Blog of Basyral Hamidy Harahap

18 October

KORBAN PERANG PADRI MINTA PELURUSAN SEJARAH

Kamis, 16 Oktober 2008
20:21 WIB

Pengantar dari saya terhadap berita ini, sbb.:
Tulisan ini diangkat oleh Redaksi KOMPAS Edisi Sumbagut dari artikel yang saya kirimkan 16 Oktober 2008, berjudul Perang Paderi Bukan Perang Agama dan mereka menyiarkannya dalam Kompas.Com di bawah judul Korban Perang Padri Minta Pelurusan Sejarah yang diluncurkan hari Kamis, 16 Oktober 2008, pukul 20.21 WIB. Teks lengkap artikel itu saya luncurkan di Blog saya pada 18 Oktober 2008. Sayangnya, 18 Oktober 2008, KOMPAS Cetak Edisi Sumbagut mengubah artikel itu menjadi Padri: Korban Perang Minta Pelurusan Sejarah dengan menghilangkan kata “gegabah” dalam kritik saya terhadap pendapat pemakalah di Unimed itu yang memandang Perang Paderi sebagai gerakan yang positif dan mengganti kata "memperlihatkan" dengan kata "mengatakan" dua naskah kuno Mandailing kepada Dr. Herman Neubronner van der Tuuk oleh Asisten Residen Mandailing Angkola, Alexander Philippus Godon. Artikel itu adalah hasil riset, liputan tentang peristiwa yang spektakuler dalam sejarah Indonesia. Hal ini perlu saya tegaskan, agar artikel itu jangan dipandang merupakan reaksi pribadi sebagai korban Perang Paderi.*** Basyral Hamidy Harahap.


MEDAN, KAMIS - Polemik soal Perang Padri mendapat tanggapan sejarawan sekaligus mereka yang menjadi korban. Mereka meminta pelurusan sejarah sehingga bisa dipahami secara arif generasi berikutnya. Ada hal-hal dalam Perang Padri yang menyimpan luka mendalam bagi korban perang .
Hal ini disampaikan sejarawan melalui surat elektroniknya yang diterima Kompas, Kamis (16/10) di Medan. Gerakan radikal Padri tidak bisa dipandang sebagai suatu yang positif. Apalagi gerakan radikal Padri dipandang mampu mengisi dan mendinamisasi perubahan sosial saat itu, kata pemerhati sejarah Basyral Hamidi Harahap.
Basyral membantah kesimpulan tersebut. Penilaian terhadap Perang Padri seperti itu dia anggap gegabah. Tragedi kemanusiaan yang luar biasa tidak bisa dinafikan. Bukan saja di wilayah budaya Minangkabau, tetapi juga di Tapanuli, kata penulis buku Greget Tuanku Rao ini.
Menurut dia Perang Padri adalah perang paling lama (1803-1838) dan paling kejam dalam sejarah Indonesia abad ke-19. Mereka bukan saja berupaya menguasai sumber daya ekonomi di luar Minangkabau, tetapi juga menghancurkan memori kolektif dan karya sastra serta perbendaharaan kearifan lokal dengan membakarnya dan membunuh orang-orang arif dan terhormat.
Dalam Perang Padri banyak sekali naskah sejarah yang hilang. Beberapa di antaranya berhasil diselamatkan oleh Asisten Residen Mandailing Angkola (1848-1857), Alexander Philippus Godon. Dia memperlihatkan naskah kuno Mandailing kepada Herman Neubronner van der Tuuk ketika berkunjung ke Panyabungan bulan Maret 1852. Buku berisi berbagai ilmu tentang pertanian, hukum, tradisi, dan pengobatan.



Motivasi
Sampai sekarang, kata mantan peneliti KITLV (pusat kebudayaan Belanda) ini, motivasi pemusnahan naskah kuno itu belum jelas. Basyral sendiri merupakan korban Perang Padri karena nenek moyangnya tewas dalam pertempuran di Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara. Dia sepakat bahwa Perang Padri merupakan perang dagang semata. Penyerbuan Padri ke Sumatera Utara juga terjadi lantaran habisnya logistik di Sumatera Barat.
Respons Basyral ini muncul setelah ada bedah buku berjudul Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri karya Christine Dobbin. Bedah buku ini digelar oleh Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan (Unimed), Selasa (14/10) lalu. Dalam diskusi itu hadir antropolog Unimed Usman Pelly dan Guru Besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumut Nur Ahmad Fadhil Lubis.
Kepala Pussis Unimed, Ichwan Azhari mengatakan perdebatan tentang Perang Padri penting dikembangkan secara akademis. Diskusi ini , katanya, justru semakin bagus untuk meletakkan wacana bahwa sejarah tidak bisa dipandang dari satu sisi saja. Selama ini Perang Padri banyak dilihat dari satu pihak. Belum banyak pendapat ilmiah dari sudut pandang korban perang, katanya.
Dalam persoalan ini, perlu muncul pandangan orang luar seperti pandangan Dobbin tentang Perang Padri. Dikursus tentang ini tidak harus dibatasi oleh masing-masing klaim kebenaran.
07:54:00 - rajungan - No comments

17 October

CAHAYA PERTAMA PENERANG SUMATERA


OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP


Judul : Sejarah Sumatra
Judul asli : The History of Sumatra
Penulis : William Marsden
Pengantar : John Bastin
Penerbit : Komunitas Bambu, 2008
Tebal : xxvi, 446 halaman


William Marsden telah melemparkan cahaya ke atas Pulau Sumatera dengan The History of Sumatra, sehingga semua tampak terang di pulau yang sangat penting itu. Itulah pernyataan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles pada 24 April 1813 ketika membuka diskursus dalam acara HUT XXV Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (The Society of Arts and Sciences in Batavia).
William Marsden (1754-1836) adalah seorang sejarawan Inggris terkenal, berdarah Irlandia kelahiran Dublin. Ia anak laki-laki keenam dan anak kesepuluh dari John Marsden, direktur Bank Nasional Irlandia (The National Bank of Ireland). Ia juga ahli bahasa, pakar numismatik dan pelopor ethnohistory Hindia Timur.
Marsden memang seorang yang fenomenal melalui bukunya The History of Sumatra. Edisi pertama buku itu terbit di London 1783, kedua 1784 dan ketiga 1811. Selain menulis The History of Sumatra, Marsden juga menulis dua buku penting lainnya, A Grammar of Malayan Language dan A Dictionary of the Malayan Language yang diterbitkan tahun 1812 di London. C.P.J. Elout –sebelum menjabat Residen dan Komandan Militer Riau kemudian Residen dan Komandan Militer Pantai Barat Sumatera– telah menerjemahkan kedua buku ini ke dalam bahasa Belanda, masing-masing diterbitkan tahun 1824 dan 1825 di Haarlem.
Karya Marsden yang lain adalah Catalogue of Dictionaries, Vocabularies, Grammars and Alphabets, terbit 1796, Numismata Orientalia, terbit di London 1823-1825, beberapa makalah yang dimuat dalam Philosophical Transactions, dan Archaelogia. Marsden juga menerjemahkan kisah perjalan Marco Polo di bawah judul Travels, terbit 1818.
Marsden kembali ke Inggris 1779. Ia menghadiahkan koleksi koin dari negeri timur kepada The British Museum dan koleksi buku-buku dan manuskrip dunia timur kepada King's College, London. Koleksi yang sangat berharga itu kini disimpan di perpustakaan School of Oriental and African Studies, University of London.
Walaupun banyak karya tentang Sumatera, namun karya klasik Marsden itu tetap istimewa. Nama Marsden melambung dan dikenang tak lain karena The History of Sumatra yang telah menjadi rujukan sejagat.
Karya Marsden itu begitu memukau. Sudah 225 tahun, –terhitung dari edisi pertama 1783– pembaca seantero dunia menikmati karya klasik yang monumental itu. Karya Marsden itu sudah teruji dan terbukti sebagai –sekali lagi meminjam Raffles– “cahaya … sehingga semua tampak terang di Pulau Sumatera”. Sebab itu pula Oxford University Press mencetak ulang The History of Sumatra pada 1966. Sejarawan kawakan Inggris, John Bastin dari School of Oriental and African Studies, bertindak sebagai editor sekaligus menulis pengantar. Sekarang orang ramai dapat menikmati terjemahan bahasa Indonesia buku ini.

Karya Ensiklopedik
Pada usia 16 tahun Marsden menjadi pegawai Kongsi Dagang Inggris, East India Company (EIC). Kemudian pada usia 17 tahun, 1771, ia mengikuti jejak abangnya, John Marsden (1746-1786) yang menjadi dokter di Lais, Bengkulu. William Marsden ditempatkan di Bengkulu sebagai sekretaris EIC. Abangnya, dokter John Marsden, adalah salah seorang nara sumbernya. Saat itulah ia mulai mengerjakan proyek ambisiusnya yang bersifat ensiklopedik mengenai Sumatera, pulau yang pada zamannya masih begitu pekat diliputi misteri.
Cara kerja Marsden tak ubahnya seorang wartawan yang melakukan liputan pandangan mata sekaligus membuat laporan investigasi yang terinci dan mendalam. Menurut Marsden, kebanyakan orang Sumatera tidak pernah melihat laut, sehingga mereka tidak menyadari bahwa tempat tinggalnya adalah pulau. Marsden sendiri menjelajah kawasan pantai dan pedalaman Sumatera. Ia menceritakan keadaan pulau-pulau kecil di pantai barat dan pantai timur Sumatera. Sebab itu, buku ini boleh disebut sebagai buku sejarah ilmu bumi sosial dan ekonomi yang akurat.
Marsden bercerita tentang karakter orang Sumatera, mulai dari Aceh di ujung utara sampai ke Lampung di selatan. Laporannya cukup terinci tentang berbagai tradisi dan hukum adat di pulau itu. Ia mencatat berbagai kearifan lokal, ekologi, cuaca, sistem angin, sungai, pelabuhan di muara sungai, dataran, bukit, gunung, flora beragam-ragam buah, tanaman obat dan aneka ragam bunga. Digambarkannya berbagai fauna, mulai dari serangga, kura-kura sampai pada burung walet dan sarangnya yang lezat serta berkhasiat. Selain itu ia memaparkan fakta sejarah, kehidupan masyarakat, arsitektur tradisional dan pakaian penduduk Sumatera.
Menurut Marsden, Sumatera memiliki potensi ekonomi sangat kuat, di antaranya komoditi perdagangan baik hasil hutan dan bahan mineral, maupun rempah-rempah yang sejak zaman purbakala menjadi komoditi andalan. Marsden juga mengulas cara-cara bercocok tanam, ekstensifikasi pertanian dan perkebunan penduduk, termasuk cara-cara menangkal dan mengusir hama tanaman. Marsden pun memberikan perhatian khusus pada tradisi, hukum, bahasa, aksara, kebudayaan, penduduk asli Pulau Sumatera dan berbagai masalah yang timbul dalam kontak dengan orang asing.
Marsden menyebutkan, emas berkualitas paling tinggi terdapat di Natal dan Mukomuko. Timah di Bangka diekspor ke Cina. Barang dagangan utama di pulau itu adalah tembaga, besi, belerang, salpater, tripang, lemak lebah, gading, dan telur ikan. Menarik sekali, harga sarang burung layang-layang yang putih bening diekspor ke Cina. Harganya setara dengan harga perak dengan berat yang sama.
Marsden menyebutkan, sumbangan besar saudagar Arab yang menyebarkan agama dan tamadun Islam di daerah ini di antaranya adalah memperkenalkan kalender yang menghitung hari dari peredaran bulan. Sedangkan penduduk asli hanya mengandalkan peredaran musim.
Begitu rincinya, Marsden menjabarkan ihwal setiap orang tua di Sumatera adalah tabib. Mereka melakukan terapi air dan terapi panas matahari. Terapi paling unik adalah pengobatan penyakit gila. Penderita diterapi dengan api. Pasien dibakar di pondok setinggi telinga, kalau pasien berhasil meloloskan diri, berarti ia akan segera sembuh.

Pembicara Ulung
Menurut catatan Marsden, di antara bahasa lokal Sumatera yang terkemuka adalah bahasa Batak, Rejang dan Lampung. Ada kemiripan antara aksara suku Batak dan Rejang. Satu pengecualian terjadi di Aceh, bahasanya sangat berbeda dengan bahasa Melayu. Aceh lebih banyak mengadopsi karakter Arab. Mereka menyadari hal itu. Mereka pun tidak banyak mengklaim originalitasnya.
Paparan tentang Aceh disuguhkan oleh Marsden sepanjang 44 halaman atau 10% dari seluruh halaman buku ini. Lantas 36 halaman tentang Minangkabau dan 26 halaman tentang Batak. Paparan yang terbanyak adalah tentang Bengkulu dan wilayah sekitarnya. Wajar, karena Marsden berdiam di Bengkulu, sehingga lebih banyak mendapat informasi tentang daerah itu.
Menurut Marsden, orang Sumatera umumnya adalah pembicara yang ulung. Kemampuan berorasi tampaknya adalah bawaan mereka. Pantas saja, tidak ada pengacara dalam proses peradilan. Kemampuan ini ditanamkan sejak remaja pada anak-anak mereka dengan cara membiasakan anak-anak mereka duduk mendengarkan perdebatan di lingkaran orang-orang dewasa. Anak-anak kecil ini memiliki hak berbicara yang bahkan sama dengan hak bicara kakeknya sendiri. Mereka berhak dan mampu memberikan pendapat di depan publik.
Beberapa wilayah terpenting di Tanah Batak menurut Marsden adalah Angkola yang dihuni lima suku, Mandailing dihuni tiga suku, Toba dihuni lima suku, Padang Bolak, Silindung dan Singkil. Contoh aksara Batak (baca: Mandailing) yang dicetak oleh Marsden, merupakan yang paling awal dalam sejarah aksara tersebut. Menarik untuk disimak, bahwa menurut Marsden penduduk Pasaman adalah orang Batak (baca: Mandailing) yang telah menganut agama Islam dan orang Melayu. Marsden juga melaporkan keadaan pelabuhan Natal, dan pelabuhan di muara sungai di pantai barat Mandailing itu, seperti Tabuyung dan Kunkun. Tidak terkecuali, disinggung juga cerita tentang kanibalisme di wilayah budaya Batak.
Marsden mulai memasuki Tapanuli pada 21 Juni 1772 dengan naik perahu ke muara Sungai Pinangsori, terus ke Lumut. Marsden dan rombongan disambut meriah dengan 30 kali tembakan salvo.
Pria bule yang belia, yang fasih berbahasa Melayu, tampan, berperawakan atletis, berkumis tipis dengan mengenakan Topi London itu, tiba di Hutaimbaru, pusat Angkola, pada 5 Juli 1772. Ia dijemput dan dielu-elukan oleh putera Kuria Hutaimbaru bersama 30-40 orang hulubalang bersenjata lembing dan senapan locok. Sepanjang jalan para penjemput itu memeriahkan suasana dengan memukul gong dan menembakkan bedil ke udara. Tiba di Hutaimbaru mereka disambut dengan upacara yang semarak. Marsden dengan senang hati menerima undangan Kuria Hutaimbaru untuk bermalam di kampung itu. Pada 7 Juli 1772, putera Kuria Hutaimbaru dengan pasukannya mengawal Marsden meneruskan perjalanan menuju Batang Onang di Barumun.
Melalui rute yang lain, Marsden tiba kembali di pantai barat pada 22 Juli 1772. Begitulah rata-rata sambutan orang Sumatera kepada Marsden. Rahasia sukses Marsden antara lain adalah penguasaan bahasa Melayu, pemahaman berbagai bahasa daerah dan etika di Pulau Sumatera, dan sudah barang tentu sikapnya yang simpatik tanpa pernah melanggar nilai-nilai kepatutan.

Terowongan Waktu
Bagi mereka yang berasal dari Sumatera, buku Sejarah Sumatra ini dapat menjadi rujukan sejarah kampung halamannya. Apalagi, Marsden suka menyebut nama orang yang barangkali adalah tokoh dalam daftar silsilah keluarga mereka. Sedangkan bagi mereka yang bukan orang Sumatera, tapi ingin mengetahui ihwal Sumatera secara cepat dan padat, maka buku ini adalah pilihan yang tepat. Laporan Marsden yang inspiratif sangat berguna bagi mahasiswa jurnalistik, pemerhati pembangunan pedesaan, antropolog, sosiolog, ahli hukum, sejarawan dan peminat laporan perjalanan.
Ada satu kekurangan buku ini, ialah penulisan kata Sumatra tanpa huruf “e” karena mengikuti buku aslinya. Namun, edisi bahasa Indonesia buku Marsden ini benar-benar telah ditangani sedemikian rupa. Sehingga, gaya jurnalistik, citra kesejarahan dalam laporan Marsden tampil sangat kuat. Pemilahan topik di bawah sub judul memudahkan pembaca mencerna penuturan Marsden. Bahkan menjadi semakin afdol, karena penerbit mengambil inisiatif memasukkan banyak gambar sezaman yang tidak ada di dalam buku aslinya sendiri. Ini bukan saja akan menguatkan imajinasi historis pembaca, tetapi lebih jauh lagi, buku ini mampu membawa pembaca memasuki terowongan waktu untuk berkelana di Pulau Sumatera dalam suasana abad ke-18.

(Basyral Hamidy Harahap,
pemerhati masalah sosial budaya Mandaling, penulis buku Greget Tuanku Rao, 2007)

23:35:43 - rajungan - No comments

PERANG PADERI BUKAN PERANG AGAMA



OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP



Apa dan Siapa Christine Dobbin

Buku Christine Dobbin (1941-), Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra 1784-1847 pertama kali diterbitkan oleh Curzon Press bekerjasama dengan Scandinavian Institute of Asian Studies, sebagai Monograph Series No. 47 pada tahun 1983. Lembaga ini kemudian berubah nama menjadi Nordic Institute of Asian Studies, disingkat menjadi NIAS. Edisi bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Indonesia Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS) tahun 1992, di bawah judul Kebangkita Islam Dalam Ekonomi Petani yang Sedang Berubah: Sumatra Tengah 1784-1847. Enam belas tahun kemudian, 2008, Penerbit Komunitas Bambu di Depok menerbitkan lagi edisi bahasa Indonesia buku ini di bawah judul Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847.
Judul karya Christine Dobbin tersebut, menegaskan bahwa Christine Dobbin adalah sarjana sejarah yang mengenal dan benar-benar memahami Islam. Saya telah membaca seluruh halaman buku Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847 termasuk kickers. Kalimat panjang 56 kata Prof.Dr. Taufik Abdullah pada halaman kulit IV itu, adalah kutipan dari kumpulan esai Prof.Dr. Taufik Abdullah Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia yang diterbitkan oleh LP3ES 1987.
Setelah membaca dengan tekun buku Christine Dobbin itu, saya berkesimpulan bahwa Perang Paderi sangat sarat dengan perilaku dagang semasa kepemimpinan Tuanku Imam Bonjol. Itu sebabnya judul resensi buku Christine Dobbin tersebut yang dimuat KOMPAS, 27 Juli 2008, menjadi Perang Dagang di Sumatera Barat.
Disertasi Christine Dobbin sendiri adalah tentang kepemimpinan di Kota Bombay, India Barat di bawah judul Urban Leadership in Western India: Politics and Community in Bombay City 1840-1885, diterbitkan di London oleh Oxford University Press, 1972. Sebelumnya, Christine Dobbin sudah menulis sejumlah buku, di antaranya Basic Documents in the Development of India and Pakistan di terbitkan di London oleh Van Nostrand, 1970. Asian Entrepreneurial Minorities: Conjoint Communities in the Making of the World Economy, 1570-1940 diterbitkan di London oleh Richmond, Surrey (Curzon Press Ltd.) yang juga diterbitkan dalam terbitan berseri Scandinavian Monograph Series No. 71, 1996.
Pada tahun-tahun terakhir, Christine Dobbin melakukan riset tentang sejarah gagasan-gagasan (history of ideas) di dunia Timur dan dunia Barat, dan juga tentang hubungan agama dan pembangunan ekonomi. Kini Christine Dobbin adalah salah seorang peneliti di Australian National University di Canberra dan menjadi penasihat Departemen Luar Negeri Australia dalam berbagai masalah yang berkaitan dengan pembangunan di Indonesia.
Sejumlah artikelnya yang lain adalah: Economic Change in Minangkabau as a Factor in the Rise of the Padri Movement 1784-1830 diterbitkan dalam majalah terkemuka tentang studi Indonesia, Indonesia (Cornell University), vol. xxiii (1970). The Exercise of Authority in Minangkabau in the late 18th Century yang dimuat dalam buku suntingan Anthony Reid dan Lance Castles, Pre-Colonial State Systems in Southeast Asia diterbitkan di Kuala Lumpur, 1975. Islamic Revivalism in Minangkabau at the Turn of the Nineteenth Century yang dimuat dalam Modern Asian Studies, vol. viii (1974) di London. Kemudian artikel Tuanku Imam Bonjol (1772-1864) yang dimuat dalam majalah Indonesia (Cornel University) vol. xiii (1972).


Bedah Buku di Unimed

Buku Christine Dobbin Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847 ini dibedah di Unimed pada 14 Oktober 2008. Ikut berbicara dalam seminar itu sebagai pemakalah pertama Prof. Usman Pelly, dan Prof. Nur Ahmad Fadhil Lubis sebagai pemakalah kedua. Sedangkan Prof. Antonius Bungaran Simanjuntak bertindak sebagai pembahas.
Harian KOMPAS Edisi Sumbagut, 15 Oktober 2008 memberitakan, bahwa Prof. Nur Ahmad Fadhil Lubis menyimpulkan bahwa Christine Dobbin kurang memahami Islam. Saya mendapat kesan, bahwa Prof. Nur Ahmad Fadhil Lubis belum membaca buku itu secara tuntas. Karena kesimpulan itu tidak akan muncul dari orang yang sungguh-sungguh membaca buku itu. Pasalnya, kata kunci Islam yang dimunculkan pada judul dan pembahasannya di dalam buku, adalah tentang sejarah masuknya Islam dan keberagamaan orang Minangkabau. Hal itu cukup membuktikan bahwa Christine Dobbin memahami Islam dengan baik.
Apakah dalam setiap pembicaraan tentang pergerakan Islam itu harus disertai keharusan menuliskannya dalam kisah-kisah heroik yang gegap gempita, dan jika tidak, penulisnya jadi kurang memahami Islam?
Sosiolog Prof. Usman Pelly lebih memandang gerakan radikal Padri sebagai suatu yang positif. Katanya, gerakan radikal Paderi tidak hanya mampu mengisi dan mendinamisasi perubahan sosial, tetapi juga memberikan perlindungan dan pengayoman kehidupan ekonomi baru yang mulai berkembang pada saat itu. Dan bahwa, kaum Padri merasa mendapat tugas sejarah untuk memulai sebuah perubahan radikal dari bawah.
Kesimpulan Prof. Usman Pelly ini bukan saja keliru tetapi juga sangat gegabah. Karena ia telah menafikan tragedi kemanusiaan yang luar biasa yang dilakukan oleh kaum Padri, bukan saja di wilayah budaya Minangkabau, tetapi juga di Tapanuli. Perang Padri adalah perang paling lama (1803-1838) dan paling kejam dalam sejarah Indonesia abad XIX. Mereka bukan saja berupaya menguasai sumber daya ekonomi di luar Minangkabau, tetapi juga menghancurkan memori kolektif dan karya sastra serta perbendaharaan kearifan lokal dengan membakarnya dan membunuh orang-orang arif dan terhormat.
Kalau begini cara berpikirnya, apakah kita harus memuji Daendels, penguasa yang telah membangun jalan ekonomi dari ujung ke ujung Pulau Jawa dari Anyer ke Panarukan, sementara proses pembangunannya sendiri menimbulkan tragedi kemanusiaan yang luar biasa?


Penghancuran Tamadun Batak

Asisten Residen Mandailing Angkola (1848-1857), Alexander Philippus Godon, memperlihatkan kepada Dr. Herman Neubronner van der Tuuk ―ketika berkunjung ke Panyabungan bulan Maret 1852―, dua buku besar naskah Mandailing. Buku itu berhasil diselamatkan orang Mandailing dari kebringasan kaum Paderi yang membakari buku-buku di wilayah Tabagsel. Padahal, buku-buku itu berisi berbagai ilmu tentang pertanian, hukum, tradisi, pengobatan dll.
Apa motivasi pemusnahan itu belum jelas, bisa saja disebabkan kebodohan kaum Paderi yang tidak mampu membaca aksara Mandailing, sehingga mereka ingin memusnahkannya. Ini merupakan bagian dari tragedi dan upaya penghapusan tamadun Mandailing. Maklumlah, sampai kini kita belum pernah membaca buku yang beraksara Minangkabau, karena mungkin mereka tak memiliki aksara sendiri.
Menarik penuturan Dr. Herman Neubronner van der Tuuk dalam Een Vorst Onder de Taalgeleerden: Herman Neubronner van der Tuuk Taalafgevaardigde voor Indië van het Nederlandsch Bijbelgenootschap 1847-1873: Een bronnenpublicatie bezorgd door Kees Groeneboer. . - Leiden: KITLV, 2002. - p. 123, bahwa dalam perjalanannya ke Panyabungan pertengahan Maret 1852 itu, ia beristirahat di warung kopi di Aek Sijorni di tepi Batang Angkola di dekat simpang ke kampung Bulu Gading. Van der Tuuk melihat seseorang membaca bagian dari satu buku beraksara Mandailing dalam bahasa Melayu berjudul Hikajat Toeankoe Orang Moeda. Halaman judul buku itu ditulis dengan aksara Arab gundul sedangkan isinya dengan aksara Mandailing berbahasa Melayu.
Beruntung, kecerdasan lokal ini tidak punah secara total, karena masih ada buku beraksara Mandailing yang selamat dari kezaliman kaum Paderi. Sehingga tradisi menulis buku dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan dan humaniora pada orang Mandailing masih berlanjut.


Perang Dagang

Saya sependapat dengan antropolog Prof. Bungaran Antonius Simanjuntak yang mengatakan, bahwa Perang Paderi bukanlah perang agama. Menurut penelitiannya, serbuan kaum Paderi ke Tapanuli Selatan adalah karena habisnya logistik di Sumatera Barat.
Kuatnya semangat dagang orang Minangkabau dan kaum Padri digambarkan oleh Christine Dobbin secara gamblang. Beberapa penjelasan tentang semangat dagang kaum Paderi antara lain ditulis oleh Christine Dobbin pada halaman 260, 261, 280, 281 sbb.:
Pada kira-kira tahun 1812, Bonjol mulai menarik penduduk dari tempat-tempat lain di Minangkabau. Mereka datang untuk mengkaji ajaran Padri maupun untuk ikut serta dalam perdagangan desa yang sedang berkembang. Sama seperti pemimpin utama Padri lainnya, Imam Bonjol ingin membuat kampung halamannya menjadi pusat dagang yang penting. Dalam memoarnya disebutkan bahwa segera setelah ia mendirikan tempat pemukiman itu, ia menanam padi dan pohon buah-buahan dan mendirikan tempat peternakan sapi dan kuda. Selanjutnya, ia berkata bahwa kira-kira pada tahun 1812, Bonjol “begitu makmur berkat meningkatnya industri dan perdagangan sehingga banyak orang datang ke situ karena tertarik pada murahnya harga bahan makanan sebab beras, ternak, dan kuda tersedia berlimpah”. Tambahan lagi, setelah benteng desa lebih disempurnakan dan penduduknya dipersenjatai dengan layak, “mereka memusatkan diri sepenuhnya pada perdagangan. Dengan menikmati keadaan damai dan bersatu, kemakmuran nagari Bonjol makin lama makin bertambah dan pedagang-pedagang dari tempat lain banyak yang datang ke sini” (hal. 260).
Walaupun sulit dibedakan antara yang suci dan yang duniawi, keadaan menjadi lebih mudah oleh kenyataan bahwa Imam Bonjol dengan cepat menjadi pemimpin perang dan perhatiannya tertuju pada hal lain. Kepada murid-muridnya yang berbondong-bondong datang ke Bonjol, ia memberikan latihan silat. Kemudian, ia membentuk pasukan khusus setelah kedudukannya di lembah cukup kuat untuk menyatakan jihad kepada daerah sekitarnya. Ia lalu mengembangkan pola serbuan tahunan ke daerah-daerah sekitarnya dan pasukan Bonjol selalu kembali dengan hasil rampasan yang cukup banyak. Setelah menang perang, mereka beristirahat untuk bercocok tanam selama satu tahun sebelum melakukan serbuan lain. Serbuan-serbuan ini biasanya dilakukan atas permintaan salah seorang pemimpin Padri. Pada diri mereka bercampur erat semangat agama dan keserakahan manusiawi. Diberitakan pada suatu penyerbuan di Agam, orang Bonjol tidak saja kembali dengan membawa ternak rampasan, melainkan juga piring, cangkir, kuali, dan alat keperluan rumah tangga lainnya (hal. 261).
Kebanyakan perdagangan produk Batak pun berada di tangan orang-orang Minangkabau. Oleh sebab itu, serbuan pasukan Padri ke Mandailing dan hulu Barumun hanya merupakan satu tahap lain dalam pembebasan yang terus menerus dari dunia Minangkabau ke dunia Batak yang telah berlangsung berabad-abad (hal. 280).
Tidak mengherankan jika Imam Bonjol memalingkan matanya ke utara, ke arah tetangganya yang kaya, setelah ia menetapkan kekuasaannya di Lembah Alahan Panjang. Lembah yang panjang dan sempit di sebelah lembahnya menampakkan kemakmuran yang cukup besar. Para pemimpin masyarakat Padri di Alahan Panjang menyadari bahwa kepemilikan atas tambang emas Rao pasti akan memberikan dimensi ekstra pada jaringan dagang yang hendak mereka ciptakan. Selain itu, tenaga kerja dari lembah itu juga merupakan tambahan yang sangat diharapkan. Imam Bonjol memulai serbuannya ke Rao dengan mengawasi pembuatan jalan yang baik ke Lubuk Sikaping, desa utama di ujung selatan lembah (hal. 281).


Tuanku Imam Bonjol Ingin Bebas

Dua kalimat terakhir Christine Dobbin dalam buku ini pada halaman 379 edisi bahasa Indonesia dan halaman 244 teks aslinya, sbb.: “Lebih dari segalanya, sejarahnya telah mencerminkan keinginannya. Hal itu telah diungkapkan oleh Imam Bonjol sebelum ia ditangkap, yakni menjadi “seorang Melayu yang bebas” (hal. 379). [More than anything his history has reflected his wish, expressed by Imam Bonjol before his capture, to be “a free Malay”].
Wallahualam bis sawwab (DanAllah Maha Tahu sesungguhnya).


(Basyral Hamidy Harahap, pemerhati sosial budaya Mandailing dan penulis buku Greget Tuanku Rao, 2007)
23:18:20 - rajungan - No comments