ternyata Tim 12 tidak berhasil menulis karangan masing-masing. Tim 12 bubar. Sebagai gantinya dibentuk Tim 4 beranggotakan empat orang yang sebelumnya adalah anggota Tim 12, ialah: saya sendiri, Basyral Hamidy Harahap, dari Perwakilan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) di Indonesia, Hotman M. Siahaan dari Universitas Airlangga, Usman Tampubolon dari Universitas Gajah Mada, dan Ponpon Harahap dari Universitas Padjadjaran. Tim 4 bekerja menulis masing-masing karangannya. Tim 4 beberapa kali bertemu di Jakarta dan Bandung untuk merembukkan dan menulis karangan masing-masing. Tetapi ternyata, hanya dua orang yang berhasil menulis naskah buku, ialah saya sendiri dan Hotman M. Siahaan.
[Read More!]
05:00:45 - rajungan - No comments

GREGET TUANKU RAO


PROLOG


Bercengkerama dengan Mangaraja Onggang Parlindungan (MOP) adalah pengalaman yang mengesankan. Saya pernah bertemu dengan MOP pada awal tahun 1970-an dalam perbualan di rumah abang saya Amir Husin Siregar di bilangan Tulodong Bawah, Jakarta Selatan. Hadir dalam perbualan itu Amir Husin Siregar, MOP dan Ir. Amru Baghwie.

Ir. Amru Baghwie lahir dan besar dalam kalangan intelektual Sipirok. Ayahnya, Dr. Abdul Rasyid dan pamannya Abdul Firman gelar Mangaraja Soangkupon, adalah anggota Volksraad (Dewan Rakyat) di Batavia. Soangkupon, seorang yang terkenal di zaman pergerakan sebagai anggota Dewan Rakyat mewakili Sumatera Timur (Noer, 1996:180-181). Soangkupon, adalah anggota Perhimpoenan Indonesia di Negeri Belanda (Poeze:1986:75, 78, 80, 88, 281, 303), dan teman seperjuangan anak Betawi, Muhammad Husni Thamrin, yang sangat gigih membela nasib kuli kontrak di Tanah Deli.

Saya pernah membawa Lance Castles ke alamat ini untuk bertemu dengan Ir. Amru Baghwie, 1970, salah seorang nara sumber Lance Castles ketika menyiapkan disertasinya The Political Life of a Sumatran Residency: Tapanuli 1915-1940.
Kelak Dr. Lance Castles meminta saya menulis Pengantar Edisi Indonesia disertasi yang dipertahankannya di Yale University pada tahun 1972 tersebut. Kepustakaan Populer Gramedia, menerbitkan Edisi Indonesia tahun 2001 di bawah judul Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera: Tapanuli 1915-1940.
[Read More!]
02:39:34 - rajungan - No comments

24 December

WILLLEM ISKANDER (1840-1876)


WILLEM ISKANDER (1840-1876):
PELOPOR PENDIDIKAN DARI SUMATERA UTARA



OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP
http://basyral-hamidy-harahap.com
Blog of Basyral Hamidy Harahap
basyralharahap@centrin.net.id



Sati Nasution gelar Sutan Iskandar

Baginda Mangaraja Enda, generasi III Dinasti Nasution, mempunyai tiga orang isteri yang melahirkan raja-raja Mandailing. Isteri pertama boru Lubis dari Roburan yang melahirkan putera mahkota Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar. Baginda Mangaraja Enda menobatkan Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar menjadi raja di Hutasiantar dengan kedudukan yang sama dengan dirinya.
Isteri kedua, boru Hasibuan dari Lumbanbalian yang melahirkan empat orang putera yang kelak menjadi raja. Mereka adalah Sutan Panjalinan raja di Lumbandolok, Mangaraja Lobi raja di Gunung Manaon, Mangaraja Porkas raja di Manyabar dan Mangaraja Upar atau Mangaraja Sojuangon raja di Panyabungan Jae.

Isteri ketiga, boru Pulungan dari Hutabargot yang melahirkan dua orang putera, ialah: Mangaraja Somorong raja di Panyabungan Julu dan Mangaraja Sian raja di Panyabungan Tonga.

Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar menobatkan tiga orang puteranya menjadi raja, masing-masing Baginda Soalohon raja di Pidoli Lombang, Batara Guru raja di Gunungtua, dan Mangaraja Mandailing raja di Pidoli Dolok.

Penobatan tiga putera Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar itu dilakukan menyusul pemberontakan yang dilancarkan raja-raja di tiga daerah tersebut terhadap Baginda Mangaraja Enda. Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar berhasil memadamkan pemberontakan terhadap ayahandanya itu. Sementara itu raja-raja yang berontak eksodus bersama sebagian rakyatnya ke daerah pantai dan pedalaman Pasaman.

Ada tiga tokoh penting dalam generasi XI Dinasti Nasution. Pertama, Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar, yang biasa disingkat menjadi Yang Dipertuan. Tokoh ini dikenal sebagai raja ulama yang namanya banyak disebutkan oleh Multatuli di dalam karyanya Max Havelaar. Belanda menjulukinya Primaat Mandailing. Yang Dipertuan membantu kompeni melawan pasukan Paderi. Tokoh inilah yang bekerjasama dengan Asisten Residen Mandailing Angkola, 1848-1857, Alexander Philippus Godon (1816-1899), merancang dan membangun mega proyek jalan ekonomi dari Panyabungan ke pelabuhan Natal sepanjang kl. 90 kilometer.

Kedua, Sutan Muhammad Natal, yang banyak disebut Multatuli di dalam Max Havelaar dengan nama Tuanku Natal, seorang raja Natal yang muda dan cerdas, sahabat karib Multuli ketika menjabat Kontrolir Natal (1842-1843).
[Read More!]
21:50:55 - rajungan - No comments

HOLONG MANGALAP HOLONG


HOLONG MANGALAP HOLONG:
DAKWAH ALA MANDAILING


OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP

http://basyral-hamidy-harahap.com
Blog of Basyral Hamidy Harahap
basyralharahap@centrin.net.id


Kilas Balik

Tujuh abad yang lalu, Majapahit sudah mengenal Mandailing sebagai salah satu daerah yang terpenting di wilayah kerajaan Melayu. Hal ini diungkapkan oleh Mpu Prapanca, sejarawan Majapahit, di dalam buku Negarakertagama, bertarikh 1365 Masehi. Buku ini telah diterjemahkan oleh Prof. Theodore G. Th. Pigeaud di bawah judul Java in the 14th Century: A Study in Cultural History the Negara-Kertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 A.D. (1960-1962). Mpu Prapanca menyebutkan pada syair ke-13, bahwa Mandailing adalah salah satu daerah utama dan terpenting dari sejumlah daerah di Nusantara. Hal itu disebutkannya dalam kalimat ksoni ri Malayu dan kalimat bhumi malayu satanah kapwamateh anut yang diterjemahkan oleh Prof. Pigeaud sebagai the principal ones are all those that belong to the country of Malayu dan the most important ones of those belonging to the country of Malayu. Ada tiga daerah di kawasan Tapanuli Bagian Selatan yang disebutkan sebagai daerah yang utama dan terpenting itu ialah Mandailing, Padang Lawas dan Pane.
Daerah-daerah yang disebutkan pada syair 13 stanza 1 adalah: Jambi, Palembang, Karitang, Teba, Kandis, Kawhas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar, Pane, Kampe, Haru, Mandailing, Tumihang, Pereulak dan Barat. Pada syair 13 stanza 2 terdapat daerah-daerah: Padang Lawas, Samudra, Lamuri, Batan, Lampung, Barus, Pulau Tanjung Nagara (Kalimantan?) ialah Kapuhas, Katingan, Sampit, Kuta Lingga, Kuta Waringin, Sambas dan Lawai.
Prof. Mr. Muhammad Yamin menyebutkan, bahwa seluruh tempat yang disebutkan oleh Mpu Prapanca di dalam Negarakertagama itu adalah Tumpah Darah Nusantara (Yamin, 1959, I:138).
[Read More!]
11:32:57 - rajungan - No comments

POLEMIK GREGET TUANKU RAO


POLEMIK GREGET TUANKU RAO

Pengantar
Saya membacakan makalah berjudul Holong Mangalap Holong pada Seminar Holong Mangalap Holong: Prinsip Dakwah Masyarakat Mandailing, Program Pasca Sarjana IAIN Sumatera Utara, Medan, 17 November 2007. Seminar ini juga merupakan bedah buku saya Greget Tuanku Rao.
Makalah saya telah mendapat tanggapan dari H. Kosky Zakaria, dosen pasca sarjana IAIN-SU, bidang studi komunikasi Islam, yang hadir pada seminar itu. H. Kosky Zakaria mengundang saya untuk berpolemik di Harian Waspada seperti tersurat dan tersirat di dalam artikelnya yang dimuat Harian Waspada 27 November 2007. Artikel tersebut telah saya tanggapi di harian yang sama pada tanggal 8 Desember 2007. Sebagai bahan pencerahan, kedua tulisan itu saya muat di dalam Blog ini.
Sekiranya ada lagi artikel lain yang masuk ke gelanggang polemik ini, saya dengan senang hati menanggapinya dan akan saya muat lagi di dalam Blog ini. Salah seorang yang sudah menyatakan akan memasuki kancah polemik ini adalah Suryadi. Walaupun ia memakai nama Jawa, tak diragukan bahwa ia adalah orang Minang asli. Suryadi seorang filolog, ahli syair, kaba dan tambo Minang, dosen di Universitas Leiden. Skripsi S1 di Unand 1991 berjudul Dendang Pauah dan tesis S2 di Universitas Leiden 2002 berjudul Syair Sunur. Suryadi memberitahukan kepada saya bahwa ia telah mengirimkan artikelnya kepada redaktur Harian Waspada. Tetapi saat artikel H. Kosky Zakaria dan artikel saya diluncurkan di Blog ini, artikel tersebut belum dimuat oleh Harian Waspada. Saya yakin, bahwa polemik ini besar manfaatnya untuk merentang benang merah kebenaran.

Basyral Hamidy Harahap
[Read More!]
10:45:45 - rajungan - No comments