<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1"?>
<rss version="2.0">
  <channel>
    <title>Blog of Basyral Hamidy Harahap</title>
    <link>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/</link>
    <description></description>
    <!-- optional tags -->
    <language>en-us</language>           <!-- valid langugae goes here -->
    <generator>Nucleus v3.01</generator>
    <copyright>©</copyright>             <!-- Copyright notice -->
    <category>Weblog</category>
    <docs>http://backend.userland.com/rss</docs>
    <image>
      <url>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog//nucleus/nucleus2.gif</url>
      <title>Blog of Basyral Hamidy Harahap</title>
      <link>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/</link>
    </image>
    <item>
 <title><![CDATA[PAHLAWAN NASIONAL ADAM MALIK]]></title>
 <link>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=47</link>
<description><![CDATA[<br />
OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP<br />
<br />
<br />
Fabel Sang Pelanduk atau Si Kancil dalam khasanah sastra lama, memperlihatkan kecerdikan Si Kancil dalam berhadapan dengan makhluk besar seperti gajah, buaya dan harimau. Tak pernah Si Kancil dibina atau direkrut oleh binatang buas seperti buaya, gajah, harimau dan lain-lain. Justru sebaliknya, Si Kancil yang cerdik itu menjinakkan dan memanfaatkan hewan-hewan besar dan buas itu untuk meraih cita-citanya.<br />
<br />
Si Kancil adalah julukan Si Bung, panggilan akrab Adam Malik (Pematang Siantar, 22 Juli 1917 - Bandung, 5 September 1984), karena ia seringkali mengamalkan gaya Si Kancil dalam mengatasi berbagai masalah bangsa yang pelik. Itulah sosok seorang nasionalis sejati yang lahir dan dibesarkan dalam kultur orang Mandailing yang kuat mengajarkan bahwa harta paling mahal setelah keimanan adalah pendirian. Kedua harta termahal itu tak pernah digadaikan apa pun tantangannya.  <br />
<br />
Kata kunci ilmu Sang Kancil yang diamalkan oleh Adam Malik adalah “Semua Bisa Diatur”. Adam Malik sangat mudah bergaul dengan siapa pun, ini adalah cirinya sebagai wartawan sejati. Siapa pun yang pernah berkenalan dengan pendiri Kantor Berita Antara, 13 Desember 1937 ini, pasti merasa seolah sudah berkenalan puluhan tahun, bahkan merasa seolah bersahabat sejak kecil.  <br />
<br />
Sejarah mencatat sejumlah reputasinya bagi menegakkan dan membela martabat bangsa, antara lain:<br />
<br />
1.Dalam keadaan kritis berhasil menghadirkan Bung Karno dan Bung Hatta dalam rapat raksasa di Lapangan Ikada, 19 September 1945, di bawah pengawalan ketat tentara pendudukan Jepang.<br />
<br />
2.Pada usia 22 tahun menjadi Ketua III Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).<br />
<br />
3.Melakukan serangkaian pertemuan rahasia untuk membebebaskan Irian Barat dengan memberitahukan kepada pihak Amerika bahwa senjata canggih Rusia siap siaga membebaskan Irian Barat. Kemudian Amerika menekan Belanda untuk menarik armadanya dari peraran Irian Barat (baca buku Adam Malik Mengabdi Republik, jilid 2).<br />
<br />
4.Presiden Sukarno memutuskan Indonesia keluar dari PBB. Adam Malik berpendapat, PBB sangat penting bagi bangsa Indonesia, maka atas inisiatif Adam Malik sendiri meminta kepada PBB untuk tidak mencoret keanggotaan Indonesia di PBB. Adam Malik pun menghadiri Sidang-sidang Umum PBB tanpa minta izin kepada Presiden Sukarno. Itu terjadi ketika Adam Malik menjabat Duta Besar Indonesia dan Berkuasa Penuh untuk Uni Soviet dan Polandia.<br />
<br />
5.Dengan melakukan pendekatan kekeluargaan Adam Malik berperan besar mengakhiri Konfrontasi Indonesia-Malaysia, 1966. <br />
<br />
6.Menggagas pembentukan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).<br />
<br />
7.Ketua Sidang Umum PBB 1971.<br />
<br />
8.Ketua DPR-MPR.<br />
<br />
9.Wakil Presiden Republik Indonesia.<br />
<br />
10.Anggota Komisi Willy Brandt yang bertujuan menggalakkan Dialog Utara-Selatan.<br />
<br />
Inilah sebagian dari reputasi Adam Malik, yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 9 November 1998, sebagai salah seorang pendiri Republik Indonesia.<br />
<br />
Maka menjadi aneh pernyataan Perwira CIA Clyde McAvoy yang menyebutkan bahwa dirinya telah merekrut dan mengendalikan Adam Malik. Hal itu ditulis oleh wartawan The New York Times, Tim Weiner, dalam bukunya Legacy of Ashes: The History of CIA yang edisi bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, dibawah judul Membongkar Kegagalan CIA. <br />
<br />
Penulis kata pengantar terbitan Gramedia itu, Budiarto Shambazy, mengungkapkan kepada detik.com bahwa pernyataan McAvoy itu ngawur. <br />
<br />
Bahwa bualan agen CIA itu menyebutkan dirinya melakukan pertemuan-pertemuan rahasia dengan Adam Malik, boleh-boleh saja. Ini adalah bagian dari “Semua Bisa Diatur”.  Darah wartawan Adam Malik mengalir deras dalam saat-saat seperti itu. Jangankan diajak orang lain, ia sendiri pun biasa merekayasa pertemuan seperti itu dengan siapa pun juga. Inilah salah satu ciri sosok Adam Malik yang mengasyikkan. <br />
<br />
Tak pelak, bisa saja, sang agen CIA  yang mendapat tugas merekrut Adam Malik itu, terbuai dengan kata-kata “Semua Bisa Diatur” karena bisa melakukan pertemuan-pertemuan khusus dengan Adam Malik. Ia merasa dirinya telah merekrut dan mengendalikan Adam Malik. <br />
<br />
Inilah pernyataan yang naïf dari seorang yang tidak mengenal Adam Malik, yang tidak paham pada bahasa tubuh Adam Malik yang tak jarang lebih kuat daripada kalimat-kalimat yang diucapkannya. Inilah salah satu warisan nilai luhur budaya Mandailing, bahwa tidak semua hal harus diucapkan, inti pembicaraan justru diisyaratkan dengan bahasa tubuh. Lihatlah tokoh-tokoh nasional berdarah Mandailing yang tetap fasih berbahasa Mandailing seperti DR. Abdul Harris Nasution yang sekampung dengan Adam Malik di Hutapungkut, dan Mochtar Lubis yang terkenal kuat pendiriannya. Ini tak dipahami oleh si Perwira CIA itu. Kemudian dengan gegabah menyebutkan bahwa dirinya telah merekrut dan mengendalikan Adam Malik. <br />
<br />
Tepatlah judul buku ini Membongkar Kegagalan CIA karena para anggota CIA itu tak jarang gagal karena tak memahami nilai-nilai luhur bangsa-bangsa yang digarapnya. <br />
<br />
Kepada Penerbit Gramedia Pustaka Utama kita menganjurkan agar menggelar bedah buku Membongkar Kegagalan CIA  dengan menghadirkan Tim Weiner agar ia dapat ditanya langsung, tentang apa saja sumbernya. Selayaknya pula, Tim Weiner membuka semua sumber yang digunakannya, agar dapat dibaca orang lain. Adalah lazim, bahwa satu dokumen dapat diinterpretasikan dari sudut pandang yang berbeda.<br />
<br />
Jika ini dilakukan, masalah ini menjadi selesai secara elegan.<br />
<br />
(*** Basyral Hamidy Harahap, Anggota Pendiri Yayasan Adam Malik, penulis buku Kejuangan Adam Malik, 1998).]]></description>
 <category>General</category>
<comments>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=47</comments>
 <pubDate>Sat, 29 Nov 2008 23:28:39 -0600</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[<b>KORBAN PERANG PADRI MINTA PELURUSAN SEJARAH</b>]]></title>
 <link>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=46</link>
<description><![CDATA[Kamis, 16 Oktober 2008<br />
20:21 WIB<br />
<br />
Pengantar dari saya terhadap berita ini, sbb.: <br />
Tulisan ini diangkat oleh Redaksi KOMPAS Edisi Sumbagut dari artikel yang saya kirimkan 16 Oktober 2008, berjudul <b>Perang Paderi Bukan Perang Agama  </b>dan mereka menyiarkannya dalam Kompas.Com di bawah judul <b>Korban Perang Padri Minta Pelurusan Sejarah </b>yang diluncurkan hari Kamis, 16 Oktober 2008, pukul 20.21 WIB. Teks lengkap artikel itu saya luncurkan di Blog saya pada 18 Oktober 2008.   Sayangnya, 18 Oktober 2008, KOMPAS Cetak Edisi Sumbagut mengubah  artikel itu menjadi <b>Padri: Korban Perang Minta Pelurusan Sejarah </b>dengan menghilangkan kata “gegabah” dalam kritik saya terhadap pendapat pemakalah di Unimed itu yang memandang Perang Paderi sebagai gerakan yang positif dan mengganti kata "memperlihatkan" dengan kata "mengatakan" dua naskah kuno Mandailing kepada Dr. Herman Neubronner van der Tuuk oleh Asisten Residen Mandailing Angkola, Alexander Philippus Godon.  Artikel itu adalah hasil riset, liputan tentang peristiwa yang spektakuler dalam sejarah Indonesia. Hal ini perlu saya tegaskan, agar artikel itu jangan dipandang merupakan reaksi pribadi sebagai korban Perang Paderi.*** Basyral Hamidy Harahap.<br />
<br />
<br />
MEDAN, KAMIS - Polemik soal Perang Padri mendapat tanggapan sejarawan sekaligus mereka yang menjadi korban. Mereka meminta pelurusan sejarah sehingga bisa dipahami secara arif generasi berikutnya. Ada hal-hal dalam Perang Padri yang menyimpan luka mendalam bagi korban perang .<br />
Hal ini disampaikan sejarawan melalui surat elektroniknya yang diterima Kompas, Kamis (16/10) di Medan. Gerakan radikal Padri tidak bisa dipandang sebagai suatu yang positif. Apalagi gerakan radikal Padri dipandang mampu mengisi dan mendinamisasi perubahan sosial saat itu, kata pemerhati sejarah Basyral Hamidi Harahap.<br />
Basyral membantah kesimpulan tersebut. Penilaian terhadap Perang Padri seperti itu dia anggap gegabah. Tragedi kemanusiaan yang luar biasa tidak bisa dinafikan. Bukan saja di wilayah budaya Minangkabau, tetapi juga di Tapanuli, kata penulis buku Greget Tuanku Rao ini.<br />
Menurut dia Perang Padri adalah perang paling lama (1803-1838) dan paling kejam dalam sejarah Indonesia abad ke-19. Mereka bukan saja berupaya menguasai sumber daya ekonomi di luar Minangkabau, tetapi juga menghancurkan memori kolektif dan karya sastra serta perbendaharaan kearifan lokal dengan membakarnya dan membunuh orang-orang arif dan terhormat.<br />
Dalam Perang Padri banyak sekali naskah sejarah yang hilang. Beberapa di antaranya berhasil diselamatkan oleh Asisten Residen Mandailing Angkola (1848-1857), Alexander Philippus Godon. Dia memperlihatkan naskah kuno Mandailing kepada Herman Neubronner van der Tuuk ketika berkunjung ke Panyabungan bulan Maret 1852. Buku berisi berbagai ilmu tentang pertanian, hukum, tradisi, dan pengobatan.<br />
<br />
<br />
<br />
Motivasi <br />
Sampai sekarang, kata mantan peneliti KITLV (pusat kebudayaan Belanda) ini, motivasi pemusnahan naskah kuno itu belum jelas. Basyral sendiri merupakan korban Perang Padri karena nenek moyangnya tewas dalam pertempuran di Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara. Dia sepakat bahwa Perang Padri merupakan perang dagang semata. Penyerbuan Padri ke Sumatera Utara juga terjadi lantaran habisnya logistik di Sumatera Barat.<br />
Respons Basyral ini muncul setelah ada bedah buku berjudul Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri karya Christine Dobbin. Bedah buku ini digelar oleh Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan (Unimed), Selasa (14/10) lalu. Dalam diskusi itu hadir antropolog Unimed Usman Pelly dan Guru Besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumut Nur Ahmad Fadhil Lubis.<br />
Kepala Pussis Unimed, Ichwan Azhari mengatakan perdebatan tentang Perang Padri penting dikembangkan secara akademis. Diskusi ini , katanya, justru semakin bagus untuk meletakkan wacana bahwa sejarah tidak bisa dipandang dari satu sisi saja. Selama ini Perang Padri banyak dilihat dari satu pihak. Belum banyak pendapat ilmiah dari sudut pandang korban perang, katanya.<br />
Dalam persoalan ini, perlu muncul pandangan orang luar seperti pandangan Dobbin tentang Perang Padri. Dikursus tentang ini tidak harus dibatasi oleh masing-masing klaim kebenaran.]]></description>
 <category>General</category>
<comments>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=46</comments>
 <pubDate>Sat, 18 Oct 2008 07:54:00 -0500</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[CAHAYA PERTAMA PENERANG SUMATERA]]></title>
 <link>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=44</link>
<description><![CDATA[<br />
OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP<br />
<br />
<br />
Judul 	: Sejarah Sumatra<br />
Judul asli 	: The History of Sumatra<br />
Penulis 	: William Marsden<br />
Pengantar 	: John Bastin<br />
Penerbit 	: Komunitas Bambu, 2008<br />
Tebal 	: xxvi, 446 halaman<br />
<br />
<br />
William Marsden telah melemparkan cahaya ke atas Pulau Sumatera dengan The History of Sumatra, sehingga semua tampak terang di pulau yang sangat penting itu. Itulah  pernyataan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles pada 24 April 1813  ketika  membuka diskursus dalam acara HUT XXV Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (The Society of Arts and Sciences in Batavia).<br />
William Marsden (1754-1836) adalah seorang sejarawan Inggris terkenal, berdarah Irlandia kelahiran Dublin. Ia anak laki-laki keenam dan anak kesepuluh dari John Marsden, direktur Bank Nasional Irlandia (The National Bank of Ireland). Ia juga ahli bahasa, pakar numismatik dan pelopor ethnohistory Hindia Timur. <br />
Marsden memang seorang yang fenomenal melalui bukunya The History of Sumatra. Edisi pertama buku itu terbit di London 1783, kedua 1784 dan ketiga 1811. Selain menulis The History of Sumatra, Marsden juga menulis dua buku penting lainnya, A Grammar of Malayan Language dan A Dictionary of the Malayan Language yang diterbitkan tahun 1812 di London. C.P.J. Elout –sebelum menjabat Residen dan Komandan Militer Riau kemudian Residen dan Komandan Militer Pantai Barat Sumatera– telah menerjemahkan kedua buku ini ke dalam bahasa Belanda, masing-masing diterbitkan tahun 1824 dan 1825 di Haarlem. <br />
Karya Marsden yang lain adalah Catalogue of Dictionaries, Vocabularies, Grammars and Alphabets, terbit 1796, Numismata Orientalia, terbit di London 1823-1825, beberapa makalah yang dimuat dalam Philosophical Transactions, dan Archaelogia. Marsden juga menerjemahkan kisah perjalan Marco Polo di bawah judul Travels, terbit 1818. <br />
Marsden kembali ke Inggris 1779. Ia menghadiahkan koleksi koin dari negeri timur kepada The British Museum dan koleksi buku-buku dan manuskrip dunia timur kepada King's College, London. Koleksi yang sangat berharga  itu kini disimpan di perpustakaan School of Oriental and African Studies, University of London.<br />
Walaupun banyak karya tentang Sumatera, namun karya klasik Marsden itu tetap istimewa. Nama Marsden melambung dan dikenang tak lain karena The History of Sumatra  yang telah menjadi rujukan sejagat.<br />
Karya Marsden itu begitu memukau.  Sudah 225 tahun, –terhitung dari edisi pertama 1783–  pembaca seantero dunia menikmati karya klasik yang monumental itu. Karya Marsden itu sudah teruji dan terbukti sebagai –sekali lagi meminjam Raffles–  “cahaya … sehingga semua tampak terang  di Pulau Sumatera”.  Sebab itu pula Oxford University Press mencetak ulang The History of Sumatra pada 1966. Sejarawan kawakan Inggris, John Bastin dari School of Oriental and African Studies, bertindak sebagai editor sekaligus menulis pengantar. Sekarang orang ramai dapat menikmati terjemahan bahasa Indonesia buku ini. <br />
<br />
<b>Karya Ensiklopedik</b><br />
Pada usia 16 tahun Marsden menjadi pegawai Kongsi Dagang Inggris, East India Company (EIC). Kemudian pada usia 17 tahun, 1771, ia mengikuti jejak abangnya, John Marsden (1746-1786) yang menjadi dokter di Lais, Bengkulu. William Marsden ditempatkan di Bengkulu sebagai sekretaris EIC. Abangnya, dokter John Marsden,  adalah  salah seorang nara sumbernya. Saat itulah ia mulai mengerjakan proyek ambisiusnya yang bersifat ensiklopedik mengenai Sumatera, pulau yang pada zamannya masih begitu pekat diliputi misteri.<br />
Cara kerja Marsden tak ubahnya seorang wartawan yang melakukan liputan pandangan mata sekaligus membuat laporan investigasi yang terinci dan mendalam. Menurut Marsden, kebanyakan orang Sumatera tidak pernah melihat laut, sehingga mereka tidak menyadari bahwa tempat tinggalnya adalah pulau. Marsden sendiri menjelajah kawasan pantai dan pedalaman Sumatera. Ia menceritakan keadaan pulau-pulau kecil di pantai barat dan pantai timur Sumatera. Sebab itu, buku ini boleh disebut sebagai buku sejarah ilmu bumi sosial dan ekonomi yang akurat. <br />
Marsden bercerita tentang karakter orang Sumatera, mulai dari Aceh di ujung utara sampai ke Lampung di selatan. Laporannya cukup terinci tentang berbagai tradisi dan hukum adat di pulau itu. Ia mencatat berbagai kearifan lokal, ekologi, cuaca, sistem angin, sungai, pelabuhan di muara sungai, dataran, bukit, gunung, flora beragam-ragam buah, tanaman obat dan aneka ragam bunga. Digambarkannya berbagai fauna, mulai dari serangga, kura-kura sampai pada burung walet dan sarangnya yang lezat serta berkhasiat. Selain itu ia  memaparkan fakta sejarah, kehidupan masyarakat, arsitektur tradisional dan pakaian penduduk Sumatera.<br />
Menurut Marsden, Sumatera memiliki potensi ekonomi sangat kuat, di antaranya  komoditi perdagangan baik hasil hutan dan bahan mineral, maupun rempah-rempah yang sejak zaman purbakala menjadi komoditi andalan. Marsden juga mengulas cara-cara bercocok tanam, ekstensifikasi pertanian dan perkebunan penduduk, termasuk cara-cara menangkal dan mengusir hama tanaman. Marsden pun memberikan perhatian khusus pada tradisi, hukum, bahasa, aksara, kebudayaan, penduduk asli Pulau Sumatera dan berbagai masalah yang timbul dalam kontak dengan orang asing. <br />
Marsden menyebutkan, emas berkualitas paling tinggi terdapat di Natal dan Mukomuko. Timah di Bangka diekspor ke Cina. Barang dagangan utama di pulau itu adalah tembaga, besi, belerang, salpater, tripang, lemak lebah, gading, dan telur ikan. Menarik sekali, harga sarang burung layang-layang yang putih bening diekspor ke Cina. Harganya setara dengan harga perak dengan berat yang sama.<br />
Marsden menyebutkan, sumbangan besar saudagar Arab yang menyebarkan agama dan tamadun Islam di daerah ini di antaranya adalah memperkenalkan kalender yang menghitung hari dari peredaran bulan. Sedangkan penduduk asli hanya mengandalkan peredaran musim. <br />
Begitu rincinya, Marsden menjabarkan ihwal setiap orang tua di Sumatera adalah tabib. Mereka melakukan terapi air dan terapi panas matahari. Terapi paling unik adalah pengobatan penyakit gila. Penderita diterapi dengan api. Pasien dibakar di pondok setinggi telinga, kalau pasien berhasil meloloskan diri, berarti ia akan segera sembuh.<br />
<br />
<b>Pembicara Ulung</b><br />
Menurut catatan Marsden, di antara bahasa lokal Sumatera yang terkemuka adalah bahasa Batak, Rejang dan Lampung. Ada kemiripan antara aksara suku Batak dan Rejang. Satu pengecualian terjadi di Aceh, bahasanya sangat berbeda dengan bahasa Melayu. Aceh lebih banyak mengadopsi karakter Arab. Mereka menyadari hal itu. Mereka pun tidak banyak mengklaim originalitasnya. <br />
Paparan tentang Aceh disuguhkan oleh Marsden sepanjang 44 halaman atau 10% dari seluruh halaman buku ini. Lantas 36 halaman tentang Minangkabau dan 26 halaman tentang Batak. Paparan yang terbanyak adalah tentang Bengkulu dan wilayah sekitarnya. Wajar, karena Marsden berdiam di Bengkulu, sehingga lebih banyak mendapat informasi tentang daerah itu. <br />
Menurut Marsden, orang Sumatera umumnya adalah pembicara yang ulung. Kemampuan berorasi tampaknya adalah bawaan mereka. Pantas saja, tidak ada pengacara dalam proses peradilan. Kemampuan ini ditanamkan sejak remaja pada anak-anak mereka dengan cara membiasakan anak-anak mereka duduk mendengarkan perdebatan di lingkaran orang-orang dewasa. Anak-anak kecil ini memiliki hak berbicara yang bahkan sama dengan hak bicara kakeknya sendiri. Mereka berhak dan mampu memberikan pendapat di depan publik. <br />
Beberapa wilayah terpenting di Tanah Batak menurut Marsden adalah Angkola yang  dihuni lima suku, Mandailing dihuni tiga suku,  Toba dihuni lima suku, Padang Bolak, Silindung dan Singkil. Contoh aksara Batak (baca: Mandailing) yang dicetak oleh Marsden,  merupakan yang paling awal dalam sejarah aksara tersebut.  Menarik untuk disimak, bahwa menurut Marsden penduduk Pasaman adalah orang Batak (baca: Mandailing) yang telah menganut agama Islam dan orang Melayu. Marsden juga melaporkan keadaan pelabuhan Natal, dan pelabuhan di muara sungai di pantai barat Mandailing itu, seperti Tabuyung dan Kunkun. Tidak terkecuali, disinggung juga cerita tentang kanibalisme di wilayah budaya Batak. <br />
Marsden mulai memasuki Tapanuli pada 21 Juni 1772 dengan naik perahu ke muara Sungai Pinangsori, terus ke Lumut. Marsden dan rombongan disambut meriah dengan 30 kali tembakan salvo. <br />
Pria bule yang belia, yang fasih berbahasa Melayu, tampan, berperawakan atletis, berkumis tipis dengan mengenakan Topi London itu, tiba di Hutaimbaru, pusat Angkola, pada 5 Juli 1772. Ia dijemput dan dielu-elukan oleh putera Kuria Hutaimbaru bersama 30-40 orang hulubalang bersenjata lembing dan senapan locok. Sepanjang jalan para penjemput itu memeriahkan suasana dengan memukul gong dan menembakkan bedil ke udara. Tiba di Hutaimbaru mereka disambut dengan upacara yang semarak. Marsden dengan senang hati menerima undangan Kuria Hutaimbaru untuk bermalam di kampung itu. Pada 7 Juli 1772, putera Kuria Hutaimbaru dengan pasukannya mengawal Marsden meneruskan perjalanan menuju Batang Onang di Barumun. <br />
Melalui rute yang lain, Marsden tiba kembali di pantai barat pada 22 Juli 1772. Begitulah rata-rata sambutan orang Sumatera kepada Marsden. Rahasia sukses Marsden antara lain adalah penguasaan bahasa Melayu, pemahaman berbagai bahasa daerah dan etika di Pulau Sumatera, dan sudah barang tentu sikapnya yang simpatik tanpa pernah melanggar nilai-nilai kepatutan.<br />
<br />
<b>Terowongan Waktu</b><br />
Bagi mereka yang berasal dari Sumatera, buku Sejarah Sumatra ini dapat menjadi rujukan sejarah kampung halamannya. Apalagi, Marsden suka menyebut nama orang yang barangkali adalah tokoh dalam daftar silsilah keluarga mereka. Sedangkan bagi mereka yang bukan orang Sumatera, tapi ingin mengetahui ihwal Sumatera secara cepat dan padat, maka buku ini adalah pilihan yang tepat. Laporan Marsden yang inspiratif sangat berguna bagi mahasiswa jurnalistik, pemerhati pembangunan pedesaan, antropolog, sosiolog, ahli hukum, sejarawan dan peminat laporan perjalanan.<br />
Ada satu kekurangan buku ini, ialah penulisan kata Sumatra tanpa huruf “e” karena  mengikuti buku aslinya. Namun, edisi bahasa Indonesia buku Marsden ini benar-benar telah ditangani sedemikian rupa. Sehingga, gaya jurnalistik, citra kesejarahan dalam laporan Marsden tampil sangat kuat. Pemilahan topik di bawah sub judul memudahkan pembaca  mencerna penuturan Marsden. Bahkan menjadi semakin afdol, karena penerbit mengambil inisiatif memasukkan banyak gambar sezaman yang tidak ada di dalam buku aslinya sendiri. Ini bukan saja akan menguatkan imajinasi historis pembaca, tetapi lebih jauh lagi, buku ini mampu membawa pembaca memasuki terowongan waktu untuk berkelana di Pulau Sumatera dalam suasana abad ke-18. <br />
<br />
(Basyral Hamidy Harahap, <br />
pemerhati masalah sosial budaya Mandaling, penulis buku Greget Tuanku Rao, 2007)<br />
<br />
]]></description>
 <category>General</category>
<comments>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=44</comments>
 <pubDate>Fri, 17 Oct 2008 23:35:43 -0500</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[PERANG PADERI BUKAN PERANG AGAMA]]></title>
 <link>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=43</link>
<description><![CDATA[<br />
<br />
OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP<br />
<br />
<br />
<br />
<b>Apa dan Siapa Christine Dobbin</b><br />
<br />
Buku Christine Dobbin (1941-), Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra 1784-1847 pertama kali diterbitkan oleh Curzon Press bekerjasama dengan Scandinavian Institute of Asian Studies, sebagai Monograph Series No. 47 pada tahun 1983. Lembaga ini kemudian berubah nama menjadi Nordic Institute of Asian Studies, disingkat menjadi NIAS. Edisi bahasa Indonesianya  diterbitkan oleh Indonesia Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS) tahun 1992, di bawah judul Kebangkita Islam Dalam Ekonomi Petani yang Sedang Berubah: Sumatra Tengah 1784-1847. Enam belas tahun kemudian, 2008, Penerbit Komunitas Bambu di Depok menerbitkan lagi edisi bahasa Indonesia buku ini di bawah judul Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847.<br />
Judul karya Christine Dobbin tersebut, menegaskan bahwa Christine Dobbin adalah sarjana sejarah yang mengenal dan benar-benar memahami Islam. Saya telah membaca seluruh halaman buku Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847 termasuk kickers. Kalimat panjang 56 kata Prof.Dr. Taufik Abdullah pada halaman kulit IV itu, adalah kutipan dari kumpulan esai Prof.Dr. Taufik Abdullah Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia yang diterbitkan oleh LP3ES 1987.  <br />
Setelah membaca dengan tekun buku Christine Dobbin itu, saya berkesimpulan bahwa Perang Paderi sangat sarat dengan perilaku dagang semasa kepemimpinan Tuanku Imam Bonjol. Itu sebabnya judul resensi buku Christine Dobbin tersebut yang dimuat KOMPAS, 27 Juli 2008, menjadi Perang Dagang di Sumatera Barat. <br />
Disertasi Christine Dobbin sendiri adalah tentang kepemimpinan di Kota Bombay, India Barat di bawah judul Urban Leadership in Western India: Politics and Community in Bombay City 1840-1885, diterbitkan di London oleh Oxford University Press, 1972. Sebelumnya, Christine Dobbin sudah menulis sejumlah buku, di antaranya Basic Documents in the Development of India and Pakistan di terbitkan di London oleh Van Nostrand, 1970. Asian Entrepreneurial Minorities: Conjoint Communities in the Making of the World Economy, 1570-1940 diterbitkan di London oleh Richmond, Surrey (Curzon Press Ltd.) yang juga diterbitkan dalam terbitan berseri Scandinavian Monograph Series No. 71, 1996.<br />
Pada tahun-tahun terakhir, Christine Dobbin melakukan riset tentang sejarah gagasan-gagasan (history of ideas) di dunia Timur dan dunia Barat, dan juga tentang hubungan agama dan pembangunan ekonomi. Kini Christine Dobbin adalah salah seorang peneliti di Australian National University di Canberra dan menjadi penasihat Departemen Luar Negeri Australia dalam berbagai masalah yang berkaitan dengan pembangunan di Indonesia.<br />
Sejumlah artikelnya yang lain adalah: Economic Change in Minangkabau as a Factor in the Rise of the Padri Movement 1784-1830 diterbitkan dalam majalah terkemuka tentang studi Indonesia, Indonesia (Cornell University), vol. xxiii (1970). The Exercise of Authority in Minangkabau in the late 18th Century yang dimuat dalam buku suntingan Anthony Reid dan Lance Castles, Pre-Colonial State Systems in Southeast Asia diterbitkan di Kuala Lumpur, 1975. Islamic Revivalism in Minangkabau at the Turn of the Nineteenth Century yang dimuat dalam Modern Asian Studies, vol. viii (1974) di London. Kemudian artikel Tuanku Imam Bonjol (1772-1864) yang dimuat dalam majalah Indonesia (Cornel University) vol. xiii (1972).<br />
<br />
<br />
<b>Bedah Buku di Unimed</b><br />
<br />
Buku Christine Dobbin Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847 ini dibedah di Unimed pada 14 Oktober 2008. Ikut berbicara dalam seminar itu sebagai pemakalah pertama Prof. Usman Pelly, dan Prof. Nur Ahmad Fadhil Lubis sebagai pemakalah kedua. Sedangkan Prof. Antonius Bungaran Simanjuntak bertindak sebagai pembahas.<br />
Harian KOMPAS Edisi Sumbagut, 15 Oktober 2008 memberitakan, bahwa Prof. Nur Ahmad Fadhil Lubis menyimpulkan bahwa Christine Dobbin kurang memahami Islam. Saya mendapat kesan, bahwa Prof. Nur Ahmad Fadhil Lubis belum membaca buku itu secara tuntas.  Karena kesimpulan itu tidak akan muncul dari orang yang sungguh-sungguh membaca buku itu. Pasalnya, kata kunci Islam yang dimunculkan pada judul dan pembahasannya di dalam buku, adalah tentang sejarah masuknya Islam dan keberagamaan orang Minangkabau. Hal itu cukup membuktikan bahwa Christine Dobbin memahami Islam dengan baik.<br />
Apakah dalam setiap pembicaraan tentang pergerakan Islam itu harus disertai keharusan menuliskannya dalam kisah-kisah heroik yang gegap gempita, dan jika tidak, penulisnya jadi kurang memahami Islam? <br />
Sosiolog Prof. Usman Pelly lebih memandang gerakan radikal Padri sebagai suatu yang positif. Katanya, gerakan radikal Paderi tidak hanya mampu mengisi dan mendinamisasi perubahan sosial, tetapi juga memberikan perlindungan dan pengayoman kehidupan ekonomi baru yang mulai berkembang pada saat itu. Dan bahwa, kaum Padri merasa mendapat tugas sejarah untuk memulai sebuah perubahan radikal dari bawah. <br />
Kesimpulan Prof. Usman Pelly ini bukan saja keliru tetapi juga sangat gegabah. Karena ia telah menafikan tragedi kemanusiaan yang luar biasa yang dilakukan oleh kaum Padri, bukan saja di wilayah budaya Minangkabau, tetapi juga di Tapanuli. Perang Padri adalah perang paling lama (1803-1838) dan paling kejam dalam sejarah Indonesia abad XIX. Mereka bukan saja berupaya menguasai sumber daya ekonomi di luar Minangkabau, tetapi juga menghancurkan memori kolektif dan karya sastra serta perbendaharaan kearifan lokal dengan membakarnya dan membunuh orang-orang arif dan terhormat. <br />
Kalau begini cara berpikirnya, apakah kita harus memuji Daendels, penguasa yang telah membangun jalan ekonomi dari ujung ke ujung Pulau Jawa dari Anyer ke Panarukan, sementara proses pembangunannya sendiri menimbulkan tragedi kemanusiaan yang luar biasa? <br />
<br />
<br />
<b>Penghancuran Tamadun Batak</b><br />
<br />
Asisten Residen Mandailing Angkola (1848-1857), Alexander Philippus Godon, memperlihatkan kepada Dr. Herman Neubronner van der Tuuk &#8213;ketika berkunjung ke Panyabungan bulan Maret 1852&#8213;, dua buku besar naskah Mandailing. Buku itu berhasil diselamatkan orang Mandailing dari kebringasan kaum Paderi yang membakari buku-buku di wilayah Tabagsel. Padahal, buku-buku itu berisi berbagai ilmu tentang pertanian, hukum, tradisi, pengobatan dll. <br />
Apa motivasi pemusnahan itu belum jelas, bisa saja disebabkan kebodohan kaum Paderi yang tidak mampu membaca aksara Mandailing, sehingga mereka ingin memusnahkannya. Ini merupakan bagian dari tragedi dan upaya penghapusan tamadun Mandailing. Maklumlah, sampai kini kita belum pernah membaca buku yang beraksara Minangkabau, karena mungkin  mereka tak memiliki aksara sendiri.<br />
Menarik penuturan Dr. Herman Neubronner van der Tuuk dalam Een Vorst Onder de Taalgeleerden: Herman Neubronner van der Tuuk Taalafgevaardigde voor Indië van het Nederlandsch Bijbelgenootschap 1847-1873: Een bronnenpublicatie bezorgd door Kees Groeneboer. . - Leiden: KITLV, 2002. - p. 123, bahwa dalam perjalanannya ke Panyabungan pertengahan Maret 1852 itu, ia beristirahat di warung kopi di Aek Sijorni di tepi Batang Angkola di dekat simpang ke kampung Bulu Gading. Van der Tuuk melihat seseorang membaca bagian dari satu buku beraksara Mandailing dalam bahasa Melayu berjudul Hikajat Toeankoe Orang Moeda. Halaman judul buku itu ditulis dengan aksara Arab gundul sedangkan isinya dengan aksara Mandailing berbahasa Melayu.<br />
Beruntung, kecerdasan lokal ini tidak punah secara total, karena masih ada buku beraksara Mandailing yang selamat dari kezaliman kaum Paderi. Sehingga tradisi menulis buku dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan dan humaniora pada orang Mandailing masih berlanjut.<br />
<br />
<br />
<b>Perang Dagang</b><br />
<br />
Saya sependapat dengan antropolog Prof. Bungaran Antonius Simanjuntak yang mengatakan, bahwa Perang Paderi bukanlah perang agama. Menurut penelitiannya, serbuan kaum Paderi ke Tapanuli Selatan adalah karena  habisnya logistik di Sumatera Barat. <br />
Kuatnya semangat dagang orang Minangkabau dan kaum Padri digambarkan oleh Christine Dobbin secara gamblang. Beberapa penjelasan tentang semangat dagang kaum Paderi antara lain ditulis oleh Christine Dobbin pada halaman 260, 261, 280, 281 sbb.:<br />
Pada kira-kira tahun 1812, Bonjol mulai menarik penduduk dari tempat-tempat lain di Minangkabau. Mereka datang untuk mengkaji ajaran Padri maupun untuk ikut serta dalam perdagangan desa yang sedang berkembang. Sama seperti pemimpin utama Padri lainnya, Imam Bonjol ingin membuat kampung halamannya menjadi pusat dagang yang penting. Dalam memoarnya disebutkan bahwa segera setelah ia mendirikan tempat pemukiman itu, ia menanam padi dan pohon buah-buahan dan mendirikan tempat peternakan sapi dan kuda. Selanjutnya, ia berkata bahwa kira-kira pada tahun 1812, Bonjol “begitu makmur berkat meningkatnya industri dan perdagangan sehingga banyak orang datang ke situ karena tertarik pada murahnya harga bahan makanan sebab beras, ternak, dan kuda tersedia berlimpah”. Tambahan lagi, setelah benteng desa lebih disempurnakan dan penduduknya dipersenjatai dengan layak, “mereka memusatkan diri sepenuhnya pada perdagangan. Dengan menikmati keadaan damai dan bersatu, kemakmuran nagari Bonjol makin lama makin bertambah dan pedagang-pedagang dari tempat lain banyak yang datang ke sini” (hal. 260). <br />
Walaupun sulit dibedakan antara yang suci dan yang duniawi, keadaan menjadi lebih mudah oleh kenyataan bahwa Imam Bonjol dengan cepat menjadi pemimpin perang dan perhatiannya tertuju pada hal lain. Kepada murid-muridnya yang berbondong-bondong datang ke Bonjol, ia memberikan latihan silat. Kemudian, ia membentuk pasukan khusus setelah kedudukannya di lembah cukup kuat untuk menyatakan jihad kepada daerah sekitarnya. Ia lalu mengembangkan pola serbuan tahunan ke daerah-daerah sekitarnya dan pasukan Bonjol selalu kembali dengan hasil rampasan yang cukup banyak. Setelah menang perang, mereka beristirahat untuk bercocok tanam selama satu tahun sebelum melakukan serbuan lain. Serbuan-serbuan ini biasanya dilakukan atas permintaan salah seorang pemimpin Padri. Pada diri mereka bercampur erat semangat agama dan keserakahan manusiawi. Diberitakan pada suatu penyerbuan di Agam, orang Bonjol tidak saja kembali dengan membawa ternak rampasan, melainkan juga piring, cangkir, kuali, dan alat keperluan rumah tangga lainnya (hal. 261).<br />
Kebanyakan perdagangan produk Batak pun berada di tangan orang-orang Minangkabau. Oleh sebab itu, serbuan pasukan Padri ke Mandailing dan hulu Barumun hanya merupakan satu tahap lain dalam pembebasan yang terus menerus dari dunia Minangkabau ke dunia Batak yang telah berlangsung berabad-abad (hal. 280).<br />
Tidak mengherankan jika Imam Bonjol memalingkan matanya ke utara, ke arah tetangganya yang kaya, setelah ia menetapkan kekuasaannya di Lembah Alahan Panjang. Lembah yang panjang dan sempit di sebelah lembahnya menampakkan kemakmuran yang cukup besar. Para pemimpin masyarakat Padri di Alahan Panjang menyadari bahwa kepemilikan atas tambang emas Rao pasti akan memberikan dimensi ekstra pada jaringan dagang yang hendak mereka ciptakan. Selain itu, tenaga kerja dari lembah itu juga merupakan tambahan yang sangat diharapkan. Imam Bonjol memulai serbuannya ke Rao dengan mengawasi pembuatan jalan yang baik ke Lubuk Sikaping, desa utama di ujung selatan lembah (hal. 281).<br />
<br />
<br />
<b>Tuanku Imam Bonjol Ingin Bebas</b><br />
<br />
Dua kalimat terakhir Christine Dobbin dalam buku ini pada halaman 379 edisi bahasa Indonesia dan halaman 244 teks aslinya, sbb.: “Lebih dari segalanya, sejarahnya telah mencerminkan keinginannya. Hal itu telah diungkapkan oleh Imam Bonjol sebelum ia ditangkap, yakni menjadi “seorang Melayu yang bebas” (hal. 379). [More than anything his history has reflected his wish, expressed by Imam Bonjol before his capture, to be “a free Malay”].<br />
Wallahualam bis sawwab (DanAllah Maha Tahu sesungguhnya). <br />
<br />
<br />
(Basyral Hamidy Harahap, pemerhati sosial budaya Mandailing dan penulis buku Greget Tuanku Rao, 2007)<br />
]]></description>
 <category>General</category>
<comments>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=43</comments>
 <pubDate>Fri, 17 Oct 2008 23:18:20 -0500</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[PERANG DAGANG DI SUMATERA BARAT]]></title>
 <link>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=42</link>
<description><![CDATA[BASYRAL HAMIDY HARAHAP<br />
<br />
KOMPAS, Minggu 27 Juli 2008<br />
Artikel Rosihan Anwar, ”Perang Padri yang Tak Anda Ketahui”, yang dimuat oleh ”Kompas”, 6 Februari 2006, menyoroti sisi gelap Perang Paderi. Tulisan Rosihan itu bersumber pada buku yang disusun oleh sejarawan militer Belanda, G Teitler, berjudul ”Het Einde van de Paderieoorlog: Het beleg en de vermeestering van Bonjol, 1834-1837: Een bronnenpublicatie.”<br />
Rosihan, dalam artikelnya itu, bercerita tentang kebiasaan kaum Paderi menculik kaum perempuan dalam serangan, kemudian mengangkut mereka untuk dijual sebagai budak (slaves).<br />
Ada satu buku lagi yang mengupas dinamika perubahan yang luar biasa dalam kehidupan ekonomi dan gerakan purifikasi ajaran Islam di Minangkabau. Dalam proses perubahan itu timbul banyak konflik yang mengakibatkan terjadi tragedi kemanusiaan. Buku itu ditulis sejarawan Christine Dobbin, berjudul asli Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy, Central Sumatra 1784-1847 (Curzon Press, 1983).<br />
Dobbin mengawali paparannya secara detail tentang ekologi sosial dan topografi Minangkabau, tentang tantangan dan anugerah alam dalam gerakan perdagangan masyarakat Minangkabau. Kita terkesima membaca buku ini. Ternyata masih banyak yang tidak kita ketahui tentang perubahan sosial yang spektakuler dan tentang gerakan Paderi di Minangkabau dan Tapanuli.<br />
Kurang lebih 75 persen dari buku bercerita tentang dinamika perubahan orang Minangkabau dalam liku-liku perdagangan di pedalaman dan pantai barat dengan segala masalah yang ditimbulkannya, pertambangan emas dan besi, industri rumah, perbengkelan alat pertanian, senjata tajam dan bedil, pertukangan, pertenunan, perkebunan komoditi ekspor, persaingan dan perang dagang dengan Belanda. Hal itu terjadi sejak berabad sebelum timbul gerakan Paderi.<br />
Menarik untuk disimak bahwa berabad sebelum lahirnya gerakan Paderi, agama Islam sudah lama berkembang di Natal, pantai barat Mandailing, Tapanuli Bagian Selatan. Hal ini terbukti dengan kehadiran Tuanku Lintau, seorang kaya, penduduk asli Lintau di Lembah Sinamar, yang datang ke Natal untuk belajar agama Islam. Kemudian Tuanku Lintau meneruskan pendidikannya ke Pasaman yang juga didiami orang Mandailing yang menganut sistem kekeluargaan patrilineal.Usai menuntut ilmu agama Islam itu, kira-kira 1813, Tuanku Lintau kembali ke desanya membawa keyakinan bahwa sebagai penduduk Tanah Datar, ia mempunyai misi untuk memperbaiki tingkah laku dan moral penduduk lembah itu. Tuanku Lintau terkesan pada gerakan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh di Agam. Ia pun bergabung dengan kaum Paderi.<br />
Secara khusus Tuanku Lintau merasa wajib menyadarkan keluarga raja yang bergaya hidup tidak sesuai dengan ajaran Islam agar kembali ke jalan yang benar. Semula, Tuanku Lintau mendapat perlindungan dari Raja Muning, ialah Raja Alam Minangkabau yang bertakhta di Pagaruyung. Tetapi dalam perkembangan berikutnya, Tuanku Lintau justru melancarkan revolusi sosial karena ia yakin bahwa sistem kerajaan yang korup adalah hambatan bagi keberhasilan cita-citanya.<br />
Tuanku Lintau dan pengikutnya menyerang Raja Alam. Banyak yang terbunuh, termasuk dua putra Raja Alam. Raja Alam dan cucunya berhasil menyelamatkan diri ke Lubuk Jambi di Inderagiri. Cucu Raja Alam ini kelak terkenal sebagai Sultan Alam Bagagar Syah, Raja Minangkabau terakhir.<br />
Bahwa Natal di pantai barat Mandailing sebagai tempat pertama Tuanku Lintau menimba ilmu agama Islam membuktikan, ternyata Perang Paderi bukanlah gerakan Islamisasi di Mandailing. Karena berabad sebelum timbulnya gerakan Paderi, ulama-ulama sufi telah mengajarkan agama Islam kepada orang Mandailing Natal. Tokoh utama penyebar agama Islam di kawasan pantai barat sampai ke pedalaman Mandailing adalah ulama besar sufi Syekh Abdul Fattah (1765-1855). Ulama besar ini wafat dan dimakamkan di Pagaran Sigatal, Panyabungan. Murid-murid para sufi itulah yang secara damai membawa Islam ke pedalaman Mandailing.<br />
Baik Paderi maupun Belanda saling khawatir terhadap ancaman penghancuran hegemoni dagang masing-masing di kawasan Minangkabau dan pantai barat itu. Itu sebabnya Belanda mengunci wilayah Padang sampai ke selatan agar tidak dijamah oleh kaum Paderi. Inilah yang mendorong pendudukan wilayah utara, dalam hal ini Rao dan Mandailing yang kaya emas berkualitas tinggi dan komoditi ekspor lainnya. Kita jadi mengerti mengapa gerakan perdagangan ini menjadi mengeras dalam era gerakan Paderi.<br />
Gerakan Paderi di Mandailing mendapat perlawanan dari Sutan Kumala yang Dipertuan Hutasiantar, raja ulama sekaligus primus inter pares raja-raja Mandailing. Ia dijuluki oleh Belanda sebagai Primaat Mandailing.<br />
Dobbin memaparkan bahwa perdagangan budak sangat penting bagi sistem Paderi. Pasalnya, budak-budak bukan saja sebagai dagangan, tetapi juga sebagai pengangkut barang dan tentara cadangan. Itu yang menyebabkan kaum Paderi dapat bertahan begitu lama dalam melancarkan peperangan.<br />
Mungkin tidak enak untuk mengatakan bahwa Perang Paderi yang begitu lama (1803-1838), yang selama ini begitu disakralkan, disebut oleh Dobbin sebagai perang dagang. Fakta menunjukkan cara-cara kaum Paderi menggerakkan perang yang penuh kekerasan dan kebrutalan, jauh dari nilai-nilai Islam. Inilah yang mendorong kita sadar atau tidak sadar, lebih percaya kepada Dobbin.<br />
Selain itu, Paderi mampu menggeser para pedagang yang beroperasi di permukiman orang Eropa yang berdekatan. Salah satu ciri gerakan Paderi yang menonjol adalah usaha membina perdagangan Minangkabau sekaligus melawan upaya-upaya dari luar yang hendak memonopoli perdagangan di kawasan ini.<br />
Dobbin memaparkan bahwa gerakan Paderi, khususnya di utara Minangkabau, lebih pada gerakan perdagangan daripada gerakan penyebaran agama Islam. Pantaslah, tak satu pun bekas jejak kaum Paderi dalam bidang agama di kawasan itu.<br />
Jadi, sesuai dengan sinyalemen saya di dalam buku Greget Tuanku Rao bahwa Islam dibawa oleh orang Mandailing sendiri dari Pasaman dan pantai barat Mandailing. Proses Islamisasi itu berlangsung secara damai dalam suasana kekeluargaan. Mereka telah mengenal Islam berabad sebelum keberadaan kaum Paderi. Reputasi Natal sebagai pusat perguruan Islam di pantai barat Mandailing telah dibuktikan oleh Tuanku Lintau, tokoh legendaris Paderi yang belajar agama Islam di Natal, sebelum ia menceburkan diri dalam gerakan Paderi.<br />
Gerakan reformasi ajaran Islam dan perdagangan pra-Paderi, pada saat Paderi, dan pasca-Paderi pada hakikatnya adalah revolusi sosial yang dahsyat di Sumatera Barat. Tetapi, saya mendapat kesan bahwa Dobbin tidak mengenal secara langsung kawasan Mandailing dan pelabuhan-pelabuhannya di pantai barat. Padahal, kawasan itu sangat penting dalam kancah perdagangan kaum Paderi.<br />
Selain itu, ada nama-nama tempat yang tidak dikenal di daerah itu, seperti Sungai Taru yang seharusnya Batangtoru, Achin seharusnya Aceh, Gunung Bualbuali seharusnya Sibualbuali. Seyogianya dalam penerjemahan dapat dilakukan penyelarasan nama-nama itu. Tetapi ternyata justru penerjemah buku ini menambah kekeliruan dengan memakai istilah-istilah Jawa yang tidak kena-mengena dengan tradisi di alam Minangkabau, seperti kraton dan ningrat yang seharusnya istana dan bangsawan.<br />
Buku ini sangat layak dibaca oleh mereka yang ingin mengetahui kiat-kiat sukses orang Minangkabau dalam berniaga, sekaligus tentang taktik dan strategi gerakan Paderi, serta perubahan sosial yang luar biasa pada orang Minangkabau yang disebabkan oleh gerakan Paderi.<br />
BASYRAL HAMIDY HARAHAP Penulis buku Greget Tuanku Rao, pemerhati masalah sosial budaya Mandailing<br />
]]></description>
 <category>General</category>
<comments>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=42</comments>
 <pubDate>Sat, 06 Sep 2008 23:30:00 -0500</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[<b>IHWAL KELAHIRAN <i>GREGET TUANKU RAO</i></b>]]></title>
 <link>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=37</link>
<description><![CDATA[KARYA BASYRAL HAMIDY HARAHAP TERBITAN KOMUNITAS BAMBU<br />
<br />
 (Catatan Kecil untuk Ahli Waris MOP)<br />
<br />
<br />
<br />
 <br />
Berangkat dari berita diskusi Perang Paderi di Arsip Nasional 22 Januari 2008, ahli waris MOP menanyakan soal pengakuan Basyral Hamidy Harahap penulis buku <i>Greget Tuanku Rao,</i> komunitas Bambu, 2007, di forum diskusi itu ihwal <i>asbabul nuzul</i> bukunya. Basyral Hamidy Harahap  mengatakan bahwa bukunya berasal dari kata pengantar buku <i>Tuanku Rao</i> karya MOP yang tidak jadi dipakai. Pasalnya, ahli waris menolak buku papinya diterbitkan ulang dengan pengantar. Maka pengantar itu pun kemudian diminta diluaskan oleh penerbit hingga menjadi buku. <br />
 <br />
Sebab itu disini, saya JJ Rizal, mewakili Komunitas Bambu, mencoba mendudukan persoalan itu agar menjadi lebih jembar dan tidak menimbulkan salah paham.<br />
 <br />
Pada 16 November 2006, dalam sebuah acara Pekan Sejarah I di FIB UI yang diselenggarakan Komunitas Bambu, Onghokham Institut dan FIB UI, seorang pembicara Adji Damais menyarankan kepada saya sebagai orang Komunitas Bambu untuk menerbitkan buku <i>Tuanku Rao </i>karya MOP. Di depan peserta seminar ia katakan, “Itu buku cerita yang menarik juga kontroversi. Penerbitan ulang di jaman ilmu sejarah telah berkembang tentu akan memberikan nuansa lain”, katanya. Tetapi ia menggaris bawahi usulnya itu, supaya dalam penerbitan baru itu sebaiknya buku cerita itu diberi pengantar oleh seorang ahli mengenai Islam di daerah Batak. <br />
 <br />
Saat itu juga, saya langsung berdiri dan menyatakan: “Sudah disiapkan Pak, tinggal mencari ahli warisnya”. Kemudian Pak Adji menyatakan akan membantu juga mencarikan jalan untuk menemukan ahli waris MOP. Sayang ia tak berhasil membantu menemukan sang ahli waris MOP.<br />
 <br />
Meski demikian saya sangat setuju dengan saran Pak Adji. Kalau hendak menerbitkan ulang buku itu memang sebaiknya diberi pengantar oleh seorang ahli tentang Islam dan Batak. Saya sadar betul bahwa bagaimanapun harus pandai-pandai memainkan sisi idealis dan komersial. Dari segi komersial, tentu saja buku itu dengan kontroversi dan mitos pelarangannya, sudah mempunyai nilai jual yang tinggi kelak ketika masuk pasar. Bahkan, ia telah mempunya pasar yang telah berjaga dengan “mulut menganga siap mencaplok” begitu turun cetak. <br />
Tetapi bagaimanapun saya dan penerbit Komunitas Bambu mempunyai tanggung jawab moral (kalau tidak bisa disebut tanggungjawab intelektual) untuk tidak membiarkan begitu saja apa adanya buku itu nyelonong memasuki pasar di jaman penerbitan barunya. Bagaimanapun buku itu memang mempunyai banyak sisi yang mesti diberi catatan. Sebuah pengantar dari seorang ahli tentu bukan saja akan menjadi catatan, tetapi juga “rem” agar orang jangan menganggap buku itu sebagai suatu <i>accepted history </i>(kebenaran sejarah), seperti yang dulu-dulu telah terjadi bahkan makan korban yang dari kelas awam sampai sekaliber pakar sekalipun. Tetapi lebih pada suatu “wacana penggoda”, “obat perangsang nalar” yang dapat menyuburkan diskusi menyangkut praktek Islam garis keras dan pemaksaannya sebagai sebuah aturan bermasyarakat, dan peranan diskusi ulang untuk menilai tokoh-tokoh di sekitar peristiwa di Sumatra Barat, Tanah Batak juga Riau pada abad 19. <br />
 <br />
Bukankah hal ini belakangan sedang menjadi trend dalam bentuk penerapan UU Syariat Islam di beberapa daerah di Indonesia? Itulah pemikiran saya dan teman-teman di Komunitas Bambu. Selain itu, ada gelombang ujian kepahlawanan beberapa tokoh dan perkaitannya dengan peristiwa sejarah, misalnya buku Leonard Andaya, soal Aru Palaka. Juga terutama akhinya adalah “pratek kotor” makelar pahlawan yang semakin bersimaharajalela.  <br />
 <br />
Dengan kerangka pemikiran itulah kami bergerak mencari ahli waris MOP sampai kemudian saya dengar berita, kalau penerbit LKiS juga sedang mencari ahli waris MOP. Saya memang sudah menduga, setelah penerbitan Slametmulyana, <i>Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara</i>, maka LKiS tentu akan mencari babonnya, yang dirujuk Slametmulyana, yaitu buku MOP. Apalagi di pasar juga buku Slametmulyana itu tidak sekadar “goyang ike nurjanah” tetapi sudah sampai taraf “goyang inul”, ngebor dan mengocorkan banyak pundi-pundi. Tentu buku MOP akan lebih dari sekadar “goyang ngebor” bahkan mungkin akan juga membangkitkan sebuah polemik serta kontroversi baru. <br />
 <br />
Maka secara diam-diam dua penerbit pun bersaing memburu ahli waris MOP. Saling berlomba menyiapkan materi sehingga begitu dapat persetujuan bisa langsung di “goreng”. Dalam konteks itulah saya segera kasih perintah supaya juru tik menyalin ulang buku MOP. Juga membuat sejumlah list nama yang dianggap paling pantas menuliskan pengantar  untuk mendudukan buku MOP dalam konteks sejarah dan kebudayaan Batak, Islam dan akhirnya hikmah yang dapat diambil dari penerbitan baru buku itu. <br />
 <br />
Akhirnya setelah mengayak sejumlah nama, Komunitas Bambu memutuskan  Basyral Hamidy Harahap yang paling pantas. Bukankah ia telah menjadi semacam “ensiklopedi berjalan sejarah dan kebudayaan Batak”. Apalagi ia berasal dari Mandailing pula, satu daerah yang diinterpretasikan sebagai tanah asal Tuanku Rao juga Tuanku Tambusai, tokoh sentral dan panglima perang Paderi. Lebih jauh ia pun seorang Islam dengan pengetahuan hukum dan kaidah Islam yang dalam. Berpengalaman pula dalam riset ilmiah yang kuat, menguasai banyak bahasa dan sumber. Ia melebihi kriteria yang kami punya. <br />
 <br />
Kebetulan pula pemilik kantor Komunitas Bambu yang kami tempati sekarang adalah kerabat dekat dari Basyral Hamidy Harahap. Dalam waktu yang singkat, mudah saja kami menjalin kontak dengan Basyral Hamidy Harahap. Ia pun antusias menyambut permintaan kami dan setuju dengan konsep penerbitan ulang yang kami rancangkan untuk buku MOP. Ia memberi catatan supaya jangan kaget kalau nanti ide penerbitan ulang buku MOP yang digagas Komunitas Bambu mentok di hadapan ahli waris MOP. Sebab bukan tak mungkin mereka menghadapi buku itu sebagai barang pusaka. Tetapi bagaimanapun Basyral Hamidy Harahap akan tetap mengerjakan pesanan pengantar untuk buku MOP. Bahkan ia bersedia mengupayakan untuk mencarikan kontak dengan ahli waris MOP, dengan menggunakan jaringan Batak yang dipunyai, apalagi kebetulan dulu ia sempat beberapa kali bertemu dengan MOP. <br />
 <br />
Sementara itu, LKiS dan Komunitas Bambu yang sama-sama berkantor di  Depok, dan juga saya sendiri, sering segalang segulung alias kesana kemari dengan Sholeh Isre yang menjadi penguasa teritorial LKiS Jakarta. Maka saya pun di sela-sela obrolan, sering membicarakan usaha kami memburu ahli waris MOP. Sholeh pun sering berkelakar dengan saya bahwa kedudukan nanti bisa 2 : 0. Maksudnya, sebelumnya saya sudah kalah dalam pertarungan memburu ahli waris Slametmulyana. Dan kali ini Sholeh betul, ternyata LKiS lebih dulu berhasil mendapatkan kontak dengan anak MOP. Lebih jauh lagi saya dengar pula bahwa mereka sudah saling OK ihwal penerbitan baru buku karya MOP. Tetapi seingat saya, kata Sholeh ahli waris menyetujui dengan catatan:<br />
 <br />
1.Buku tidak boleh dirobah sedikit pun juga, bahkan termasuk salah ketiknya. Buku harus tampil seperti tampilan aslinya luar dan dalam. <br />
2.Tidak perlu pengantar.<br />
 <br />
Saya tidak tahu bagaimana LKiS menyikapi catatan ahli waris MOP itu. Tetapi saat mendengar soal catatan itu, saya langsung merasa, bahwa benar apa yang telah disinyalir Basyral Hamidy Harahap. Bahwa, buku itu bisa jadi dianggap barang keramat oleh keluarga MOP. Kalau pun seandainya saya berhasil menang dan menjalin kontak lebih dulu dengan ahli waris MOP, tentu tetap saja akan sulit untuk menemukan titik temu dengan pemikirannya yang demikian. <br />
 <br />
Saya segera mengontak Basyral Hamidy Harahap. Saya mengungkapkan, bahwa Komunitas Bambu tidak jadi menerbitkan buku MOP. Saya juga mengungkapkan kepada Basyral Hamidy Harahap, perihal permintaan ahli waris MOP yang saya dengar dari Sholeh tersebut. Ia menanggapi dengan sekali lagi mengulangi pembicaraan “barang pusaka, keramat”. Kamudian Basyral Hamidy Harahap pun menanyakan kepada saya: <br />
 <br />
“Bagaimana dengan pengatar yang sedang saya kerjakan?” <br />
“Teruskan saja Pak, kita bikin menjadi buku kecil (pocket book), sekitar 150-200 halaman. Bagaimanapun, jika kelak buku <i>Tuanku Rao</i> itu terbit, setidaknya ada buku pembandingnya,” begitu jawab saya.<br />
 <br />
Demikianlah, saya rasa begitulan asal-muasal perkataan Basyral Hamidy Harahap ihwal pengantar untuk buku MOP yang kemudian menjadi buku Basyral Hamidy Harahap sendiri seperti yang ditanyakan oleh ahli waris MOP. Ya, dari sebuah pengantar kemudian berkembang ditulis oleh Basyral Hamidy Harahap menjadi sebuah buku kecil. Kemudian berkembang dan jumlah halamannya terus bertambah mengikuti bahan-bahan bacaan Basyral Hamidy Harahap yang dirujuk. Naskah buku itu pun meluas, bukan saja memberikan catatan atas ketidakakuratan bahkan kesalahan yang ada di buku MOP, lebih jauh lagi membahas yang luput dari perhatian MOP.<br />
 <br />
September 2007, <i>Greget Tuanku Rao</i> karya Basyral Hamidy Harahap mulai masuk pasar. Sedangkan terbitan ulang buku <i>Tuanku Rao</i> karya MOP sudah masuk pasar buku kurang lebih tiga bulan sebelumnya. Keduanya bersanding, didiskusikan di mana pun sebagai sejoli dengan kekhasan masing-masing. Buku karya Basyral Hamidy Harahap sebagai buku baru, dan buku MOP dengan tetap seperti apa adanya tak geser barang sepotong selain teknik cetaknya saja. Kedua buku itu telah hadir bersama dengan keunikannya sendiri-sendiri dan saling dukung. Sehingga saya dan teman-teman merasa, bahwa setidaknya apa yang kami harapkan semula sudah terwujud, yaitu agar menggulirkan diskusi dan peninjauan ulang terhadap beberapa hal menyangkut kepahlawanan. Tinggal yang belum, adalah perihal yang menyangkut praktek bersyariat Islam yang dipaksakan sebagai sistem sosial dan demi tujuan-tujuan politis-ekonomis sepihak yang picik. Mudah-mudahan saja kedua buku itu, dengan kekuatannya masing-masing, akan mampu menggulirkan diskusi hingga sampai kesana. <br />
 <br />
Tabe serta hormat,<br />
 <br />
JJ Rizal<br />
Direktur Penerbit Komunitas Bambu<br />
]]></description>
 <category>General</category>
<comments>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=37</comments>
 <pubDate>Mon, 28 Jan 2008 19:45:27 -0600</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[<b>GREGET TUANKU RAO DILARANG ?</b><i></i>]]></title>
 <link>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=36</link>
<description><![CDATA[LAPORAN DARI SEMINAR SEJARAH PERANG PADERI<br />
<br />
<br />
<br />
<b>GAGASAN</b><br />
<br />
Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Dr. Joko Utomo, dalam pidato pembukaan Seminar Sejarah Perang Paderi 1803-1838 di Gedung ANRI pada tanggal 22 Januari 2008, mengungkapkan bahwa Dr. Saafroedin Bahar adalah penggagas  penyelenggaraan seminar ini. Gagasan itu dikemukakan oleh Dr. Saafroedin Bahar dalam pertemuannya dengan Dra. Mona Lohanda dan Dr. Joko Utomo sendiri. Pihak ANRI menerima baik gagasan ini, karena ANRI adalah lembaga yang menyimpan memori kolektif bangsa, penyimpan sumber-sumber sejarah yang otentik dan kredibel serta memberikan akses seluas-luasnya kepada peneliti, masyarakat untuk kepentingan pemerintahan, pembangunan, penelitian, ilmu pengetahuan, kemasyarakatan demi kemaslahatan bangsa.<br />
<br />
Di bagian lain sambutannya, Dr. Joko Utomo mengemukakan bahwa sudah sejak lama ada perdebatan tentang Tuanku Rao. Pada bulan Juli 1969 diselenggarakan seminar di Padang yang menampilkan dua pembicara utama yang berdebat seru, ialah Hamka dan Mangaraja Onggang Parlindungan (MOP) berkaitan dengan buku yang ditulis oleh MOP berjudul <i>Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali Di Tanah Batak 1816-1833</i> yang diterbitkan oleh Penerbit Tandjung Pengharapan di Jakarta tahun 1964. <br />
<br />
Sepuluh tahun kemudian Hamka menerbitkan buku sanggahannya terhadap buku yang ditulis oleh MOP itu berjudul <i>Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao: Bantahan terhadap tulisan-tulisan Ir. Mangaradja Onggang Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao</i>, yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang di Jakarta pada tahun 1974.<br />
<br />
Dr. Joko Utomo juga mengemukakan bahwa, G. Teitler menyusun buku <i>Het Einde van de Padrie-oorlog: Het beleg en de vermeestering van Bonjol 1834-1837: Een bronnenpublicatie</i> yang diterbitkan oleh De Bataafsche Leeuw di Amsterdam pada tahun 2004. <br />
<br />
Menurut Dr. Joko Utomo, hal itu mencuat kembali setelah buku <i>Tuanku Rao</i> karya MOP diterbitkan oleh LKIS Bantul pada bulan Juni 2007, dan terbitnya karangan Basyral Hamidy Harahap berjudul <i>Greget Tuanku Rao</i> yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu di Depok pada bulan September 2007.<br />
<br />
Redaksi Majalah TEMPO menganggap masalah ini sangat serius, maka Majalah TEMPO nomor 34, 15-21 Oktober 2007 memuat tulisan berjudul “Kontroversi Kebrutalan Kaum Paderi”.<br />
<b>PARA PEMAKALAH</b><br />
<br />
Seminar ini dihadiri oleh 200 peserta terutama dari kalangan masyarakat Minangkabau dan Melayu Riau yang datang dari Sumatera Barat, Riau dan Jakarta. Ada sepuluh pemakalah dalam dua diskusi panel. Prof. Dr. Taufik Abdullah menyampaikan “Pengantar Umum tentang Perang Paderi 1803-1838” kemudian dilanjutkan Diskusi Panel I yang dipimpin oleh moderator Dr. Magdalia Alfian dengan pemaparan lima pemakalah. Prof. Dr. Asmaniar Z. Idris menyampaikan makalah “Melihat Kembali Peristiwa Perang Paderi”, H. Ilhamdi Taufik, S.H., M.A. menulis makalah “Kearah Kompilasi ABS-SBK di Minangkabau”, Prof. H. Bismar Siregar, S.H. menyampaikan makalah “Aku Bangga Disebut Batak Mandailing”, Batara Hutagalung menulis makalah “Beberapa Catatan mengenai Tuanku Rao dan Perang Paderi”, Prof. Drs. Suwardi, M.S. menyampaikan makalah “Pandangan Masyarakat Melayu Riau Terhadap Kontroversi Buku <i>Tuanku Rao </i>Karya M.O. Parlindungan dan buku <i>Greget Tuanku Rao</i> karya Basyral Hamidy Harahap tentang Kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol & Tuanku Tambusai”. <br />
<br />
Pada Diskusi Panel II, Dr. Saafroedin Bahar selaku moderator menyampaikan makalah “Beberapa Catatan Singkat Tentang Cara Merumuskan Kompilasi Hukum ABS-SBK”, dilanjutkan dengan paparan makalah oleh Prof. Dr. Taufik Abdullah berjudul “Dinamika Konflik dan Konsensus Antara Adat dan Agama Islam di Minangkabau”,  Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A. menulis makalah “Adat Basandi Syarak – Syarak Basandi Kitabullah: Dinamika relasional adat dan Islam di Minangkabau”, Prof. Dr. Amir Syarifuddin menulis makalah “Sekilas Tentang Mazhab Hambali dan Kaum Wahabi”, Drs. H. Sjafnir Aboe Nain Dt. Kando Marajo menulis makalah “Posisi Sumpah Sakti Bukit Marapalam Sebagai Kesepakatan Paska Padri”, dan Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, S.J. menulis makalah “Perang 30 Tahun Eropa dan Munculnya Masyarakat Sekuler”. <br />
<br />
Selain itu, panitia seminar membagikan tujuh  tulisan yang tidak dipresentasikan ialah: “Tuanku Imam Bonjol, Paderi, Wahabi dan Adat Basandi Syarak Sebagai Jati Diri Masyarakat Minangkabau” oleh Bachtiar Abna, S.H., M.H. Dt. Rajo Suleman, “Sumpah Setie Bukik Marapalam: Adaek Basandi Syarak – Syarak Basandi Kitabullah” oleh Syekh Suleiman Ar-Rasuly, “Menggugat Imam Bonjol: Ataukah Pemahaman yang Tergelincir??” oleh Anthoniyswan, “Panglima Perang Paderi yang Luput dari Sejarah” oleh Fuad S. Bakri, “Bangga” oleh Lembang Alam, “Perang Paderi Bukanlah Perang Hitam Putih” oleh Azmi Dt. Bagindo, dan “Siapa yang bertanggung jawab atas pelestarian jati diri urang Minang dengan adat budayanya yang ABSSBK” oleh H. Ch. N. Latief, S.H., MSi, Dt. Bandaro.<br />
<br />
Seminar ini berjalan lancar. Semua peserta sangat antusias mengikuti acara seminar. Hadir tokoh-tokoh masyarakat Minang antara lain Ketua Umum Gebu Minang, Mayjen. TNI (Purn.) Asril H. Tanjung, SIP, Dr. Awaludin Djamin, Buya Mas’oed Abidin dari MUI Sumatera Barat. <br />
<br />
Menarik kehadiran artis Rae Sahetapy dalam seminar itu. Kehadirannya sudah barang tentu untuk menambah wawasannya tentang Perang Paderi berkaitan dengan perannya di dalam film “Tuanku Imam Bonjol”. Harian Duta Masyarakat edisi 22 Oktober 2007 memberitakan pembuatan film yang diproduksi oleh Reza Zulkifli dari PT Salsa Cemerlang Abadi Film dengan sutradara Abuan Romli, seorang spesilais pembuat film kolosal. Reza Zulkifli menyebutkan, bahwa selain menggandeng sejarawan Taufik Abdullah juga akan menggali informasi dari tokoh-tokoh adat Minangkabau di Sumatera Barat untuk mendetailkan ceritanya. <br />
<br />
Dalam film ini, Reza menunjuk Rizal Djibran sebagai sosok Tuanku Imam Bonjol dewasa. Sedangkan tokoh Tuanku Rao diperankan oleh ustadz Jeffry Al Buchori sebagai pelanjut perjuangan Tuanku Imam Bonjol. Harian Republika edisi 23 Oktober 2007 juga memberitakan informasi yang berbeda tentang pembuatan film “Tuanku Imam Bonjol”, di antaranya pemeran tokoh Tuanku Rao adalah Rae Sahetapy.  Kisah film dimulai dengan pengadeganan Imam Bonjol kecil, sekitar lima menit, semasa remaja (10 menit), kemudian berguru pada Tuanku Rao (Ray Sahetapi) hingga  Tuanku Imam Bonjol menjadi panglima kaum Paderi. <br />
<br />
Film kolosal ini merupakan film termahal dengan biaya 19 miliar rupiah (Harian Republika 23/10/2007) atau 20 miliar lebih (Duta Masyarakat 22/10/2007) mendapat dukungan dari pemerintah di antaranya Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, dan dari Departemen Pendidikan <br />
<br />
Pada saat istirahat seminar, saya bertanya kepada Rae Sahetapy tentang perannya sebagai Tuanku Rao yang menjadi guru bagi Tuanku Imam Bonjol kecil dan remaja sehingga menjadi Panglima Kaum Paderi. Adakah data sejarah tentang Tuanku Imam Bonjol yang menjadi murid Tuanku Rao? Rae Sahetapy tampak bingung sambil menjawab, bahwa perannya memang menjadi salah seorang guru bagi Tuanku Imam Bonjol. Harian Duta Masyarakat juga memberitakan bahwa, menurut Reza, rencana pembuatan film juga sudah didiskusikan dalam satu sarasehan yang menghadirkan sejumlah orang ternama, antara lain penyair Taufiq Ismail dan Agum Gumelar selaku penasehat produksi. Hal ini saya singgung di dalam laporan ini, karena film “Tuanku Imam Bonjol” itu bisa jadi kelak akan mengundang kontroversi pula.<br />
<br />
<br />
<b>TANGGAPAN</b><br />
<br />
Judul makalah yang dipaparkan oleh para pemakalah dan tulisan yang tidak dipresentasikan telah menggambarkan apa yang dibicarakan di dalam makalah dan tulisan lainnya itu. Tanggapan peserta terhadap paparan pemakalah sangat bernas. <br />
<br />
Makalah yang paling menarik bagi saya adalah makalah Prof. Drs. Suwardi, M.S., yang menjadi perwakilan Masyarakat Melayu Riau dalam seminar ini. Mahaguru ini adalah Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Riau (MSI) sejak berdiri sampai sekarang. Jadi reputasinya sebagai sejarawan seharusnya tidak diragukan. Makalahnya berjudul panjang “Pandangan Masyarakat Melayu Riau Terhadap Kontroversi Buku ‘Tuanku Rao’ Karya M.O. Parlindungan dan buku ‘Greget Tuanku Rao’ karya Basyral Hamidy Harahap tentang Kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol & Tuanku Tambusai”.  Menurut mahaguru ini, makalah tersebut adalah hasil kerja tim selama dua hari. Selengkapnya saya salin sesuai aslinya termasuk salah ketik dan cetak tebal (bold) di dalam makalah tersebut di bawah ini sebagai berikut:<br />
<br />
<br />
<b>PANDANGAN MASYARAKAT MELAYU RIAU TERHADAP KONTROVERSI BUKU TUANKU RAO KARYA M.O. PARLINDUNGAN DAN BUKU GREGET TUANKU RAO KARYA BASYRAL HAMIDY HARAHAP TENTANG KEPAHLAWANAN TUANKU IMAM BONJOL & TUANKU TAMBUSAI</b><br />
<br />
<br />
1.     <b>LATAR BELAKANG</b><br />
<br />
Pembahasan topik ini pada seminar yang diadakan oleh Arsip Nasional RI kerjasama dengan Gebu Minang dan Seknas MHA tentu didorong oleh berbagai issu yang bersumber dari tersebarnya berita di media cetak tentang terbit ulang (<i>reprint</i>) Buku <i>Tuanku Rao </i>oleh Mangaraja Onggang Parlindungan tahun 2007. Penerbit LKiS menghadirkan kembali buku ini setelah 43 tahun menjadi kontroversi sejak terbit perdana tahun 1964 dan ditarik sendiri oleh penulisnya setelah mendapat kritikan dimana-mana akibat data yang diragukan keakuratannya (khayalan belaka). Terutama fakta yang berkaitan dengan kebrutalan kaum Padri di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol seakan-akan mengarah kepada tindakan yang tidak bersifat manusiawi dan keluar dari nilai-nilai agama Islam. Bahkan Prof. Hamka membuat buku khusus untuk meng-counter buku di atas dengan menerbitkan buku berjudul <i>Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao</i> (Bulan Bintang, 1974).<br />
<br />
Namun, akhir-akhir ini kontroversi buku tersebut kembali marak dengan terbitnya tulisan khusus yang dimuat Majalah <i>Tempo</i> edisi 15-21 Oktober 2007 berjudul “Kontroversi Kebrutalan Kaum Padri” pada rubrik selingan “Iqra”. Sebelum tulisan Tempo dipublikasikan sebenarnya telah pula keluar buku yang isinya juga menyorot kisah brutal Kaum Padri di daerah Mandailing (Padang Lawas, Dolok, dan Barumun) di bawah pimpinan Tuanku Tambusai. Buku yang dimaksud berjudul <i>Greget Tuanku Rao</i> karangan Basyral Hamidy Harahap yang intinya menggugat kepahlawanan Tuanku Tambusai yang dianggapnya telah melakukan perbuatan tidak manusiawi dengan membunuh kaum penentangnya secara sadis. Bahkan baru-baru ini oleh seorang yang tidak jelas latar belakang dan apa tujuannya, Ir. Mudy Situmorang (seorang warga masyarakat Batak kelahiran Pulau Samosir) mempersoalkan gelar Pahlawan Nasional kepada Tuanku Imam Bonjol yang berarti juga mempersoalkan kepahlawanan Tuanku Tambusai dengan menyebarkan mailing list yang berbau fitnah dan sadis.<br />
<br />
Berdasarkan kontroversi di atas kami dari masyarakat Melayu Riau merasa terpanggil untuk ikut meluruskan sejarah yang coba dibengkokkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Pandangan ini kami susun setelah melalui diskusi selama dua hari berturut-turut dengan melibatkan ahli sejarah, budayawan, akademisi, tokoh masyarakat/adat serta pers yang bertempat di Sekretariat Lembaga Adat Melayu Riau. Pembahasan materi ini lebih kami fokuskan kepada kontroversi Tuanku Tambusai yang telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional RI dari Propinsi Riau. <br />
<br />
<br />
<b>2.     TUJUAN</b><br />
<br />
Tujuan dari pembahasan ini ialah:<br />
<br />
a.       Memberi masukan untuk pemecahan kontroversi Buku <i>Tuanku Rao</i> karya MO. Parlindungan dan <i>Greget Tuanku Rao</i> karangan Basyral Hamidy Harahap terutama yang berkenaan dengan  Tuanku Tambusai.<br />
<br />
b.      Pemecahan itu akan memberi kejelasan tentang nilai-nilai Kepahlawanan Tuanku Tambusai.<br />
<br />
c.       Memberikan pernyataan sikap atas kelanjutan penerbitan dan <i>reprint</i> dari kedua buku tersebut.<br />
<br />
<br />
<b>3.    PERMASALAHAN</b><br />
<br />
Seberapa jauh kebenaran informasi dalam Buku <i>Tuanku Rao</i> karangan MO. Parlindungan dan <i>Greget Tuanku Rao</i> karangan Basyral Hamidy Harahap? Jika kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan maka buku tersebut harus diapakan? Apa maksud penerbitan dan reprint kedua buku tersebut? Adakah skenario untuk memecah belah persatuan kesatuan bangsa dan mencederai kerukunan umat beragama di Indonesia?<br />
<br />
<br />
<b>4.   CAKUPAN BAHASAN</b><br />
<br />
1.       Kutipan kontroversi Buku “Tuanku Rao” dan “Greget Tuanku Rao” yang berkenaan dengan Tuanku Tambusai.<br />
2.       Klarifikasi dan Pelurusan Fakta.<br />
3.       Kesimpulan<br />
4.       Rekomendasi  <br />
<br />
<br />
<b>II. MATERI POKOK KONTROVERSI BUKU <i>TUANKU RAO</i> & BUKU <i>GREGET TUANKU RAO </i>YANG BERHUBUNGAN DENGAN TUANKU TAMBUSAI</b><br />
<br />
1.    Buku <i>Tuanku Rao</i> memang hanya sedikit menyinggung tentang Tuanku Tambusai. Paling tidak pada buku ini terdapat beberapa halaman yang fokus menceritakan gerak gerik Tuanku Tambusai. Walaupun hanya sedikit, namun tingkat keakuratan datanya sangat perlu dipertanyakan!!! Apalagi ketika berbicara tentang kekejaman kaum Padri di wilayah Minangkabau, tentunya tidak terlepas dari kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Tambusai yang katanya telah melakukan ekspansi sampai ke wilayah Mandailing dengan melakukan pembunuhan massal yang sadis.<br />
Dalam buku ini disebutkan bahwa Tuanku Tambusai merupakan gelar dari nama Hamonangan Harahap, “……….Syarif Anwar Harahap, cucu dari Tinodungan Harahap, yang adalah Saudara Kandung dari Hamonangan Harahap gelar <b>Tuanku Tambusai</b>” (hlm. 352). Pada halaman yang sama disebutkan bahwa makam Tuanku Tambusai tidak pernah diketahui entah dimana. “Tidakpun diketahui, entah kapan, dimana, dan bagaimana Tuanku Tambusai Wafat……. Orang2 Padanglawas percaya, bahwa: Tuanku Tambusai tidak mati!! How?? Katanya: Tuanku Tambusai dengan kudanya “Si Ganding Bara,” masuk kedalam gua didalam tanah. Disitu hidup terus hingga hari ini masih.<br />
Pada bagian akhir bab pembahasan tentang Tuanku Tambusai, penulis dengan terang-terangan menyebut bahwa Tuanku Tambusai adalah gelar dari Hamonangan Harahap. Ditulis bahwa, “Hormat kepada Hamonangan Harahap gelar Tuanku Tambusai Maha Putra Padang Lawas.” Mungkin masih banyak pada halaman lain kontroversi dari Tuanku Tambusai pada buku ini, namun dari yang sedikit data di atas saja tingkat kesalahannya sudah fatal.<br />
<br />
2.    Buku <i>Greget Tuanku Rao</i> secara nyata dan jelas banyak menuding pribadi Tuanku Tambusai. Penulisnya nampak secara emosional dan membabi buta memfitnah Tuanku Tambusai dengan pandangannya sendiri serta mengutip murni (percaya 100%) sumber dari penjajah Belanda. Namun, sebelum dikutip lebih lanjut kebenciannya terhadap Tuanku Tambusai, perlu diketahui bahwa Basyral merupakan keturunan Raja Datuk Bange yang disebut-sebut sebagai lawan berat Tuanku Tambusai sewaktu menyerang ke Padang Lawas. <br />
<br />
Sebagaimana dikutip <i>Tempo</i> dari penuturan Basyral bahwa ketika berhasil dipukul mundur di Padang Lawas, Tuanku Tambusai balik ke Mandailing. “Dan dalam perjalanannya, pasukannya membabi buta menangkapi anak gadis dan perempuan dewasa di lembah timur Bukit Barisan. Para perempuan itu ditukar dengan mesiu”. Setahun setelah peristiwa ini Tuanku Tambusai menyerang Datuk Bange lagi. Pada penyergapan kali ini Datuk Bange dapat dikepung, namun ia berhasil lolos dengan keadaan terluka. Disebutkan Basyral bahwa Datuk Bange mau menyerah, tapi dengan syarat Tuanku Tambusai membiarkan pengikut Datuk Bange selamat. “Kenyataannya pasukan Tambusai kemudian memutilasi ratusan penduduk Padang Lawas”.<br />
<br />
Inti dari pemikiran Basyral ini adalah ia mempertanyakan kepahlawanan Tuanku Tambusai yang telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional RI tahun 1995 sebagaimana juga disangkatnya. Tuanku Imam Bonjol sebagai Pahlawan Nasional RI dari Sumatera Barat tahun 1973. Basyral mengatakan, “Mengapa ia (Tuanku Tambusai) dianggap pahlawan?”<br />
<br />
Basyral membenarkan semua kisah tentang pembantaian yang dilakukan Tuanku Tambusai berdasarkan catatan J.B. Neuman, Jughuhn, Ypes, Schnitger dan T.J. Willer. Ia salah satunya mengutip catatan Willer, “….. Padri yang dipimpin oleh Tambusai membakar kampung demi kampung…. Mereka memaksakan ajaran Islam (Wahabi) dimana-mana. Jika penduduk tidak serta merta mau masuk Islam akan segera dibunuh……..”<br />
<br />
Demikianlah kutipan-kutipan kontroversial tentang kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Tambusai yang perlu diluruskan berdasarkan kejian ilmiah dan sumber-sumber terpercaya. Selanjutnya akan dipaparkan kebenaran sejarah berdasarkan hasil kajian dari para pakar sejarah dan tokoh masyarakat di Riau yang telah dimuat pada buku Pengusulan Tuanku Tambusai sebagai Pahlawan Nasional yang diterbitkan tahun 1995. Di dalam buku ini telah ditetapkan Tuanku Tambusai sebagai Pahlawan Nasional RI berdasarkan Kepres No. 071/TK/tahun 1995 tanggal 7 Agustus 1995, dengan sendirinya telah mempunyai kepastian hukum.<br />
<br />
<br />
<b>III. KLARIFIKASI DAN PELURUSAN SEJARAH</b><br />
<br />
1.    Klarifikasi dimaksudkan untuk mengkritisi atas kontroversi Buku <i>Tuanku Rao </i>karangan MO. Parlindungan dan <i>Greget Tuanku Rao</i>. Hasil penelitian dari tim pengusulan Tuanku Tambusai sebagai Pahlawan Nasional melalui kajian mendalam dari berbagai pakar ditemukan fakta bahwa pada intinya Tuanku Tambusai merupakan ulama Islam melawan kolonial Belanda yang menganut agama Kristen/Nasrani (kafir). Perjuangannya bersama kaum Padri adalah jihad. Yang pasti dalam setiap perang tentunya terjadi korban dari kedua belah pihak. Tapi fitnah yang dilontarkan terhadap Tuanku Tambusai dan juga Tuanku Imam Bonjol melalui kedua buku di atas sangat berlebihan. Apakah mungkin seorang penganut Islam yang taat hasil dari didikan kota suci Mekkah tega membunuh orang tak berdosa? Dimana-mana Islam selalu disebarkan dengan damai, bukan dengan pedang sebagaimana dituduhkan pihak lawan. Beda tentunya dengan kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara dengan membawa misi dengan menghalalkan segala cara.<br />
<br />
2.    Pendapat M.O. Parlindungan tentang Tuanku Tambusai merupakan gelar dari Hamonangan Harahap tidaklah benar. Berdasarkan penelusuran data yang tidak diragukan lagi keakuratannya, bahwa Tuanku Tambusai semula lebih dikenal dengan nama Muhammad Saleh. Ia dfilahirkan di Tambusai (sebuah kecamatan di Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau) tanggal 5 Oktober 1784 dari pasangan Ibrahim dengan Munah. Ayahnya adalah seorang ulama besar di Kerajaan Tambusai waktu itu. Ia sejak kecil sudah diajari pelajaran agama dengan ketat, beladiri, termasuk ketangkasan mengendari kuda. Guna memperdalam ilmu agama Muhammad Saleh kecil pergi menunut ilmu di Bonjol kemudian pindah ke Rao (Sumatera Barat sekarang).<br />
<br />
Mengenai akhir hayatnya, disebutkan setelah mengalami kekalahan akibat Benteng pertahananannya (terkenal Benteng Tujuh Lapis) berhasil diduduki Belanda dengan bantuan kaum pribumi yang pro penjajah di Dalu-dalu, Tuanku Tambusai berhasil meloloskan diri dengan menaiki sampan melalui Sungai Batang Sosah. Sampannya sempat ditembak oleh Serdadu Belanda, tapi ia berhasil menyelamatkan diri dengan menyelusuri hilir sungai. Selanjutnya setelah aman dari kejaran serdadu Belanda Tuanku Tambusai dengan beberapa pengikutnya beliau menyeberang ke Semenanjung Melaka (Malaysia) melalui Sungai Rokan. <br />
<br />
Pada tanggal 28 Desember 1838 sampan kecilnya serta juga beberapa buku yang dibawanya ditemukan di Sungai Rokan. Sejak itu ia tidak pernah ditemukan lagi di wilayah Rokan karena sudah pergi ke Malaysia. Di sini pengikut-pengikutnya berpencar pada beberapa tempat, sedangkan ia menetap di sebuah kampung kecil sembilan batu dari Serasah, Seremban, Ibukota Negeri Sembilan Malaysia.<br />
<br />
Beliau menghabiskan sisa hidupnya di negeri itu, setelah berjuang membela Negara, bangsa dan agamanya. Akhirnya beliau berpulang kerahmatullah dan dimakamkan di sana. Makam beliau hingga sekarang sering mendapat kunjungan dari orang-orang Riau yang pergi ke Malaysia. Bahkan oleh Pemerintah Provinsi Riau sudah dilakukan pemugaran dan jalan menuju makam yang terletak di atas bukit itu telah diaspal dan disamping makam dibangun tempat menyimpan buku-buku yang dibawa Tuanku Tambusai serta mushalla tahun 2004.  Di sekitar makam beliau, tepatnya di bawah bukit terdapat pemukiman keturunan beliau. Hal tersebut membuktikan kebenaran bahwa Tuanku Tambusai tersebut merupakan pejuang dan pahlawan nasional yang berasal dari Riau.<br />
<br />
Perjuangan Tuanku Tambusai telah pula didokumentasikan melalui sinetron tahun 1989 sebelum beliau diangkat menjadi Pahlawan Nasional, sinetron ini dibintangi oleh artis nasional di antaranya Cok Simbara dan Renni Jayusman dkk serta disutradarai oleh Irwinsyah (alm). Sinetron ini berhasil memenangi Festival Sinetron Indonesia.<br />
<br />
Jadi tidak benar beliau bernama Hamonangan Harahap dan akhir hayat beliaupun jelas bukti-bukti kesahihannya.<br />
<br />
3.    Tuduhan-tuduhan dari Basyral sebenarnya juga tidak masuk akal. Untuk mengklarifikasi kebenarannya berikut dipaparkan sejarah perjuangan Tuanku Tambusai yang sesungguhnya: Kemasyuran ulama besar seperti Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piobang, dan Tuanku Nan renceh di Minangkabau sampai juga ke Tambusai. Hanya saja di Tambusai tidak ada pertentangan antara kaum adat dengan kaum Padri. Dengan ketekunannya belajar, Muhammad Saleh menjadi seorang Padri dengan gelar fakih. Ia ditugaskan guru-gurunya berdakwah di daerah yang paling rawan waktu itu, yaitu Toba (Sumatera Utara sekarang) yang sebagian besar penduduknya masih menganut kepercayaan pelebegu. Di daerah itu ia merasa nyawanya terancam akibat fitnah bahwa ia ingin merombak adat nenek moyang orang Batak. Ia kembali ke Rao (Sumatera Barat sekarang). Bersama Tuanku Rao, ia menyiarkan agama Islam ke berbagai pelosok seperti Airbangis dan Padanglawas kemudian mendirikan pesantren di kampungnya, Dalu-dalu. Karena tingkat keilmuan agamanya tinggi ia memperoleh gelar tuanku. Tuanku Tambusai. Dengan gelar itu, ia ditugasi sebagai Panglima Paderi di Rao. Di samping sebagai panglima, ia menjadi salah seorang dari empat orang paderi yang berangkat ke Mekkah pada akhir tahun 1820-an untuk mempelajari perkembangan pemikiran Islam di Tanah Suci.<br />
<br />
Begitu juga ketika Letkol Elout mengajaknya berdamai di Padang Matinggo, Rao, tahun 1832. Tuanku Tambusai meminta kepada Elout jangan mencampuri urusan negeri orang lain. Elout membalas permintaan itu dengan mengatakan bahwa di mana ada Belanda masuk, di situlah ia membuat kuburan. Secara spontan Tuanku Tambusai menjawab “Jika begitu sediakan bedil!”<br />
<br />
Dari paparan di atas dapatlah disimpulkan bahwa Tuanku Tambusai telah menunaikan kewajibannya sebagai ulama besar. Di manapun ia singgah masyarakat menghargai dan membantunya. Ia pejuang pembela tanah air yang gigih dan pantang menyerah. Jadi, tidak mungkin seorang ulama besar memimpin pembunuhan massal. Apalagi sebagaimana yang disampaikan Basyral sendiri bahwa masyarakat Padang Lawas ketika itu sudah memeluk agama Islam. Kita tahu bahwa Tuanku Tambusai berjuang untuk mengislamkan orang yang belum masuk Islam, mungkinkah orang yang sudah Islam sendiri dibantainya tanpa alasan yang jelas?<br />
<br />
<br />
<b>IV. KESIMPULAN</b><br />
<br />
Dari paparan singkat di atas jelas bahwa kedua buku tersebut lebih banyak khayal belaka. Sebagaimana dikatakan Prof. Hamka bahwa isi buku <i>Tuanku Rao</i> 80% bohong, sedangkan sisanya diragukan kebenarannya, buku <i>Greget Tuanku Rao</i> juga tidak jauh beda kenyataannya. Merujuk ungkapan bahwa setiap kali beliau menanyakan data dan fakta dari buku tersebut, MO. Parlindungan selalu menjawab “SUDAH DIBAKAR”.<br />
<br />
Jadi, dengan ucapan tersebut sudah jelas, ia mengakui bahwa kebenaran bukunya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karena itulah penerbitan kembali buku <i>Tuanku Rao</i> tidak sesuai dengan nilai-nilai ilmiah yang penuh kejujuran dan bertanggungjawab. Begitupun buku <i>Greget Tuanku Rao</i> yang banyak memutarbalikkan fakta yang sebenarnya.<br />
<br />
Oleh sebab itulah, <i>reprint</i> Buku <i>Tuanku Rao </i>dan <i>Greget Tuanku Rao</i> menyalahi ketentuan yang berlaku. Apalagi kebenaran kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai sudah tertuang dalam buku yang kebenarannya tidak diragukan karena sudah melalui penelitian dan telah mendapat penilaian mendalam dari tim ahli dalam penetapan Pahlawan Nasional RI.<br />
<br />
Kami berpandangan terbitnya Buku <i>Tuanku Rao</i> dan <i>Greget Tuanku Rao</i> semata-mata melecehkan dunia ilmiah karena tidak sesuai dengan kebenarannya. Kehadiran buku tersebut merupakan upaya <b>pembohongan publik dan merusak marwah masyarakat Minang dan masyarakat Melayu Riau serta dapat menimbulkan konflik SARA (Suku, Agama, Ras, dan antar Golongan)</b><br />
<br />
<br />
<b>V. REKOMENDASI</b><br />
1.   Masyarakat Melayu Riau menentang peredaran Buku <i>Tuanku Rao </i>dan <i>Greget Tuanku Rao</i> karena tidak sesuai dengan fakta sejarah.<br />
•    Mendesak Pemerintah RI (Kejaksaan Agung) supaya kedua buku tersebut dilarang terbit dan buku yang masih beredar ditarik kembali.<br />
•    Karena dinilai adanya unsur pembohongan publik, maka kepada aparat penegak hukum untuk mengusut dan menindak yang terlibat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.<br />
<br />
<br />
<b>VI. BAHAN RUJUKAN</b><br />
<br />
Tor Seminar Sejarah Perang Paderi 1803-1838….,<br />
Majalah <i>Tempo</i> edisi, 15-21 Oktober 2007;<br />
M.O. Parlindungan <i>Tuanku Rao</i>, LKiS, 2007;<br />
Soedarmanta, J.B. <i>Jejak-jejak Pahlawan</i>, Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia, Jakarta, 1992;<br />
Arief Gunarso S.TP (penyunting), <i>Ensiklopedia Pahlawan Nasional</i>, Penerbit Tanda Baca,Jakarta,2007.<br />
<br />
--------------------<br />
<br />
Itulah makalah yang disampaikan Prof. Drs. Suwardi, M.S. Setiap pembaca, dapat menilai kualitas makalah ini. <br />
<br />
Batara Hutagalung dalam makalahnya <i>Beberapa Catatan Mengenai Tuanku Rao dan Perang Paderi</i> antara lain berbicara tentang buku <i>Greget Tuanku Rao</i>. Batara Hutagalung antara lain menyebutkan bahwa Basyral Hamidy Harahap menulis di dalam buku <i>Greget Tuanku Rao</i> membantah beberapa hal yang ditulis oleh Mangaraja Onggang Patlindungan, namun dia membenarkan terjadinya tindak kekerasan seperti perkosaan yand dilakukan oleh tentara Paderi. Di bagian lain makalahnya, Batara Hutagalung mengutip buku <i>Greget Tuanku Rao</i> yang menyebutkan bahwa, Datu Bange telah beragama Islam, namun tidak mau menerima aliran Islam yang dibawa oleh Tuanku Tambusai. Lama sebelum gerakan Paderi, mereka sudah memeluk Islam. Selanjutnya Batara Hutagalung menyebutkan bahwa Basyral Hamidy Harahap menyatakan bahwa Datu Bange bukan perampok, melainkan Kepala Luat Dolok, raja paling kharismatik di Padang Lawas Raya yang dicintai oleh rakyatnya. Bahwa, ulama-ulama sufi sangat besar peranannya di Mandailing yang menyebarkan agama Islam di daerah itu berabad sebelum Paderi datang (<i>Greget Tuanku Rao</i>, halaman 68).<br />
<br />
H. Bismar Siregar, S.H. menyebutkan pada beberapa butir dalam makalahnya sebagai berikut: <br />
Butir 5a: Adanya perbedaan akhir-akhir ini dengan adanya buku Tuanku Rao karya Mangaraja Onggang Parlindungan dilengkapi buku karya Basyral Hamidy Harahap <i>Greget Tuanku Rao </i>tentang peran tokoh Batak-Mandailing dalam perang Padri, mengundang keraguan pemberian tanda jasa sekaligus helar Kepahlawanan kepada Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai mengingat jasanya mengobarkan perang Padri tidakkah layak juga gelar itu diberikan kepada pahlawan-pahlawan dari suku Batak-Mandailing seperti Tuanku Rao, Tuanku Lelo dan lainnya memerlukan penelitian yang objektif. <br />
<br />
Butir 5b: Tentu untuk itu memerlukan penelitian sejarah dan telah ada ahlinya Sdr. Basyral Hamidy Harahap yang telah menulis hasil telitiannya dalam buku Greget Tuanku Rao. Sungguh berharga bila buku tersebut dijadikan pelengkap buku karya Magaraja Onggang Parlindungan Siregar berjudul Tuanku Rao. Memang patut diakui banyak kekurangan, memang benar buku ditulis bukan untuk studi ilmiyah. Sekedar pesan warisan bagi anaknya Dear Sonny. <br />
<br />
Butir 5c: Dua buku setepatnya dijadikan awal bacaan mengingat-ingat sejauh manalah kebenaran pahlawan-pahlawan Batak-Mandailing ini ikut berperan dalam perang Padri sampai ada di antara mereka yang meninggal di medan laga Airbangis sedangkan Tuanku Imam Bonjol siap menyerah untuk ditetapkan hidup di pembuangan di luar kampung halaman yang dicintai di Manado. <br />
<br />
Butir 5d: Ada hasrat dan keinginan sementara fihak agar diadakan kajian kembali terhadap pejuang-pejuang Islam itu untuk dipertimbangkan layak atau bukan diberikan gelar Pahlawan Nasional.<br />
<br />
Ketika Batara Hutagalung mendapat kesempatan menjawab pertanyaan peserta, ia berkata: “Kalau diizinkan oleh moderator dan ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian, saya ingin memberikan hak jawab saya kepada Bapak Basyral Hamidy Harahap. Karena saya pikir, beliau mempunyai hak mebela diri, karena di sini ada sebuah paper yang mengacu pada buku <i>Greget Tuanku Rao</i>,” kata Batara Hutagalung.<br />
<br />
Saya berterima kasih kepada Batara Hutagalung yang masih kental mengamalkan salah satu nilai luhur budaya Batak, ialah menjunjung tinggi <i>jambar hata</i>, ialah hak dan kewajiban berbicara yang harus diberikan kepada orang yang berhak dan wajib berbicara. <br />
<br />
Saya merekam seluruh acara itu agar lebih bermanfaat bagi pemahaman tentang apa saja yang dipikirkan oleh pemakalah dan penanggap tentang Perang Paderi dan sejauh mana Islam dan adat mendasari perilaku orang Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari. Saya juga merekam kata-kata saya untuk menanggapi makalah Prof. Drs. Suwardi, M.S. Seorang peserta yang ternyata adalah tetangga saya dan kami adalah jamaah satu masjid yang sama, mengatakan bahwa saya pernah menceritakan keberadaan buku Greget Tuanku Rao dalam salah satu ceramah saya di masjid kami. Ia berkesimpulan bahwa buku Greget Tuanku Rao adalah turi-turian sehingga anak-anaknya tak perlu meluangkan waktu untuk membacanya. Ia adalah ketua alumni suatu SMA Negeri di Riau yang berdomisili di Jakarta. Inilah transkripsi tanggapan saya:<br />
<br />
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh,<br />
Terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesempatan ini dan terima kasih juga kepada Profesor Suwardi, dari yang memimpin Tim Riau, dan terima kasih sekali lagi karena sudah mengangkat nama saya di sana (sambil saya tunjuk tulisan yang ditayangkan power point). Dan hanya saya kecewa, di dalam rujukan yang bapak tulis ini, bapak tidak membaca buku Greget Tuanku Rao (Profesor Suwardi menyahut dari kursi panelis “Ya saya belum membaca”). Bapak hanya membaca TEMPO, tahulah bagaimana surat kabar berbicara. Oleh karena itu, saya anjurkan kepada Bapak, semua Tim dari Riau ini, semua kita ini, bacalah buku Greget Tuanku Rao dengan lapang dada dan sabar. <br />
<br />
Saya hanya sedikit sekali bicara tentang Paderi di situ. Tentang pertanyaan saya itu, kemudian menjadi membludak begitu rupa. Saya banyak bercerita tentang bagaimana pembangunan di Mandailing, bagaimana mega proyek pembuatan jalan 90 kilometer dari Panyabungan sampai ke Natal yang hebat sekali mengangkat nama Mandailing sampai sekarang ini. Itu tidak pernah dilihat orang. Bagaimana peranan Willem Iskander dalam bidang pendidikan dll. <br />
<br />
Hanya karena pertanyaan itu, kemudian semua orang menjadi mabuk. Dan tanpa membaca buku ini, berani membuat makalah semacam ini. Ya, hanya membaca TEMPO yang begitu.  Tahulah bahasa TEMPO, ya. Itu, berita TEMPO itu, tiga jam kami berdiskusi mengenai soal itu. Kemudian dia tampilkan begitu. Dan belum tentu seluruhnya saya setuju dengan yang disampaikan oleh TEMPO. <br />
<br />
Jadi, tadi ada yang menanyakan, “Apa maksudnya?” Maksudnya tidak ada apa-apa. Supaya tahu, dari awal saya tadinya diminta oleh suatu penerbit untuk membuat pengantar buku Tuanku Rao karya Mangaraja Onggang. Tetapi, Saudara Dorpi mengatakan “Saya tidak mau buku ini dirobah, dan tidak boleh ada pengantar yang lain.” <br />
<br />
Oleh karena itu Komunitas Bambu mengatakan “Coba bang, tulis buku aja.”  Dan  saya tulis selama tiga bulan, siang malam. Siang malam, kadang-kadang dua hari tidak tidur. Sehingga ada kesalahan ketik antara lain pada halaman 87 yang seharusnya Dante Alighieri tetapi saya tulis orang lain. <br />
<br />
Nah, jadi tidak ada maksud lain-lain, hanya menceritakan sejarah. Bahwa  itu juga turi-turian, terserah kepada tetangga saya yang di sana. Mungkin jamaah masjid saya juga, waktu saya cerita bahwa buku ini akan terbit. Apa itu turi-turian, apa itu buku sejarah, mungkin tidak ada gunanya, terserah. Ini barangkali tujuan saya adalah mendorong orang, cobalah menulis yang lebih baik, cobalah dari Riau itu menulis sebanyak-banyaknya lagi. Buktikan, semakin banyak kita menulis, semakin baik. Bukan malah melarang seperti pak Batara katakan. <br />
<br />
Demikian, dan saya sendiri sebagai latar belakang, saya 26 tahun bekerja di Perwakilan Indonesia Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde. Setiap orang bilang, kalau belajar tentang Indonesia pergilah ke Belanda. Itulah kantor saya. Saya mondar mandir ke [Leiden] sana. Setiap kali saya ke sana, saya kumpulkan bahan-bahan. <br />
<br />
Dan tidak mesti kita benci kepada bahan-bahan yang ada di Negeri Belanda. Jadi, para ahli yang mungkin ada di sini barangkali mengakui  Adatrechtbundel yang diterbitkan oleh kantor saya itu, itulah buku suci bagi ahli hukum, dan [mereka] membaca Adatrechtbundel  ketika hendak menjadi ahli hukum Indonesia. <br />
<br />
Itu saja dari saya, dan mohon maaf kalau ini terlalu tegas. Tetapi tidak ada maksud apa pun juga, hanya karena mendorong orang supaya menulis lagi (tepuk tangan hadirin). Seperti saya didorong oleh Mangaraja Onggang supaya saya menulis. Apakah [buku] ini turi-turian atau tidak, terserah kepada bapak tetangga saya ini. Terserah. Enak dibaca, tidak enak dibaca, bohong, silahkan. <br />
<br />
Cari bukti-bukti, kakek moyang saya itu perampok menurut panitia yang tadi bapak kutip itu, panitia yang dari Medan, silahkan. Tetapi saya buktikan, tidak! Jadi, silahkanlah menulis. Siapa saja pun juga, dari Riau, dari mana-mana pun juga. Silahkan menulis. Terima kasih  (tepuk tangan hadirin).<br />
<br />
<br />
<b>GREGET TUANKU RAO</b><br />
<br />
Bagi yang belum membaca buku saya <i>Greget Tuanku Rao</i>, saya sajikan di sini daftar isinya sbb.:<br />
<br />
<b>Prolog</b><br />
<br />
Perkenalan saya dengan MOP. Alasan menulis buku <i>Greget Tuanku Rao</i>: 1) Mengoreksi kesalahan buku Tuanku Rao, 2) Menulis tentang hal-hal yang luput dari perhatian MOP, 3) Menulis tentang hal-hal yang tidak diketahui oleh MOP. Nama delapan orang peneliti asing yang saya kenal fasih berbahasa daerah masyarakat yang mereka teliti.<br />
<br />
<b>Bab I: Bayo Parturi</b><br />
Fungsionaris Pemerintah Tradisional ada 25 jabatan, termasuk Martua Raja sebagai Panglima Perang (7), Panto Raja sebagai Ahli Sejarah dan Sastra, Juru Kisah (Parturi). Biodata Sutan Martua Raja ayah MOP dan foto MOP ketika berusia 6 tahun berdiri di samping ayahnya. Uraian tentang Bayo Parturi.<br />
<br />
<b>Bab II: Marga Babiat </b><br />
Silsilah Marga Babiat, dilengkapi silsilah sampai dengan Datu Bange generasi XII. Raja Hurlang, adik Datu Bange, mempunyai anak bernama Bandaro yang menetap di Sihepeng, Mandailing Godang. Pergaulan manusia dan harimau. <br />
<br />
<b>Bab III: Datu Bange </b><br />
Datu Bange, Raja Simanabun, yang melawan Tuanku Tambusai di Luat Dolok. Gerakan Tuanku Tambusai. Semangat juang Datu Bange mempertahankan tanah air, harkat dan martabat kaumnya mirip dengan semangat pejuang Indian Geronimo dan tokoh fiktif Indian, Winnetou, karya Karl May. <br />
<br />
<b>Bab IV: Kontroversi </b><br />
Kutipan beberapa bagian dari buku Tuanku Rao yang kontroversal.<br />
<br />
<b>Bab V: Tuanku Imam Bonjol </b><br />
Naskah Tuanku Imam Bonjol yang ditulisnya sendiri halaman 1-191 dan yang ditulis oleh anaknya sendiri Sultan Caniago dari halaman 192 – 318. Wasiat Tuanku Imam Bonjol. Tuanku Imam Bonjol menyerah. Kita bertanya tentang kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai. <br />
<br />
<b>Bab VI: Perantau Mandailing </b><br />
Keberadaan perantau Mandailing di Pasaman sudah ada berabad sebelum lahirnya gerakan kaum Paderi. Mereka tampil sebagai petani, pedagang, guru mengaji, pengurus masjid, zakat, dan wakaf. Merekalah yang menyebarkan Islam ke Mandailing berabad sebelum perang Paderi. <br />
<br />
<b>Bab VII: Para Pengagum</b><br />
Ada tiga orang pengagum MOP, ialah Prof.Dr. Slametmulyana, Hamka dan Bismar Siregar.<br />
<br />
<b>Bab VIII: Eduard Douwes Dekker (Multatuli)</b> <br />
Pengalaman Eduard Douwes Dekker (Multatuli) ketika menjabat Kontrolir Natal 1842-1843. Sajak Multatuli tentang kehidupan nelayan Natal.<br />
<br />
<b>Bab IX: Duet Godon Dengan Yang Dipertuan </b><br />
Asisten Residen Mandailing Angkola, Alexander Philippus Godon (1816-1899) selama sembilan tahun (1848-1857) bekerjasama dengan Yang Dipertuan Hutasiantar, membangun masyarakat, antara lain: mega proyek pembangunan jalan ekonomi 90 kilometer dari Panyabungan ke Natal, pembangunan sekolah-sekolah, menghapuskan perbudakan, penataan ekonomi, perbaikan kampung, kesehatan masyarakat, komoditi ekspor kopi dan lem elastik, penanaman kelapa dan pencetakan sawah.<br />
<br />
<b>Bab X: Willem Iskander </b><br />
Sati Nasution gelar Sutan Iskandar yang kelak terkenal dengan nama Willem Iskander (1840-1876) pelopor pendidikan guru bumiputera dengan mendirikan Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers di Tanobato 1862, dan pengarang antara lain karyanya Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk pertama kali diterbitkan di Batavia 1872. Bab ini berisi cuplikan hasil penelitian saya sejak 1975 sampai dengan 2006 tentang Willem Iskander dan karyanya, termasuk daftar karya Willem Iskander, daftar murid yang menjadi guru dan pengarang. Beberapa sajak Willem Iskander. Cuplikan naskah buku Balada Willem Iskander, ialah jejak langkah Willem Iskander dan penelusuran saya mencari jejak Willem Iskander.<br />
<br />
<b>Bab XI: Pionir Yang Terlupakan </b><br />
Rajiun Harahap gelar Sutan Casayangan Soripada (1874-1927) pendiri Indische Vereeniging, di Leiden tanggal 25 Oktober 1908, yang menjadi cikal bakal Perhimpoenan Indonesia. Ja Endar Muda Harahap raja surat kabar Sumatera yang mendirikan surat kabar di Padang, Sibolga, Medan dan Aceh. Pengaruh Willem Iskander.<br />
<br />
<b>Bab XII: Hilang Tak Berbekas </b><br />
Peranan para ulama sufi mengembangkan agama Islam di Mandailing Natal sebelum ada gerakan Paderi. Paderi tak meninggalkan kesan di tengah masyarakat yang sudah terlebih dahulu memeluk Islam.  <br />
<br />
<b>Epilog </b><br />
Harapan agar penulis lain menulis lebih banyak lagi.<br />
<br />
<b>Bacaan Rujukan </b><br />
Delapan halaman terdiri dari 70 entri.<br />
<br />
<b>Biodata</b><br />
<br />
<br />
Itulah ringkasan buku <i>Greget Tuanku Rao</i>. Uraian saya tentang Tuanku Imam Bonjol dan pengikutnya yang bersumber pada manuskrip Tuanku Imam Bonjol sendiri, uraian tentang serangan-serangan pasukan Tuanku Tambusai di Padang Lawas dan Barumun, dan pertanyaan saya tentang kepahlawanan dua Pahlawan Nasional itu, telah membuat gusar masyarakat Minangkabau dan Melayu Riau. Sehingga keberadaan buku <i>Greget Tuanku Rao</i> ikut menjadi alasan penyelenggaraan Panel Diskusi Sejarah Perang Paderi di gedung Arsip Nasional R.I. tanggal 22 Januari 2008. Uraian dan pertanyaan itu pula yang mendorong masyarakat Melayu Riau mengusulkan agar Kejaksaan Agung R.I. melarang buku Greget Tuanku Rao, seperti disebutkan di dalam makalah masyarakat Melayu Riau yang dibacakan oleh Prof.Drs. Suwardi, M.S.<br />
<br />
<br />
<b>SIAPA TUANKU TAMBUSAI ?</b><br />
Siapa Tuanku Tambusai? Uraian di bawah ini membantah pernyataan Prof.Drs. Suwardi, M.S. di dalam makalahnya yang tidak mengakui bahwa Tuanku Tambusai adalah Hamonangan Harahap. Kita dapat membaca ranji silsilahnya dalam buku Pahlawan Nasional Tuanku Tambusai (Hamonangan Harahap/Muhammad Saleh): Sejarah Ringkas Kehidupan dan Perjuangannya pada halaman 22 dan 23 yang diterbitkan oleh Tim Pengumpulan, Penyusunan dan Penulisan Sejarah Perjuangan Tuanku Tambusai di Propinsi Sumatera Utara. <br />
<br />
Hamonangan Harahap senior mendapat gelar Malim Kaha kemudian bergelar Haji Ibrahim Sutan Malenggang menikah dengan Kosum. Pasangan ini melahirkan Maulana Kadhi. Maulana Kadhi  menikah dengan Munah yang melahirkan Muhammad Saleh yang kemudian dikenal dengan nama Tuanku Tambusai. Leluhur Tuanku Tambusai dari pihak ibunya adalah: Munah (ibu Tuanku Tambusai) adalah anak perempuan dari pasangan Judah dan Paduko Lelo. Judah adalah anak perempuan dari pasangan Datuk Ulak dan Podi (lihat juga <i>Greget Tuanku Rao</i> halaman 56 dan 57). <br />
<br />
Silsilah ini disyahkan oleh Lembaga Kerapatan Adat Melayu Datuk-Datuk Pucuk Suku Dalu-dalu Tambusai dalam rapat di rumah Tengku Darwis, di Dalu-dalu, pada tanggal 6 November 1994 bersamaan dengan 2 hari bulan Jumadil Akhir antara pukul 20.00 s.d. 22.30. Silsilah ini ditanda tangani oleh 17 para Ketua Lembaga Adat, Cerdik Pandai termasuk B. Ar. Pulungan, S.H. Ketua Himpunan Keluarga Tapanuli Selatan dan Ketua Tim Pengumpulan, Penyusunan dan Penulisan Sejarah Perjuangan Tuanku Tambusai Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara.<br />
<br />
Gubernur Sumatera Utara, Raja Inal Siregar, dalam surat Rekomendasi Pengusulan Tuanku Tambusai sebagai Pahlawan Nasional kepada Menteri Sosial, nomor 464.1/5161 tanggal 8 Maret 1995, menyebutkan antara lain “… catatan sejarah yang kami himpun, diketahui bahwa leluhur Tuanku Tambusai bernama Hamonangan Harahap/Malim Kaha berasal dari Tapanuli Selatan dan daerah perjuangan Tuanku Tambusai meliputi wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Riau…”<br />
<br />
Gubernur Riau, Soeripto, dalam suratnya kepada Direktur Jenderal Bina Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial R.I. nomor 464.1/BINSOS/1113 tanggal 17 April 1995, perihal Kebenaran nama, ahli waris dan asal usul calon Pahlawan Nasional Tuanku Tambusai dengan merujuk surat Gubernur Sumatera Utara nomor 464.1/5161 tanggal 8 Maret 1995 itu menyebutkan hal-hal sebagai berikut:<br />
<br />
1.   Pemerintah Daerah yang mewakili dalam upacara penyerahan gelar Pahlawan Nasional terhadap Tuanku Tambusai adalah Pemerintah Daerah Tingkat I Riau dengan disaksikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Barat.<br />
<br />
2.   Ahli waris yang akan mewakili almarhum Tuanku Tambusai adalah Saleh Djasit, S.H., Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kampar.<br />
<br />
3.   Mengenai nama, riwayat hidup, dan riwayat perjuangan Tuanku Tambusai adalah sebagaimana tercantum dalam Riwayat Hidup dan Perjuangan Tuanku Tambusai terlampir, dan telah mendapat persetujuan dari Tim Pengumpulan, Penyusunan dan Penulisan Sejarah Perjuangan Tuanku Tambusai di Propinsi Sumatera Utara.<br />
<br />
<br />
<b>RENUNGAN</b><br />
Orang yang keberatan atas pertanyaan saya, terpaku pada apa yang tertulis. Mereka tak melihat apa yang tersirat dalam pertanyaan itu. Yang tersirat adalah: Sudah saatnya kriteria Pahlawan Nasional dirumuskan dan dibakukan sehingga berlaku pada semua Pahlawan Nasional. Kriteria itu harus disosialisasikan sedemikian rupa, seperti Pancasila, kepada murid dan pelajar sejak duduk di bangku Sekolah Dasar sampai Sekolah Lanjutan. Sehingga kelak setiap warganegara mengetahui dengan jelas apa syarat-syarat penetapan seseorang sebagai Pahlawan Nasional. <br />
<br />
Seseorang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional tidak hanya karena pernah mengangkat senjata berperang melawan kolonial Belanda atau diperangi oleh kolonial Belanda, tetapi juga termasuk orang yang berprestasi luar biasa menegakkan keadilan dan kebenaran dalam mengangkat harkat dan martabat bangsa. <br />
<br />
Sebagai contoh, Adam Malik yang ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional pada tanggal 9 November 1998. Saya sebagai seorang sahabat dan murid Adam Malik, dan sebagai salah seorang pendiri dan pengurus Yayasan Adam Malik, mengambil prakarsa mengajukan Adam Malik sebagai Pahlawan Nasional sesuai dengan prosedur yang berlaku. <br />
<br />
Sebagai penutup, perlu ada perenungan untuk mendesakralisasi para Pahlawan Nasional dengan mendudukkan mereka sebagai manusia biasa, yang memiliki banyak keunggulan dan tidak sedikit juga kelemahannya. Hal ini diperlukan, agar kita bisa lebih dekat dengan mereka, sehingga kita lebih dapat memahami makna perjuangan mereka. <br />
<br />
]]></description>
 <category>General</category>
<comments>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=36</comments>
 <pubDate>Sun, 27 Jan 2008 05:30:59 -0600</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[<b>BERITA BUKU</b>]]></title>
 <link>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=34</link>
<description><![CDATA[Ada buku-buku saya yang lain dengan harga termasuk ongkos kirim. Buku akan saya kirim setelah saya menerima melalui fax: 021-4891041 fotokopi bukti pembayaran ke rekening saya di Bank Mandiri Cabang Jakarta, Rawamangun, Pemuda No. 0060001282452  sbb.:<br />
 <br />
1984	<br />
<i>Perjalanan : Kumpulan Puisi</i>. – Jakarta : Puisi Indonesia. – 62 hal. Rp. 20.000,--<br />
<br />
1987	<br />
<i>Orientasi Nilai-Nilai Budaya Batak : Suatu Pendekatan Terhadap Perilaku Batak Toba dan Angkola Mandailing</i> / Basyral Hamidy Harahap dan Hotman M. Siahaan. – Jakarta : Sanggar Willem Iskander. – xiv, 241 p. – ISBN 979-8067-00-9. Harga Rp. 50.000,--<br />
 <br />
2003a	<br />
<i>Aceh di mata DR. Piekaar</i>. – Jakarta : Hambali Swadaya Putra. – 44 hal. – (ISBN 979-97693-02. Harga Rp. 15.000,--<br />
<br />
2003b    <br />
<i>Pemerintah Kota Padangsidimpuan menghadapi tantangan zaman</i>. - Padangsidimpuan : Pemerintah Kota Padangsidimpuan. - 241 hal. - (ISBN 979-98049-0-6). Harga Rp. 50.000,--<br />
 <br />
2004a	<br />
<i>Madina Yang Madani: Pemerintah Kabupaten Madina membangun masyarakat yang madani: suatu studi perbandingan</i>. – Cet. 1. – Panyabungan : Pemkab Madina. – 424 [62] hal. – (ISBN 979-98376-0-X). Harga Rp. 75.000,--<br />
 <br />
2004b  <br />
Siala Sampagul : nilai-nilai luhur budaya masyarakat Kota Padangsidimpuan. - Padangsidimpuan : Pemerintah Kota Padangsidimpuan. - xvi, 203 hal. - (ISBN 979-98049-1-4). Harga Rp. 50.000,--<br />
 <br />
2005a	<br />
<i>Fakta dan angka: Statistik pendidikan Kabupaten Mandailing Natal 2005</i>. – Panyabungan : Dinas Pendidikan Madina. – xii, 88 hal. – (ISBN 979-99704-0-7). Harga Rp. 35.000,--<br />
 <br />
2005b	<br />
<i>Rakyat mendaulat Taman Nasional Batang Gadis</i>. – Panyabungan : Pemkab Madina. – xvi [16], 132 hal. – (ISBN 979-98376-1-8). Harga Rp. 45.000,--<br />
<br />
2002	<br />
Iskander, Willem<br />
<i>Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk</i> / oleh Willem Iskander ; pengantar dan terjemahan oleh Basyral Hamidy Harahap. – Edisi ketiga Dwi Bahasa. – Jakarta : Sanggar Willem Iskander. – xi, 109 hal. – (ISBN  979-8067-01-0). Harga Rp. 20.000,--<br />
]]></description>
 <category>General</category>
<comments>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=34</comments>
 <pubDate>Mon, 07 Jan 2008 19:43:01 -0600</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[<b>MARTABE</b>]]></title>
 <link>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=30</link>
<description><![CDATA[<br />
<br />
<b>MARTABE</b><br />
<br />
<br />
OLEH BASYRAL HAMIDY HARAHAP<br />
<br />
<br />
<br />
<b>Pengantar</b><br />
Martabe adalah istilah yang populer di Sumatera Utara sejak tahun 1988. Kata itu merupakan singkatan dari kalimat dalam bahasa Angkola-Mandailing dan Batak Toba Marsipature Hutana Be, artinya membangun kampung masing-masing. Kata tersebut dipopulerkan oleh Gubernur Sumatera Utara, Raja Inal Siregar, pada tahun pertama masa baktinya yang pertama, 1988, dengan melembagakannya menjadi Gerakan Pembangunan Desa Terpadu Marsipature Hutana Be.<br />
<br />
Martabe merupakan bagian dari proses demokratisasi masyarakat. Masyarakat mempunyai peluang mengamalkan nilai-nilai luhur budayanya dalam proses pembangunan. Dengan Martabe, kekuatan solidaritas didorong untuk bangkit. Serentak dengan bangkitnya kekuatan solidaritas itu, bangkit pula kesadaran kritis yang mampu mendorong sinergi gerak pembangunan di antara sesama anggota komunitas masyarakat dengan pemerintah sebagai tuan rumah pembangunan.    <br />
<br />
Asal muasal istilah Martabe, bermula dari suatu seminar kebudayaan Batak di Bandung pada bulan Desember 1986 yang disponsori oleh Panglima Divisi Siliwangi Mayjen. TNI Raja Inal Siregar. Saya adalah salah seorang peserta seminar itu. Usai seminar, dibentuklah satu tim beranggotakan 12 orang yang bertugas menilai kelayakan penerbitan semua makalah seminar itu. Saya termasuk di antara Tim 12 orang itu. Tim ini berkesimpulan bahwa semua makalah tidak layak diterbitkan. Maka, kepada anggota Tim 12 ditugaskan untuk menulis karangan sendiri yang kiranya layak diterbitkan.<br />
<br />
Ternyata Tim 12 tidak berhasil menulis karangan masing-masing. Tim 12 bubar. Sebagai gantinya dibentuk Tim 4 beranggotakan empat orang yang sebelumnya adalah anggota Tim 12, ialah: saya sendiri, Basyral Hamidy Harahap, dari  Perwakilan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) di Indonesia, Hotman M. Siahaan dari Universitas Airlangga, Usman Tampubolon dari Universitas Gajah Mada, dan Ponpon Harahap dari Universitas Padjadjaran. Tim 4 bekerja menulis masing-masing karangannya. Tim 4 beberapa kali bertemu di Jakarta dan Bandung  untuk merembukkan dan menulis karangan masing-masing. Tetapi ternyata, hanya dua orang yang berhasil menulis naskah buku, ialah saya sendiri dan Hotman M. Siahaan. <br />
<br />
Hal ini terjadi karena Ponpon Harahap sangat sibuk menggarap disertasinya berjudul  Sistem Motif Agresi Pada Remaja: Suatu Studi Mengenai Cerminan Adat Dalam Praktek Pengasuhan Anak, Terhadap Pembentukan Sistem Motif Agresi, pada Remaja Batak Toba di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Sedangkan Usman Tampubolon mengundurkan diri karena tidak sepaham tentang gaya penulisan buku. Usman Tampubolon berpendirian, bahwa buku ini haruslah buku ilmiah dengan memakai bahasa ilmiah yang hanya dapat dibaca dan dipahami oleh orang terpelajar. Saya tidak sependapat dengan Usman Tampubolon. Sebab menurut pendapat saya, karya ilmiah dapat ditulis dengan bahasa surat kabar agar khalayak ramai mudah membacanya. Pendapat saya sesuai dengan pendapat Raja Inal Siregar sendiri. Hotman M. Siahaan pun setuju. Maka akhirnya Tim ini hanya terdiri dari dua orang, ialah saya dan Hotman M. Siahaan. <br />
<br />
Kami berdua bekerja keras menyusun naskah buku. Hotman M. Siahaan menulis teori sosiologi dan antropologi yang diterapkan untuk memahami sikap dan perilaku orang Batak Toba. Sedangkan saya menyiapkan naskah analisis kata demi kata 300 ungkapan tradisional Batak Toba dan 300 ungkapan tradisional Angkola Mandailing. Analisis itu dikonfirmasikan dengan observasi dan keterlibatan dalam kehidupan sehari-hari Batak Toba dan Angkola Mandailing. <br />
<br />
Hotman M. Siahaan menyerahkan naskah tulisannya untuk saya sunting. Kedua naskah inilah yang kemudian menjadi buku Orientasi Nilai-Nilai Budaya Batak: Suatu Pendekatan Terhadap Perlilaku Batak Toba dan Angkola Mandailing.  Pada hakikatnya buku ini ingin menjawab satu pertanyaan, ialah: “Apakah yang terpenting dalam hidup orang Batak Toba dan Angkola Mandailing menurut orang Batak Toba dan Angkola Mandailing sendiri ?<br />
<br />
Hotman M. Siahaan menulis Bab I s.d. Bab IV, halaman 23 s.d. 109 ditambah daftar masyarakat adat halaman 110 s.d. 132 yang dikutipnya dari buku Ypes halaman 539 s.d. 553,  ialah: Bab I Pendahuluan, Bab II Kebudayaan Religi Orang Batak: Mulajadi Na Bolon, Bab III Kebudayaan Ekonomi Batak: Parrengge-rengge, Bab IV Kebudayaan Birokrasi Batak: Sebagai Konsep Genealogis.<br />
<br />
Saya menulis Bab V s.d. Bab VIII, halaman 133 s.d. 341, ialah:  Bab V Nilai Budaya Batak, Bab VI Orientasi Nilai Budaya Batak Toba dan Angkola Mandailing, Bab VII Ungkapan Tradisional Batak Toba, Bab VIII Ungkapan Tradisional Batak Angkola Mandailing. Saya berasumsi, bahwa ungkapan tradisional adalah rekaman pandangan hidup suatu bangsa yang sejak bangsa itu ada terus mengamalkannya sampai sekarang. Berangkat dari asumsi inilah saya mencoba menelaah kata demi kata 300 ungkapan tradisional Batak Toba dan 300 ungkapan tradisional orang Angkola Mandailing. <br />
<br />
Di samping itu kami membuat konsep Rekomendasi pada halaman 1 s.d. 21 sebagai saran pendekatan kebudayaan dalam melaksanakan pembangunan di Sumatera Utara. Saya menyumbangkan Sub Bab 2: Pembangunan Sebagai Horja. Hotman M. Siahaan dengan gayanya yang khas menulis topik yang sudah kami sepakati itu di dalam Bab Rekomendasi. Hotman M. Siahaan menyerahkan naskah Rekomendasi dan Bab I s.d. Bab IV untuk saya sunting dan satukan dengan naskah yang saya tulis. Seterusnya saya menyiapkan pencetakan buku ini sebanyak 5.000 eksemplar.<br />
<br />
<br />
<b>Marsipature Hutana Be</b><br />
<br />
Konsep Pembangunan Sebagai Horja, halaman 6 s.d. 9, menjiwai gerakan Martabe. Pada saat mempersiapkan naskah buku ini, saya berkali-kali diundang oleh Mayjen TNI Raja Inal Siregar untuk membahas berbagai masalah seputar perilaku orang Batak Toba dan Angkola Mandailing. Dalam diskusi berdua yang biasanya berlangsung di ruang kerjanya selama berjam-jam kami membahas kiat-kiat melakukan pendekatan kebudayaan kepada berbagai etnis di Sumatera Utara, khususnya Batak Toba dan Angkola Mandailing. <br />
<br />
Berbagai sifat dan perilaku negatif kami bahas, antara lain empat huruf yang membentuk tiga kata dalam bahasa Batak Toba, ialah huruf a, e, l, dan t, ialah: elat, late, dan teal. Ketiga kata ini ditambah lagi dengan kata keempat ialah hosom yang populer di kalangan kedua puak Batak itu yang berarti dendam. Kata kelima ialah gutgut  satu kata yang populer di dalam masyarakat Angkola Mandailing yang secara harfiah berarti nyinyir. Lima kata itu mempunyai arti yang negatif.<br />
<br />
J. Warneck dalam kamus Toba-Batak &#9472; Deutsches Wörterbuch menerjemahkan kata-kata itu dalam bahasa Jerman dan saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:<br />
Elat, mangelati, jemand durch Kränken von etwas abhalten, artinya seseorang menghalangi orang lain dengan cara menyinggung atau menyakiti; elat ni roha, Neid, artinya rasa iri hati, rasa dengki. Late, I. Neid, Missgunst; neidisch, artinya rasa iri hati, rasa dengki, kecemburuan, kedengkian, dendam, sakit hati; late ni roha, Neid, atinya rasa iri hati; Neid; marlate ni roha, neidisch sein, beriri hati; mangalatei, jemand beneiden, artinya mencemburui seseorang; masilatean, sich gegenseitig beneiden, artinya saling membuat iri. II. Malate, Risse bekommen, von Holz, artinya patah (kayu, pohon); hau parlate, Holz, das leicht Risse bekommt, artinya kayu yang mudah patah, rapuh. <br />
Teal, heruntersinken, von einer Waagschale, artinya membenamkan, menafikan, memendam yang benar dan nyata; na teal so hinallung, gross tun, ohne das etwas dran ist, berbuat banyak padahal  bukan wewenangnya; na teal panghulingmu, deine Art zu sprechen ist unpassend, cara bicaramu tidak senonoh ; na teal martigatiga, ungeschickt im Handel, kurang terampil dalam berniaga; manealhon, jemand herunterziehen, verfüren, verleiten, membujuk, mengojok-ojok, menyesatkan; manealneal, ein Stück Fleisch an einem Strick aufgehängt tragen, menggunakan sesuatu untuk menjerat, menjebak seseorang; marsiteali, verschieden schwer sein, von den vorn und hinten an der Tragstange befestigten Teilen der Last, menyusahkan orang lain dari depan dan dari belakang. Hosom, feindlich gesinnt, vol Hass, dendam, bermusuhan, bertentangan, berlawanan. Gutgut  berarti nyinyir, dengki, iri hati, dendam.<br />
<br />
Semua penyakit hati ini, elat, late, teal, hosom, dan gugut, merupakan hambatan kultural dalam proses pembangunan. <br />
“Jadi bagaimana cara mengatasinya?”tanya Mayjen TNI Raja Inal Siregar. <br />
“Dengan mengamalkan ayat Al-Qur’an Surat Al Baqarah ayat 148, ialah fastabiqul khairaat, yang artinya berlomba-lomba berbuat kebajikan,” jawab saya.<br />
<br />
Dari sinilah timbul kata-kata marsipature hutana be. Saya lebih lanjut menjelaskan konsep fastabiqul khairaat itu sebagai berikut:<br />
“Jadi, kebiasaan berpikir, bersikap dan berperilaku elat, late, teal, hosom dan gutgut, yang negatif itu dirubah arahnya menjadi berpikir, bersikap dan bertindak positif. Caranya adalah mendorong masyarakat untuk berlomba-lomba membangun kampung masing-masing. Persaingan sehat itulah yang perlu disosialisasikan kepada orang-orang di desa-desa dan di tanah perantauan.  Perantau haruslah menjadi motor gerakan ini. Pasalnya mereka memiliki hampir segala keunggulan dibandingkan dengan kaum kerabatnya yang bermukim di kampungnya. Relatif mereka lebih berpendidikan, lebih kaya, lebih ulet, lebih banyak pengalaman, lebih cerdik dan pintar. Sehingga potensi perantau yang besar itu harus mereka sumbangkan kepada orang tuanya, kaum kerabatnya dan para penduduk kampungnya tanpa kecuali.”<br />
Jadi pada saat diskusi intensif berkali-kali dan berjam-jam di ruang kerja Panglima Siliwangi itulah lahir istilah marsipature hutana be. <br />
“Kita bagi kerja, kau menulis dan saya menyediakan dana penerbitannya,” kata Mayjen TNI Raja Inal Siregar singkat.<br />
“Ya,” jawab saya singkat pula.<br />
<br />
Maka istilah marsipature hutana be itu pun dicanangkan oleh Mayjen TNI Raja Inal Siregar pada saat peluncuran buku Orientasi Nilai-Nilai Budaya Batak: Suatu Pendekatan Terhadap Perilaku Batak Toba dan Angkola Mandailing di Madura Room Hotel Indonesia pada tanggal 18 September 1987.<br />
<br />
Hadir dalam acara peluncuran dan bedah buku itu 100 tokoh yang berasal dari Tapanuli, antara lain tiga orang mantan Gubernur Sumatera Utara: S.M. Amin, Maraha Halim Harahap dan E.W.P. Tambunan. Hadir Dr. Abdul Harris Nasution dan Tahi Bonar Simatupang, dua orang tokoh pimpinan TNI. Hadir sejenak Jenderal Maraden Panggabean, dan banyak tokoh lainnya seperti A.E. Manihuruk, Midian Sirait, K.T. Sirait, August Marpaung, Bismar Siregar, Maurits Simatupang, Barlianta Harahap, Muhammad Rajab Ranggasoli, komponis Nortir Simanungkalit, dll. <br />
<br />
Kami bertiga, saya, Hotman M. Siahaan dan Ponpon Harahap berada di hadapan hadirin memaparkan isi buku ini. Sedangkan Mayjen TNI Raja Inal Siregar berpidato tentang asal muasal penulisan dan penerbitan buku ini. Pada saat itulah ia mengumumkan istilah marsipature hutana be sebagai salah satu cara pendekatan kebudayaan dalam melaksanakan pembangunan di Sumatera Utara.<br />
Harian berbahasa Inggris terbitan hari Sabtu 19 September 1987 memuat berita peluncuran itu disertai foto pada rubrik National and Regional News, pada halaman 3 dengan teks berita sebagai berikut:<br />
<br />
<i>GATHERING FOR HARD WORK<br />
Maj. Gen. R.I. Siregar, the West Java/Siliwangi division commander as patron of the Willem Iskandar foundation last night hosted a gathering of about 100 public figures from Tapanuli (North Sumatra) to launch a newly published book on Batak Cultural Values, co-authored by Basyral Hamidy Harahap (seen addressing the meeting) and Hotman M. Siahaan (far right). Listening at the first row, from left: Gen. A.H. Nasution, former minister of national security and commander Siliwangi division Maj. Gen. R.I. Siregar, Lt. Gen. (ret.) T.B. Simatupang, former Chief of Staff Armed Forces, Marah Halim Harahap, former governor of North Sumatra, A.E. Manihuruk, and Maj. Gen. (ret.) A. Marpaung, former ambassador to Australia.<br />
The Willem Iskander Foundation is engaged in research od traditional values in Tapanuli that could be the under pinning of development in that region.</i><br />
<br />
Buku ini selain sebagian dijual melalui toko buku di Jakarta, Medan dan Pematang Siantar, juga didistribusikan kepada masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan dan dan kantor-kantor di Sumatera Utara.<br />
<br />
Pada awal tahun masa baktinya yang pertama sebagai Gubernur Sumatera Utara, Raja Inal Siregar, mendeklarasikan Gerakan Pembangunan Desa Terpadu Marsipature Hutana Be yang lebih terkenal dengan singkatan Martabe. Masyarakat Sumatera Utara sangat antusias bergabung dalam gerakan Martabe ini. Sampai kini, kita masih dapat menyaksikan nama berbagai toko, taksi, perusahaan dll. Memakai nama Martabe itu. <br />
<br />
Sosialisasi Martabe kepada penduduk dan perantau Sumatera Utara dilakukan oleh Raja Inal Siregar dengan cara yang sangat sederhana. Walaupun sederhana, namun hampir tidak ada alasan orang untuk tidak ikut serta membangun kampungnya masing-masing. Raja Inal Siregar menunjukkan, bahwa membangun kampung bagaikan melaksanakan shalat, ialah hanya anak-anak dan orang yang hilang ingatan yang terbebas dari melaksanan pembangunan di kampung masing-masing.<br />
<br />
Raja Inal Siregar menanyakan kepada hadirin setiap kali sosialisasi Martabe, apakah mereka sudah membangun kampungnya sendiri? Kalau sudah, apa saja yang dibangunnya? Apakah perantau sudah merehabilitasi rumah tua tempat dia dilahirkan dahulu? Berapa kali pulang ke kampung, apakah berkali-kali setiap tahun, satu kali setahun, satu kali dua tahun, satu kali tiga tahun, satu kali empat tahun, satu kali lima tahun, atau tak pernah lagi pulang kampung? Apakah pernah mengirim uang kepada orang tua atau kerabat lainnya di kampung? Berapa kali mengirim surat ke kampung, dan apa isi suratnya? <br />
<br />
Banyak lagi yang dikemukakannya agar orang tergugah membangun kampung tempat kelahirannya. Jika semua yang disebutkan di atas itu tidak pernah dilakukan oleh perantau, maka Raja Inal Siregar akhirnya menganjurkan kepada perantau supaya berdoalah semoga  orang-orang di kampungnya bergiat membangun kampungnya sendiri.<br />
<br />
Selain itu Raja Inal Siregar juga berusaha mendorong persaingan sehat di antara para  perantau yang berasal dari satu kampung untuk membangun kampungnya, atau persaingan sehat membangun kampung antar perantau dan penduduk kampung yang berdekatan. Sehingga penduduk Sumatera Utara berlomba-lomba membangun desanya lebih bagus dari desa tetangganya. Para perantau dihimbau agar merancang dan melaksanakan pembangunan masyarakat desanya sendiri. Masyarakat desanya pada hakikatnya adalah kerabat mereka sendiri. Jadi adalah merupakan perbuatan mulia dan terpuji, jika setiap perantau membantu kerabatnya sendiri agar dapat meningkatkan mutu kehidupan mereka.<br />
<br />
Perihal asal muasal gagasan Martabe itu saya kemukakan dalam berbagai kesempatan. Demikian juga Gubernur Sumatera Utara Raja Inal Siregar sering mengungkapkan di hadapan hadirin ketika melakukan sosialisasi Martabe, bahwa dirinya hanya berteriak-teriak tentang Martabe, sedang penggagasnya adalah Basyral Hamidy Harahap. <br />
<br />
Usai seminar bedah buku edisi Indonesia disertasi Dr. Lance Castles Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera: Tapanuli 1915-1940, seseorang mendatangi saya dengan mengatakan, bahwa Gubernur Sumatera Utara Raja Inal Siregar sering mengungkapkan bahwa Basyral Hamidy Harahap adalah penggagas Martabe.<br />
      <br />
<br />
<b>Pembangunan Sebagai Horja</b><br />
<br />
  Saya mengemukakan kepada Raja Inal Siregar, bahwa salah satu pendekatan yang pas untuk meraih partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa adalah dengan mengadopsi nilai-nilai yang terkandung dalam horja. Kata horja secara harfiah berarti kerja. Tetapi secara hermenetik (pemahaman makna), lebih bermakna daripada pengertian harfiah kerja. Masyarakat Batak memahami horja di dalam pengertian lahir dan batin.<br />
<br />
Suatu aktivitas yang bermakna horja adalah aktivitas ketika sedang berlangsung suatu upacara pesta menyatakan rasa syukur karena menerima anugerah hidup. Melangsungkan perkawinan di dalam masyarakat Batak adalah horja. Pesta kelahiran anak adalah horja. Membangun dan memasuki rumah baru adalah horja. Upaya gotong royong adalah horja. <br />
<br />
Di dalam melaksanakan horja, seluruh komponen Dalihan Na Tolu (DNT) turut mengambil bagian. Setiap unsur di dalam masyarakat berpartisipasi aktif. Mensukseskan horja adalah merupakan hak dan kewajiban. Bahkan warga masyarakat yang tidak diikutsertakan di dalam mensukseskan horja akan menuntut haknya untuk ikut, meskipun keikutsertaan itu sesungguhnya merupakan pengorbanan waktu, tenaga, dan dana. Namun pengorbanan di dalam mensukseskan horja adalah pengorbanan yang ikhlas dan tulus.<br />
<br />
Proses horja melibatkan seluruh aktivitas tatanan DNT. Kehadiran unsur-unsur DNT itu tampak jelas di dalam horja. Suhut (bahasa Toba dan Angkola Mandailing) adalah tuan rumah, orang yang mempunyai hajat untuk menyelenggarakan horja. Horja hanya dapat dilaksanakan apabila didahului musyawarah unsur-unsur DNT. Seluruh aktivitas horja haruslah berdasarkan kesepakatan bersama di dalam musyawarah DNT. Hak dan kewajiban setiap orang ditetapkan di dalam musyawarah DNT. <br />
<br />
Musyawarah DNT adalah upacara marhata di dalam masyarakat Toba, atau markobar dalam masyarakat Angkola Mandailing. Setiap orang yang ada di dalam majelis musyawarah itu memperoleh hak marhata, markobar untuk menyampaikan pendapatnya, tanggapannya dan pokok-pokok pikirannya. Berbicara menyampaikan pendapat adalah suatu jambar. Konsep jambar secara hermenetis adalah merupakan bagian yang harus diperoleh oleh seseorang di dalam setiap horja. Secara harfiah, jambar berarti sepotong daging yang dibagikan kepada setiap orang, sesuai dengan statusnya di dalam DNT. <br />
<br />
Jambar yang diberikan kepada hulahula /mora akan berbeda dengan jambar yang diberikan kepada dongan sabutuha / kahanggi, dan akan berbeda pula dengan jambar bagi boru / anak boru. Jambar wajib diberikan kepada setiap unsur. Jambar juga mencakup hak memberikan pendapat. Inilah yang disebut jambar hata.<br />
Berbicara mengemukakan pendapat, adalah hak bagi setiap orang. Meskipun pada akhirnya keputusan ada pada pihak hulahula / mora, tetapi mora atau hulahula wajib memberikan hak kepada siapa pun yang terlibat untuk menyampaikan buah pikirannya. Hak berbicara itu tetap diterima sekalipun merupakan ulangan atau persetujuan terhadap isi pembicaraan yang disampaikan oleh pembicara terdahulu. Setiap orang wajib mengutarakan pendapatnya. Inilah demokrasi yang tidak mungkin diliwatkan di dalam marhata atau markobar. <br />
<br />
Unsur lain selain dongan sabutuha / kahanggi, boru / anak boru, dan hulahula / mora adalah unsur cendekiawan, hatobangon, di kalangan masyarakat Angkola Mandailing, dan angka raja di dalam masyarakat Toba. Suara golongan cendekiawan ini harus didengar. Rekomendasi  mereka dalam proses pengambilan keputusan merupakan unsur penting dalam pengesahan keputusan. Mereka adalah anggota masyarakat yang dianggap mumpuni, yang dituakan, para cerdik cendekia. Termasuk dalam kelompok ini di dalam masyarakat Angkola Mandailing adalah unsur ulama dan Ompu ni Kotuk, ialah tokoh yang arif bijaksana, tempat bertanya dan meminta petuah. Kelompok ini dikenal di dalam masyarakat Toba sebagai raja-raja adat.<br />
<br />
Proses pengambilan keputusan di dalam horja selalu melibatkan unsur-unsur tersebut di atas. Sekalipun suhut atau yang mempunyai hajat untuk melaksanakan horja telah memiliki kata putus, tetapi suhut wajib mendengarkan pendapat seluruh pembicara dan mendengarkan seluruh hasil musyawarah. Dengan kata lain, suhut wajib mengadakan upacara marhata atau markobar itu. Seluruh keputusan yang diambil dalam musyawarah adat itu, harus dilaksanakan di dalam horja. Seluruh prosedur dan proses horja adalah seluruh prosedur dan proses yang telah dibicarakan dan disepakati di dalam marhata atau markobar.<br />
<br />
Pembangunan adalah horja.  Apapun prioritas pembangunan, setiap upacara yang dilakukan di dalam pembangunan seyogianya dilaksanakan di dalam pemahaman konsep horja. Para agen pembangunan haruslah mampu menangkap makna pembangunan sebagai horja di dalam penerapannya. Pembangunan yang didefinisikan secara operasional di dalam makna horja akan membangkitkan potensi partisipasi yang bersifat emansipatoris. Dengan demikian, warga masyarakat akan memberikan pengorbanan tanpa pamrih.<br />
<br />
Pemerintah adalah suhut yaitu unsur yang sedang melangsungkan horja pembangunan. Suhut sebagai tuan rumah yang mempunyai hajat melaksanakan pembangunan sebagai horja. Suhut mendengar semua pihak, memberikan hak kepada setiap orang untuk memberikan pendapatnya. Suhut  membuka peluang kepada unsur-unsur pimpinan non-formal, cerdik cendekia, pemuka masyarakat di dalam pengertian yang sebenar-benarnya sebagaimana horja dilakukan.<br />
<br />
Konsep pembangunan seperti itu layak dikembangkan oleh setiap agen pembangunan di wilayah Tapanuli, wilayah ekologi budaya Batak. Tanpa upaya seperti itu, maka pembangunan adalah instruksi dan menutup peluang kearah emansipasi. Revitalisasi kultural seperti itu layak dipertimbangkan untuk dilakukan oleh agen pembangunan di lingkungan ekologi budaya Batak khususnya di Tapanuli.    <br />
<br />
Revitalisasi unsur-unsur struktur sosial seperti itu jika dilaksanakan, akan lebih merupakan upaya untuk menggali potensi budaya dan sumber daya manusia, yang sebagai potensi, akan merupakan daya penggerak roda pembangunan yang dahsyat. Potensi itu akan memaknai pembangunan dalam pengertian manusia sebagai subyek dan obyek pembangunan sekaligus. Lagi pula, pembangunan akan berlangsung di dalam gagasan-gagasan yang tidak mengalami distorsi dan berlangsung di dalam pengertian kontekstual suatu proses humanisasi.<br />
<br />
Pembangunan sebagai suatu bentuk perubahan, di dalam batas-batas tertentu akan berlangsung dengan membangkitkan kesadaran kritis di dalam masyarakat. Kesadaran kritis bagi masyarakat Batak merupakan potensi yang tertanam di dalam seluruh tatanan hidupnya. Hal itu terwujud di dalam munculnya opini-opini, skeptisisme, hingga pada kenyinyiran. Pendeknya, kesadaran kritis berlangsung di dalam konteks yang positif hingga negatif.<br />
<br />
Potensi kesadaran kritis seperti itu membutuhkan suatu bisuk, wisdom, kearifan di dalam seluruh upaya-upaya pembangunan, tanpa meredam potensi kesadaran kritis tersebut. Penyaluran kesadaran kritis secara institusional adalah penyaluran di dalam kerangka kultural, dengan melihat seluruh proses kelembagaan budaya (baca adat). Markobar, marhata, adalah suatu lembaga adat tradisional yang di dalam kenyataannya, merupakan lembaga sosialisasi dari munculnya kesadaran kritis itu. Pendayagunaan lembaga tradisional untuk medium dari kesadaran kritis tersebut merupakan langkah yang patut dikembangkan.     <br />
<br />
Inilah sekelumit cerita tentang lahirnya gagasan Martabe. Uraian ini tidak menyangkut bagaimana liku-liku dan suka duka pelaksanaan Martabe, termasuk kegagalan dan kesuksesannya. Sebab tulisan ini hanya menyinggung latar belakang lahirnya gagasan Martabe. <br />
<br />
Semoga sumbangan gagasan Martabe ini bermanfaat bagi peningkatan kualitas kehidupan masyarakat Sumatera Utara. <br />
Raja Inal Siregar telah tiada, namun gerakan Martabe telah mencatatkan namanya dengan tinta emas dalam perjalanan sejarah Sumatera Utara.<br />
<br />
Rawamangun, 12 Desember 2007<br />
]]></description>
 <category>General</category>
<comments>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=30</comments>
 <pubDate>Tue, 25 Dec 2007 05:00:45 -0600</pubDate>
</item><item>
 <title><![CDATA[<b>GREGET TUANKU RAO</b>]]></title>
 <link>http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/index.php?itemid=29</link>
<description><![CDATA[<br />
<b>PROLOG</b><br />
<br />
<br />
Bercengkerama dengan Mangaraja Onggang Parlindungan (MOP) adalah pengalaman yang mengesankan. Saya pernah bertemu dengan MOP pada awal tahun 1970-an dalam perbualan di rumah abang saya Amir Husin Siregar di bilangan Tulodong Bawah, Jakarta Selatan. Hadir dalam perbualan itu Amir Husin Siregar, MOP dan Ir. Amru Baghwie. <br />
<br />
Ir. Amru Baghwie lahir dan besar dalam kalangan intelektual Sipirok. Ayahnya, Dr. Abdul Rasyid dan pamannya Abdul Firman gelar Mangaraja Soangkupon, adalah anggota Volksraad (Dewan Rakyat) di Batavia. Soangkupon, seorang yang terkenal di zaman pergerakan sebagai anggota Dewan Rakyat mewakili Sumatera Timur (Noer, 1996:180-181). Soangkupon, adalah anggota Perhimpoenan Indonesia di Negeri Belanda (Poeze:1986:75, 78, 80, 88, 281, 303), dan teman seperjuangan anak Betawi, Muhammad Husni Thamrin, yang sangat  gigih membela nasib kuli kontrak di Tanah Deli. <br />
<br />
Saya pernah membawa Lance Castles ke alamat ini untuk bertemu dengan Ir. Amru Baghwie, 1970, salah seorang nara sumber Lance Castles ketika menyiapkan disertasinya The Political Life of a Sumatran Residency: Tapanuli 1915-1940. <br />
Kelak Dr. Lance Castles meminta saya menulis Pengantar Edisi Indonesia disertasi yang dipertahankannya di Yale University pada tahun 1972 tersebut. Kepustakaan Populer Gramedia, menerbitkan Edisi Indonesia tahun 2001 di bawah judul Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera: Tapanuli 1915-1940. <br />
<br />
Hamka menggambarkan sosok MOP sebagai seorang yang suka berkopiah sampir (rasam) buatan Gorontalo, berpipa cangklong, bersarung dan bertongkat kecil (Hamka, 1974:18-19). Penampilan itu yang sering saya saksikan ketika bertemu beberapa kali dengan MOP.<br />
MOP pernah dengan wajah agak gusar, mengarahkan  tongkatnya yang berkepala gading ke arah dahi saya. Saya kaget, mengelak dan malu bukan kepalang. Pasalnya, saya ingin mengetahui perihal  polemiknya dengan Hamka di Harian Haluan tentang buku Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 1816-1833.  <br />
<br />
Mungkin MOP menilai saya tidak pantas ikut berbicara pada perbualan itu. Itulah kenangan saya terhadap MOP pada awal 1970-an. Sejak itu saya semakin tertarik kepada MOP, tertarik dalam arti tidak ingin mengenalnya lebih dekat. <br />
<br />
Antara tahun 1974-1976 saya beberapa kali bertemu dengan Hamka di kediamannya. Dalam satu kesempatan, Hamka memperlihatkan surat MOP. Isinya tentang pernyataan MOP menarik diri dari polemik dengan Hamka. Alasannya, karena kurang sehat, lagi pula harus bekerja keras mencari uang untuk membiayai anak-anaknya. Sehingga MOP tidak mempunyai waktu untuk meladeni polemik dengan Hamka. Ketika itu buku Antara Fakta dan Khayal “Tuanku Rao”: Bantahan terhadap tulisan-tulisan Ir. Mangaradja Onggang Parlindungan dalam bukunya  “Tuanku Rao” baru saja terbit.<br />
<br />
Pada tahun 1976, 12 tahun setelah buku Tuanku Rao terbit, saya bertanya kepada Muhammad Radjab Lubis gelar Sutan Ranggasoli, salah seorang anggota Petisi 50, yang saya kenal gemar membaca bahan-bahan sejarah dan politik, apakah ia sudah membaca buku Tuanku Rao. ”Itu kan cuma turi-turian. Buat apa saya membuang waktu membaca buku seperti itu” katanya singkat. <br />
<br />
Saya berpendapat, kendati buku Tuanku Rao hanyalah turi-turian perlu juga dibaca, siapa tahu ada butir-butir berharga dari kisah MOP itu.<br />
Komunitas Bambu meminta saya m